Monthly Archives: November 2013

Apa kata Imam Asy Syafi’i tentang adzan jum’at2 kali ?

Standar

[قَالَ الشَّافِعِيُّ]: وَأُحِبُّ أَنْ يَكُونَ الْأَذَانُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حِينَ يَدْخُلُ الْإِمَامُ الْمَسْجِدَ وَيَجْلِسُ عَلَى مَوْضِعِهِ الَّذِي يَخْطُبُ عَلَيْهِ خَشَبٌ، أَوْ جَرِيدٌ أَوْ مِنْبَرٌ، أَوْ شَيْءٌ مَرْفُوعٌ لَهُ، أَوْ الْأَرْضُ فَإِذَا فَعَلَ أَخَذَ الْمُؤَذِّنُ فِي الْأَذَانِ فَإِذَا فَرَغَ قَامَ فَخَطَبَ لاَ يَزِيدُ عَلَيْهِ

Imam Asy-Syafi’i berkata: “Dan aku sukai bahwa Adzan pada hari jum’at adalah ketika imam masuk kedalam masjid dan duduk diatas tempatnya yakni tempat ia hendak berkhutbah yang terbuat dari kayu. atau mimbar atau sesuatu yang dapat menjadikannya tinggi, atau tanah. Maka apabila telah selesai (imam naik keatas mimbar) hendaklah Muadzin mengumandangkan adzan dan apabila selesai adzan tersebut hendaklah imam berkhutbah tanpa ada tambahan lain.”

وَأُحِبُّ أَنْ يُؤَذِّنَ مُؤَذِّنٌ وَاحِدٌ إذَا كَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ لاَ جَمَاعَةُ مُؤَذِّنِينَ أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ: أَخْبَرَنِي الثِّقَةُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ الْأَذَانَ كَانَ أَوَّلُهُ لِلْجُمُعَةِ حِينَ يَجْلِسُ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ فَلَمَّا كَانَتْ خِلاَفَةُ عُثْمَانَ وَكَثُرَ النَّاسُ أَمَرَ عُثْمَانَ بِأَذَانٍ ثَانٍ فَأُذِّنَ بِهِ فَثَبَتَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

Beliau melanjutkan: “Dan aku sukai bahwa muadzin mengumandangkan adzan seorang diri apabila ia (imam) telah diatas mimbar, dan tidak boleh mengumpulkan dua muadzin.” Telah mengabarkan kepada kami Ar-Rabi’ ia berkata; Telah mengabarkan kepada kami Asy-Syafi’i ia berkata; telah mengabarkan kepada kami secara tsiqah (terpercaya) dari Az-Zuhri dari Saib bin Yazid bahwa Adzan pertama kali untuk jum’at adalah ketika imam telah duduk diatas mimbar, ini pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan Abu Bakar dan Umar, kemudian pada masa khalifah Utsman sedangkan saat itu manusia telah banyak maka Utsman memerintahkan untuk mengadakan adzan kedua, maka terjadilah adzan (kedua) pada masa itu, dan menjadi baku-lah hal itu.

[قَالَ الشَّافِعِيُّ]: وَقَدْ كَانَ عَطَاءٌ يُنْكِرُ أَنْ يَكُونَ عُثْمَانُ أَحْدَثَهُ وَيَقُولُ أَحْدَثَهُ مُعَاوِيَةُ، وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.

Berkata Imam Asy-Syafi’i: Dan sesungguhnya ‘Atha mengingkari (tidak menyetujui) perbuatan itu bahwa Utsman telah melakukan perbuatan muhdats (baru) akan tetapi ia (‘Atha) berkata bahwa Mu’awiyahlah yang melakukan perbuatan muhdats itu. Wallahu Ta’ala a’lam.

