Monthly Archives: Desember 2013

runtuhnya argumen liberal perusak martabat wanita

Standar

Negara-negara Barat yang mengaku paling menjunjung tinggi kebebasan (demokratis) sekarang mencampuri urusan khusus internal kita, Jika Amerika benar-benar jujur dengan dirinya dalam hal kebebasan, mestinya mereka membiarkan kita dengan kebebasan (prinsip) kita..

Seorang wartawan Amerika datang & bertanya pada saya: “Bagaimana tentang masuknya kaum wanita ke parlemen, dan bagaimana tentang wanita menyetir mobil (yg tidak diperkenankan di Saudi)..???”

Maka saya jawab:
Pertama, apakah kaum wanita kami mengadu kepada anda? Sehingga anda mencampuri urusan kami? Mengapa anda (lancang) mencampuri urusan kami?. Itu pertanyaan pertama.

Kedua, saya Tanya pada anda: “Bukankan presiden Amerika waktu masih muda menyetir mobil sendiri?”.. Dia jawab: “Ya betul”. “Lalu ketika menjadi gubernur negara bagian juga kadang masih nyetir mobil?” Dia jawab: “ya”. “Tetapi setelah menjadi presiden Amerika apakah sang presiden nyetir mobil sendiri?”, dia jawab: “Tidak”.
Saya Tanya: “Mengapa?”..dia jawab: “Sebagai bentuk penghormatan dan penjagaan kami padanya”.

Maka saya katakan padanya: (Itulah yang kami lakukan pada kaum wanita kami) Kami menyopiri wanita kami sebagai bentuk penjagaan & penghormatan kepada kaum wanita kami.

Saya menyopiri saudara perempuan, istri dan anak-anak perempuanku.. kemudian realita jika kami dalam perjalanan.. jika saya kembali ke KSA dengan pesawat dan bersama kami para wanita apa yang terjadi?: laki-lakilah yang melayani wanita. Dialah yang mendampingi mereka, dia yang menjaganya dan melayaninya serta membawakan tasnya.

Dalam realitas kehidupan kami, jika safar –tanpa melebih lebihkan- sekitar 70 – 80% kamilah yang melayani keperluan para istri kami: dalam menyetir mobil, keperluan di hotel, mencari hotel, bahkan dalam haji kamilah yang memasak dan mereka tinggal memakannya. Itu adalah fakta yang diketahui semua orang, .. dan sesungguhnya ini adalah bentuk pelayanan/ khidmah (kami kepada kaum wanita).

Lalu saya meledek wartawan Amerika itu: “Anda bilang (Amerika paling) menghormati wanita dan mempertanyakan tidak masuknya wanita kami ke parlemen, sejak kapan Amerika merdeka?” –dia jawab: lebih dari 200 tahun- “kalau begitu tunjukkan kepada saya SATU saja presiden Amerika yang wanita”… dia jawab: “gk ada satu pun” . Saya bilang: “Kalo gk ada, Wakil presiden yang wanita .. ??” . Dia jawab: “Nggak ada juga ..”.

Saya bilang padanya: “Kalian itu sebenarnya pendusta” (Cuma omong doang).. Beritahukan pada saya, dalam sejarah konggres (sejak dulu sampai sekarang) kapan ada masa dimana jumlah wanita sama dengan jumlah laki-laki?.. dia jawab: belum pernah ada sekalipun. (Hadeeeeuh –pentrjemah) “Kalian Cuma memasukkan beberapa wanita saja (ke parlemen) trus mentertawakan kami ???”….

**Syekh Nashir Al-‘Umar dalam seminar bertema: Kesepakatan dan Muktamar Wanita Internasional dan Dampaknya terhadap Dunia Islam#

Iklan

dialog syekh albani dg pembesar sufi

Standar

Lebih dari dua puluh tahun lalu, ketika Syaikh Nashiruddin Al-Albani rohimahulloh baru datang ke Amman, beliau ditanya oleh salah seorang pembesar Sufi. Dalam pembicaraan via telepon tersebut, Syaikh Al-Albani mendapat teguran keras dari si penelepon.

Penelepon : “Wahai Syaikh Nasir, sungguh aneh. Seharusnya anda lebih beradab!”

Syaikh Albani : “Apa yang ada pada anda wahai Syaikh Fulan?”

Penelepon : “Karena anda dan murid-murid anda mengkafirkan kaum muslimin”

Syaikh Albani : “Kami?”

Penelepon : “Iya, benar”

Syaikh Albani : “Saya akan bertanya sesuatu kepada anda”

Penelepon : “Silahkan”

Syaikh Albani : “ Apa pendapat anda tentang seorang laki-laki yang berdiri di depan kubur, kemudian mengucapkan niat dengan keras :”saya berniat sholat dua rokaat untuk penghuni kubur ini”

Penelepon : “orang ini kafir dan juga musyrik”

Syaikh Albani : “Adapun kami, kami tidak mengatakan kafir dan musyrik. Kami katakan bahwa orang tersebut adalah orang yang jahil, dan kami akan mengajarinya. Berarti siapa yang mengkafirkan manusia wahai Syaikh Fulan? kami atau anda?”

syubhat pecinta tahlilan

Standar

 

 

 

 

syubhat :”Dari Sufyan berkata: “Thawus berkata: “Sesungguhnya orang yang mati akan diuji di dalam kubur selama tujuh hari, karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan sedekah makanan selama hari-hari tersebut.”
————————————————————————————————
Hadis ini di komentari oleh tokoh WAHABI >>>>Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-‘Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:
Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230)
—————————————————————————————————–
JAWABAN NU :
Maaf pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq.

Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut:

“Para perawi sanad tersebut adalah para perawi hadits shahih. Thawus termasuk pembesar tabi’in. Sedangkan Sufyan al-Tsauri telah mengikuti masa Thawus. Karena Thawus wafat tahun 110 lebih, dalam salah satu pendapat. Sedangkan kelahiran Sufyan, tahun 97. Hanya saja sebagian besar riwayatnya dari Thawus melalui perantara.”.

komentar : imam as-suyuti cuma mengatakan mereka satu masa bukan ada pertemuan keduanya..
ahkan ia (Sufyaan) belum keluar dari negerinya (Kuufah).
أَخْبَرَنَا ابن رزق، قال: أَخْبَرَنَا عثمان بن أحمد، قال: حَدَّثَنَا حنبل بن إسحاق، قال: قال أبو نعيم: خرج سفيان الثوري من الكوفة سنة خمس وخمسين ومائة ولم يرجع، ومات سنة إحدى وستين ومائة، وهو ابن ست وستين فيما أظن
Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Rizq, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Utsmaan bin Ahmad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hanbal bin Ishaaq, ia berkata : Telah berkata Abu Nu’aim (Al-Fadhl bin Dukain) : “Sufyaan Ats-Tsauriy keluar dari Kuufah pada tahun 155 H, dan kemudian ia tidak kembali lagi. Ia meninggal tahun 161 H dalam usia 66 tahun sebagaimana yang aku kira” [Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad, 10/242 – biografi Sufyaan Ats-Tsauriy].
Sanad riwayat ini shahih, semua perawinya tsiqaat.
Dan ana akan menambahkan bahwa pendapat yang dipegang oleh As Suyuuthiy bahwa Thaawus wafat antara tahun 113-119 H sebenarnya sudah dibantah oleh Adz Dzahabiy dalam As Siyar,

لا رَيْبَ فِي وَفَاةِ طَاوُسٍ فِي عَامِ سِتَّةٍ وَمِائَةٍ، فَأَمَّا قَوْلُ الْهَيْثَمِ: مَاتَ سَنَةَبِضْعَ عَشْرَةَ وَمِائَةٍ فَشَاذٌّ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Tidak ada keraguan tentang wafatnya Thaawus pada tahun 106 H, adapun perkataan Al Haitsam: “Wafat antara tahun 113-119 H”, adalah pendapat yang syaadz. Wallaahu a’lam. [As Siyar 9/50]

 

 

 