قَالَ الشَّافِعِيُّ]: وَأَيُّهُمَا كَانَ فَالْأَمْرُ الَّذِي عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَحَبُّ إلَيَّ

Berkata Asy-Syafi’i: “Yang mana saja, dari kedua hal itu (pada masa Utsman atau Muawiyah) maka Apa yang terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu’Alaihi wasallam lebih aku sukai. (yakni adzan sekali)(Kitab Al-Umm Juz I, Kitab Shalat, Bab Kewajiban Jumat)

3 SYUBHAT KAUM PEROMBAK SUNNAH

Standar

1.Bagaimana kalian sholat seandainya ada yang mengulang-ulang al-ikhlash dalam salat sedangkan itu perkara bid`ah dan bid`ah katanya semua sesat ?? ingat dan catat ini perbuatan Kaltsul bin Hadm. Ini tidak dilarang Rasulullah walau bukan beliau memulainya. Dan bukan pula beliau yang pertamakali mencontohkannya

وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى لُزُومِ هَذِهِ السُّورَةِ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فَقَالَ إِنِّى أُحِبُّهَا فَقَالَ حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ (رواه البخارى 774

2. Bagaimana kalian sholat seandainya tanpa bacaan tasyahhud “”wahdahu laa syariika lahuu wa anna muhammadan abduhu wa rasuuluhu dst dst.. Sedangkan bacaan tasyahhud itu perkara bid`ah,urusansyariat dan bidah katanya semua sesat ?? dan catat juga kalimat ini juga do`a sholawat dan salam kepada Rasulullah sedangkan beliau sudah tiada. katanya do`a itu tidaksampai….Nah Apakah kalian tinggalkan ?? ingat dan catat ini perbuatan pertama kalinya oleh Abdullah bin Umar. pengumpul dan penyusun quran selain Zeyd bin Tsabit ra atas printah khalifah hingga jadi seperti sekarang ini. Apakah beliau ini tidak paham quran dan hadits dan yang lebih paham nurut kalian adalah muhammad bin abdul wahab soal bid`ah??
Ini tidak dilarang Rasulullah walau bukan beliau memulainya. Dan bukan pula beliau yang pertama kali mencontohkannya

قَالَ ابْنُ عُمَرَ زِدْتُ فِيهَا وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ (رواه أبو داود رقم 826). قال الالباني : إسناده صحيح وكذا قال الدارقطني وأقره الحافظ العسقلاني . اهـ صحيح أبي داود (4/125

3. Bagaimana kalian haji seandainya tidak membaca bacaan talbiyah “labbaika allahummalabbaika, labbaika wa sa’daika wa al-khairu bi yadaika wa ar-raghba’ ilaika waal-‘amal dst dst yang sering berkumandang itu.sedangkan bacaan talbiyah itu perkara bid`ah ,urusan syariat dan bid`ah katanya semua sesat ?? Apakah kalian tinggalkan ?? ingat dan catat ini perbuatan pertama kalinya oleh Abdullah bin Umar . Ini tidakdilarang Rasulullah walau bukan beliau memulainya. Dan bukan pula beliau yangpertama kali mencontohkannya
وَكَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَزِيدُ فِيهَا لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ (صحيح مسلم رقم 2029

JAWABAN
1. Perbuatan tersebut pada asalnya dilaporkan kepada Nabi karena mereka menganggap bahwa perkara tersebut dilarang, jadi para sahabat memiliki keyakinan bahwa hukum asal suatu syari’at adalah tidak disyariatkan hingga ada dalil yang menyatakannya. Setelah Nabi mentakrirnya maka hal tersebut diperbolehkan. Perlu diketahui pula bahwa Nabi pun, berdasarkan hadits ‘Aisyah, sering mengulang-ulang doa dan dzikir dalam shalat, demikian pula banyak dari ulama salaf, semisal Abdullah bin Mas’ud, serta para ulama dari kalangan tabi’in, mengulang2 surat atau ayat. Jadi memang bukan bid’ah karena ada sunnahnya dari Nabi dan para sahabat, bukan bid’ah.
2. Tasyahhud, memang berasal dari Nabi :
وأخرج مسلم وأبو داود وابن ماجه عن أبي موسى الأشعري قال: قال رسول الله : “… وإذا كان عند القعدة فليكن من أول قول أحدكم: التحيات الطيبات الصلوات لله، السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته، السلام علينا، وعلى عباد الله الصالحين، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.