TIPU MUSLIHAT SYIAH MELALUI HEMFER

Standar

Pihak yang merasa paling terancam dengan dakwah Syaikh adalah kelompok Rafidhah yang dakwahnya penuh dengan kesyirikan dan mengajak kepada pemujaan kuburan serta meminta kepada imam-imam mereka. Lalu mereka mengarang sebuah diary (catatan harian) yang dinisbatkan kepada mata-mata Inggris yang mereka beri nama Hemfer. Dalam tulisan itu disebutkan bahwa Syaikh dan dakwahnya adalah kacung dan cecunguk Inggris. Fakta dan kenyataan sejarah justru memastikan bahwa orang-orang Rafidhahlah yang selalu menjadi antek Yahudi, Salibis dan Paganisme (penyembah berhala) hingga hari ini untuk memerangi agama Allah yang hak dan para pemeluknya. Mereka adalah pengkhianat yang selalu berusaha memfitnah orang-orang terhormat dengan berbagai fitnah keji sebagaimana diketahui semua orang. Para penganut Rafidhah telah menjadi antek musuh-musuh Islam sejak zaman Ibnu al-Alqami sang konspirator yang menjalin hubungan dengan pasukan Tattar untuk menjatuhkan Baghdad kepada bangsa Mongol sampai peristiwa penggempuran Irak oleh tentara salibis multinasional pimpinan Amerika pada tahun 2003 M. Tidak ada dakwah yang terang-terangan menguliti borok-borok Rafidhah seperti Dakwah Salafiah yang sudah biasa dicap oleh orang-orang yang menyelisihinya dengan sebutan “Wahhabi”. Padahal Dakwah Salafiah ini mengajak umat agar kembali kepada sumber asli, al-Qur`ān dan Sunnah Nabi sesuai dengan pemahaman dan pengamalan para salafuṣ ṣāliḥ. Inilah yang dapat membasmi seluruh kebatilan Rafidhah atau kelompok menyimpang lainnya. Adapun isi dari diary palsu tersebut, kesimpulannya ialah menceritakan tentang seorang mata-mata Inggris yang pura-pura masuk Islam untuk memecah belah kaum muslimin dengan menyebarkan faktor-faktor yang dapat memicu timbulnya perpecahan tersebut. Mata-mata rekaan tersebut, Hemfer, dalam misinya itu berkenalan dengan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhāb di kota Bashrah, Irak. Pada saat itu Ibnu Abdil Wahhāb adalah seorang pemuda liberal. Mata-mata Inggris tersebut kemudian merekrutnya menjadi mata-mata guna memuluskan rencana Inggris merusak Islam dan kaum muslimin. Semua kebatilan yang difitnahkan kepada syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang tertulis dalam diary palsu itu dengan mudah tersingkap kepalsuannya dan telah dibantah oleh para peneliti yang adil (bukan hanya dari kalangan Muslim). Di antara bukti yang menunjukkan kebatilan dan kebohongan di balik catatan harian itu, dan bukti bahwa si mata-mata Hemfer hanyalah rekaan atau karangan semata, antara lain, ialah: 1- Tidak ada naskah asli diary berbahasa Inggris Inggris tersebut; Penyebar isu menyebutkan bahwa diary itu ditulis dalam bahasa Inggris sebelum diterjemahkan dalam bahasa Arab. Bahkan sekedar informasi ada tidaknya catatan harian dimaksud pihak Inggris sendiri tidak memiliki informasi sama sekali. 2- Tidak ada informasi tentang jati diri penulis diary palsu tersebut, termasuk dari pihak Inggris sendiri. 3- Penerjemah bersembunyi dibalik nama samaran dan yang ditulis hanya huruf-huruf yang sama sekali tidak menunjukkan seseorang yang dikenal. 4- Tidak ada sedikitpun petunjuk tentang keberadaan diary (catatan harian) ini dalam buku-buku rujukan yang ditulis oleh para peneliti tentang kemunculan dan fenomena Dakwah Salafiah yang diusung oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, baik yang ditulis oleh peneliti muslim maupun non muslim. Mustahil karya-karya ilmiah tidak memuat informasi penting seperti ini. 5- Semua yang tertulis dalam karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bertolak belakang dengan apa yang tertulis dalam diary jadi-jadian tersebut. 