http://ar.wikipedia.org/wiki/%D8%A7%D9%8…
Perhatikan perkataan Ibnu ‘Umar, yang beliau tambahkan adalah wahdahu laa syariika lahuu, bukan tasyahud itu sendiri, akan tetapi tambahan beliau memang sudah diajarkan oleh Nabi kepada para sahabat.
doa selalu sampai bila terpenuhi syarat-syarat diterimanya doa.
Ketika mengumpulan Al-Qur`an pun mereka awalnya berselisih, namun kemudian mereka sepakat, dan pengumpulan Al-Qur`an bukan bid’ah karena pada masa Nabi, para sahabat pun mengumpulkan Al-Qur`an hanya saja belum menjadi satu kesatuan, mereka pun menulis hadits, jadi menulis dan mengumpulkan Al-Qur`an dan hadits memang pada asalnya merupakan sunnah Nabi dan Khulafaurrasyidin.
3. Lafadh labbaik yang ditambahkan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar adalah warragha ilaika wal ‘amal, jadi talbiah asalnya dari Nabi. Dan talbiah ‘Abdullah bin ‘Umar sendiri menukil dari ‘Umar bin Al-Khaththab, jadi Anda keliru dalam ucapan bahwa lafadh yang ‘Abdullah bin ‘Umar bawakan awalnya oleh Ibnu ‘Umar, bahkan dari ‘Umar, berarti termasuk sunnah khulafaurrasyidin, bukan bid’ah : http://www.islam2all.com/hadeeth/moslem/…http://www.google.com/imgres?safe=off&hl=id&bih=461&biw=1024&tbm=isch&tbnid=8kKTUIxhPc_RvM:&imgrefurl=http://www.mencintaisederhana.com/2013/02/bedakan-bidah-hasanah-dan-bidah-sayyiah.html&docid=JbSbydLclrn7GM&imgurl=http://2.bp.blogspot.com/-bEgX_Id8_qk/URg8PwwrOUI/AAAAAAAAFj4/iMKGM9iy8rE/s640/fitnah-Islam1.jpg&w=481&h=306&ei=xkyQUsj3M8e4rgeI_IDYDg&zoom=1&iact=rc&page=3&tbnh=162&tbnw=255&start=23&ndsp=13&ved=1t:429,r:31,s:0&tx=95&ty=98

bid’ah hasanah cuma agak sesat ???

Standar

Suka · · Promosikan · Bagikan
Ustadz Thoyib
11 November
Taruhlah jika mereka tetap kekeuh bahwa tidak setiap bid’ah adalah sesat. Maka bagaimanakah mereka jika dihadapkan dengan lafazh hadits berikut?

كل بدعة ضلالة و كل ضلالة في النار

..wa kullu bid’atin dhålaalah, wa KULLU DHÅLAALATIN finn-naar

“Setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”

[HR. An-Nasa-i (III/189) dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang SHÅHIH]

Maka dengan mengganti arti “KULLU” dengan ‘sebagian’, maka makna hadits diatas akan menjadi:

“SEBAGIAN bid’ah adalah kesesatan, dan SEBAGIAN KESESATAN tempatnya di neraka”

Maka kita tanyakan: “Apakah ada kesesatan yang membawa ke surga?” Allåhul musta’aan, cukuplah ini menjadi hujjah yang nyata bagi orang-orang yang berpikir

adakah sunnahnya minta didoakan orang lain ???

Standar

اسْتَأذَنْتُ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – في العُمْرَةِ ، فَأذِنَ لِي ، وَقالَ : (( لاَ تَنْسَنا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ )) فَقَالَ كَلِمَةً مَا يَسُرُّنِي أنَّ لِي بِهَا الدُّنْيَا
وفي رواية : وَقالَ أشْرِكْنَا يَا أُخَيَّ في دُعَائِكَ
حديث صحيح رواه أَبُو داود والترمذي، وَقالَ: حديث حسن صحيح

“Aku minta izin kepada Nabi SAW untuk melakukan umrah, dan beliau mengizinkanku. Kemudian Nabi SAW bersabda, ‘Jangan engkau lupakan kami hai saudaraku dalam doamu’.” Umar berkata, “Sungguh, itulah suatu ucapan yang menyenangkan bagiku, daripada aku memiliki dunia ini”.