6- Dalam diary itu tertulis bahwa Menteri penjajahan Inggris mengutus Hemfer pada tahun 1710 M ke Mesir, Irak, Hijaz, dan Taheran. Padahal sama-sama kita ketahui dengan pasti bahwa pada waktu itu Inggris belum memiliki menteri penjajahan. 7- Penulis diary menyebut kekaisaran Inggris sebagai yang matahari tidak tenggelam darinya (jaya). Padahal pada waktu itu Inggris belum menyandang julukan tersebut, karena Inggris baru dapat merebut India pada tahun 1819 M, Burma tahun 1824M, China tahun 1842 M, dan Mesir tahun 1882 M . 8- Hemfer mengaku bertemu dengan syaikh pada tahun 1713 M. Padahal usia beliau pada saat itu belum genap sepuluh tahun. 9- Para peneliti telah meneliti dalam arsip-arsip ensiklopedia dan manuskrip Inggris yang ditulis semenjak sekitar 300 tahun lalu, tetapi tidak ditemukan diary tersebut, begitu juga dengan informasi tentang Hemfer yang diisukan sebagai penulis diary. Sungguh disayangkan ternyata tipu muslihat Rafidhah ini ditelan mentah-mentah oleh beberapa kalangan umat Islam sendiri yang juga merasa terusik kepentingannya dengan dakwah Syaikh lalu melabelkan hal yang sama kepada beliau dan dakwahnya. Padahal, pada hakikatnya dakwah Syaikh berasaskan pada pemurnian tauhid serta mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata berdasarkan apa yang disyari’atkan Allah dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasululullah, meninggalkan bid’ah dan maksiat serta menegakkan Islam yang telah ditinggalkan penganutnya. Dua imam tersohor di Yaman yaitu Imam aṣ-Ṣan’āni (penulis kitab Subulussalām) dan asy-Syaukani memberikan pujian yang harum kepada beliau. Imam aṣ-Ṣan’āni memuji Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam bait syair yang indah karena beliau telah melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta memuji ketakwaan dan keilmuan Syaikh yang luas dalam sebuah surat yang dikirim pada tahun 1163 H. Asy-Syaukani dalam kitabnya menyebut beliau sebagai al-Badr aṭ-Ṭāli’ bi Maḥāsin min ba’di al-Qarn as-Sābi’. Pada tahun 1215 H dua jilid kitab sampai kepada beliau kiriman dari Syaikh. Salah satu jilidnya mencakup risalah Muhammad bin Abdul Wahhab yang semuanya menekankan untuk ikhlas dalam mengesakan Allah, dan menjauhkan diri dari syirik yang banyak dilakukan oleh para pemuja kubur. Risalah itu adalah risalah yang sangat bagus karena didasari pada dalil dari al-Qur`an dan Sunnah. Imam asy-Syaukani menulis lebih dari seratus bait syair yang sangat menyentuh mengungkapkan belasungkawa atas wafatnya syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Di antara ulama yang juga memuji Syaikh adalah ulama Hadits dari India Muhammad Basyir as-Sahwani dalam kitabnya “Ṣiyānah al-Insan ‘an Waswasah asy-Syaikh Dahlan”. Dalam kitab itu dia menulis, “Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) tidak dikenal darinya satu perkataanpun yang menyendiri dari ulama lain dan tidak pula dari Ahlussunnah waljama’ah. Seluruh perkataannya dalam bab ini, maksud saya apa yang beliau dakwahkan berupa tauhid asmā` wa ṣifāt dan tauhid dalam amal serta ibadah merupakan perkara yang telah disepakati kaum muslimin. Tidak ada yang menyelisihi masalah tersebut selain orang yang keluar dari golongan mereka (Ahlussunnah) dan menyimpang dari manhaj mereka, seperti Jahmiyyah, Mu’tazilah dan para penyembah kubur ekstrim. Bahkan apa yang beliau sampaikan adalah perkara yang disepakati oleh para Rasul dan Kitab-Kitab yang diturunkan. Sebagaimana hal itu diketahui oleh orang-orang yang telah mengenal baik apa yang beliau dakwahkan”. Di antara ulama yang memuji cucu-cucu Syaikh dan para pengikutnya adalah al-‘Allāmah al-Jabrati, sejarawan Mesir yang terkenal. Dia memuji cucu Syaikh dan para pengikutnya dalam bukunya “’Aja’ib al-Aṡar”. Demikian juga dengan al-‘Allāmah Nu’man Khairuddin al-Umawi, al-‘Allāmah Mahmud Syukri al-Alūsi dan al-Amir Syukaib Arislan dan ulama-ulama lain yang mengkaji kitab-kitab Syaikh secara objektif. Ini menjelaskan bahwa akidah Syaikh sama dengan akidah salafuṣ ṣhalih yang mengalir dari sumber yang murni dan mengikuti para imam, seperti Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad, Sufyan, al-Laiṡ, al-Auzā’i dan orang-orang selevel mereka. Akan tetapi, sudah menjadi tabiat manusia ketika ada sesuatu tidak sejalan dengan kesukaan dan kebiasaan yang telah berlaku umum mereka akan memusuhinya, Allah berfirman: وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ “Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau antusias akan hal itu”. (Q.S. Yusuf: 103). Dan Allah berfirman: أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلا “Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan manusia mendengar atau mengerti (kebenaran), sungguh mereka tidak obahnya seperti binatang ternak bahkan lebih sesat dari mereka”. (al-Furqan: 44). Juga firman Allah: كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ “Demikianlah, tidaklah diutus seorang rasul pun sebelum mereka melainkan mereka mengatakan tentangnya ‘seorang penyihir’ atau ‘orang gila’”. (Q.S. adz-Dzariyat: 52). Dalam shahih Bukhari disebutkan bahwa Waraqah bin Naufal berkata pada Nabi “Tidak seorang pun datang menyampaikan seperti yang engkau bawa melainkan dia akan dianiaya. Jika aku hidup sampai pada waktu itu maka aku akan menolongmu dengan pertolongan yang besar”. Inilah yang dapat saya sampaikan secara ringkas, sesungguhnya kami hanya mengajak umat untuk mengikuti akidah yang benar, mengikuti al-Qur`an dan Sunnah yang sahih bukan mengajak umat untuk mengikuti Muhammad bin Abdul Wahhab. Jika kami katakan bahwa apa yang beliau tulis dalam buku-bukunya adalah merupakan kebenaran, itu karena kami menemukan kesesuaiannya dengan al-Qur`an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salafush shalih. Demikian pun kami tidak menjadikan beliau sebagai landasan dalam dakwah kami, karena sumber rujukan kami adalah al-Qur`an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salafush shalih seperti Imam Syafi’i dan Imam-imam Ahlussunnah lainnya. Oleh karena itu, kami berharap ketersinggungan dan ketidaksukaan kita kepada beliau, lantaran apa yang disampaikannya bertentangan dengan apa yang selama ini kita yakini dan amalkan, janganlah hendaknya sampai menghalangi kita untuk berpikir kritis dan objektif dengan tuntunan al-Qur`ān dan Hadits; supaya kita tidak terjebak pada sikap dan tindakan memusuhi sesuatu yang ternyata benar. Oleh sebab itu kita berkewajiban menyampaikannya pula kepada saudara-saudara kita dengan cara yang baik dan penuh hikmah dan kesabaran walaupun mereka mencela dan menisbatkan cerita-cerita palsu pada Syaikh. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita dan mereka semua, semoga Allah memperbaiki hati-hati kita serta menyatukan kalimat kita, sungguh Dia Maha Kuasa atas hal itu. Wallāhu a’lam.

syubhat pencela adz-dzahabi

Standar

syubhat :Wahai sobat q sekalian,, baik dari Aswaja atau dari sekte kebanggaanku ‘WAHABI’.. Ente semua tahu Imam Adz-Dzahabi …?! yup’s.. beliau Ulama pilih tanding & bahkan oleh Syaik kami dari sekte Wahabi ,beliau Imam Adz-Dzahabi dijadikan rujukan sob…(keren kan ) Tapi aneh-nya sob..beliau Imam Adz-Dzahabi dalam kitab yg masyur ” Siyar A’lam an-Nubala’ ” malah mengajarkan & meriwayatkan hal2 syirik & bidah khurafat sepeti Tabaruk mencari berkah di-kuburan orang shaleh,,, Waduuuuh….. menuru ente semua sob.. yang koplak syaik ane dari Wahabi atau Imam Ad-Dzahabi yg selama ini kami (wahabi) jadikan rujukan.
Lihat neh di-kitab beliau sob : Doa itu MUSTAJAB (BILA DIBACA) DI SISI MAKAM PARA NABI DAN WALI, juga di beberapa tempat yang lain. Namun penyebab terkabulnya doa adalah hadhirnya hati orang yang berdoa, kekhusyuka nya, dan TIDAK DIRAGUKAN LAGI DI TEMPAT-TEMPAT YANG DIBERKATI, di masjid, saat sahur dan sebagainya dimana doa akan lebih banyak didapat oleh pelakunya. Dan setiap orang yang sangat membutuhkan maka doanya akan diijabahi” (al-Hafidz adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ 17/77)
jawab : antum gak faham perkataan adz-dzahabi,itu adalah bantahan perkataan sebelumnya,lihat selengkapnya:
قَالَ:وَرَأَيْتُ لَهُ كِتَاب(السُّنَن)، وَ(مُعْجَم الصَّحَابَة)، مَا رَأَيْتُ أَحْسَنَ مِنْهُ، وَالدُّعَاءُ عِنْد قَبْرِهِ مُسْتَجَابٌ وُلِدَ سَنَةَ ثَمَانٍ وَثَلاَثِ مائَةٍ، وَمَاتَ فِي رَبِيْعٍ الآخِرِ، سَنَة ثَمَانٍ وَتِسْعِيْنَ وَثَلاَثِ مائَةٍ.(17/77)
وَقَالَ الحَسَنُ بنُ عَلِيِّ بنِ بُنْدَار الرَّنْجَانِيّ الفَرَضِيّ:مَا رَأَيْتُ قَطُّ مِثْلَ ابْنِ لاَل – رَحِمَهُ اللهُ – .
قُلْتُ:وَالدُّعَاءُ مُسْتَجَاب عِنْد قُبُوْر الأَنْبِيَاء وَالأَوْلِيَاء، وَفِي سَائِر البِقَاع، لَكِن سَبَبُ الإِجَابَة حُضُورُ الدَّاعِي، وَخُشُوعُهُ وَابتِهَاله، وَبلاَ رَيْبٍ فِي البقعَةِ المُبَارَكَة، وَفِي المَسْجَدِ، وَفِي السَّحَر، وَنَحْوِ ذَلِكَ، يَتَحَصَّلُ ذَلِكَ للدَاعِي كَثِيْراً، وَكُلُّ مُضطر فَدُعَاؤُه مُجَابٌ
perhatikan : doa dikabulkan di dekat makam para Nabi dan wali, juga di beberapa tempat. NAMUN penyebab terkabulnya doa adalah konsentrasi orang yang berdoa dan kekhusyukannya. Dan tidak diragukan lagi di tempat-tempat yang diberkati, di masjid, saat sahur dan sebagainya. Doa akan lebih banyak didapat oleh pelakunya.

ane yakin ente faham apa fungsi kalimah لَكِن

berarti yg ditegaskan kalimat sesudah atau sebelumnya ?
hanya orang yang gak faham bahasa arab yg bisa tertipu

bahkan Adz Dzahabi membawakan perkataan dari Ibrahim Al Harbi yang berbunyi:

قبر معروف الترياق المجرب

Kuburan Ma’ruf Al Kharki adalah obat yang mujarab

Adz Dzahabi rahimahullah mengomentari:

يريد إجابة دعاء المضطر عنده، لأن البقاع المباركة يستجاب عندها الدعاء، كما أن الدعاء في السحر مرجو، ودبر المكتوبات، وفي المساجد بل دعاء المضطر مجاب في أي مكان اتفق

Yang dimaksud adalah terkabulnya doa di samping kuburnya. Karena sebidang tanah yang diberkahi membuat doa dikabulkan di sana. Sebagaimana doa di waktu sahur dikabulkan, juga doa di ujung shalat, doa di masjid bahkan doa dalam keadaan terdesak akan dikabulkan dimanapun tempat yang disepakati

Read the rest of this entry