Dalam riwayat lain: Nabi berpesan, “Sertakanlah (sebutkanlah) kami dalam doa-doamu hai saudaraku”. (An-Nawawi berkata, “Hadits shahih”. Riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan shahih)
tapi Hadits ini sanadnya dha’if karena ada perawi yang bernama Asim bin Ubaidillah, seorang yang dha’if dan semua jalur melalui dia.Jadi Imam An-Nawawi menshahihkan hadits ini seakan-akan ia bertaqlid kepada At-Tirmidzi, dimana hadits itu seakan-akan tidak nampak oleh beliau kedha’ifannya.’

Bolehkah Makmum Yang Masbuk Menjadi Imam?

Standar

ada dua pendapat. Pertama, tidak boleh. Orang yang shalat bermakmum kepada makmum yang masbuk, shalatnya dinilai tidak sah. Ini menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Mazhab Imam Malik menambahkan penjelasan bahwa apabila makmum masbuk yang dijadikan imam itu sempat mendapatkan satu rakaat bersama imam, kita tidak boleh bermakmum kepadanya. Tetapi kalau ia tidak mendapatkan satu rakaat pun bersama imam, kita boleh bermakmum kepadanya.
Pendapat ini didasarkan pada sebuah hadits Nabi . “Sesungguhnya seseorang dijadikan imam untuk diikuti, maka janganlah kalian berselisih terhadapnya.” Demikian kurang lebih sabda Nabi . yang diriwayatkan oleh Bukhari, juga oleh Muslim, dan bersumber dari Sahabat Abu Hurairah . Seorang makmum, menurut pandangan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, jelas bukan imam. Oleh karena itu, ia tidak boleh “diikuti”, dalam arti ‘dijadikan imam’.
Dalil kedua yang dijadikan dasar pijakan oleh mazhab Abu Hanifah dan Malik adalah sabda Rasulullah . yang mengatakan, “Seorang imam menanggung, dan seorang muazin dipercaya.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi, bersumber dari Abu Hurairah .). Maksud hadits ini: seorang imam menanggung bacaan al-Fatihah makmum. Dalam pandangan kedua mazhab fikih ini, seorang makmum masbuk ‘ketinggalan’ membaca surah al-Fatihah yang menjadi syarat sahnya shalat, kalau ia bermakmum dan mendapati imam sedang rukuk. Bacaan al-Fatihah makmum masbuk itu “ditanggung” oleh imam. Lalu, bagaimana seorang masbuk yang tidak membaca surah al-Fatihah itu dapat menjadi imam?
Kedua, boleh bermakmum kepada makmum yang masbuk. Ini pendapat Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Menurut mereka, shalat bermakmum kepada makmum lain yang masbuk tetap sah. “Kecuali kalau shalat yang dilakukan adalah shalat Jumat,” demikian pendapat Hanbali. Ibnu Taimiyah juga mengatakan boleh.
Pendapat ini didasarkan pada hadits berikut. Ibnu Abbas berkata, “Suatu ketika aku tidur di rumah Maimunah, dan Rasulullah . pada malam itu berada di sana. Rasul saw. berwudu lalu melaksanakan shalat (sendiri, munfarid), lalu aku berdiri (untuk bermakmum) di sebelah kiri beliau, tetapi beliau menarik dan memindahkan aku ke sebelah kanannya.” (HR Bukhari dan Muslim). Juga hadits berikut. Anas menuturkan, “Rasulullah . melaksanakan shalat (munfarid) pada bulan Ramadhan. Aku kemudian datang dan berdiri di samping beliau. Kemudian datang orang lain dan berdiri, sampai jumlah kami agak banyak. Ketika Rasul . merasa bahwa kami berada di belakang beliau, beliau lalu meringankan shalatnya. (HR Muslim).
Berdasarkan hadits di atas, menurut pendapat kedua, seorang yang melakukan shalat munfarid boleh saja beralih menjadi imam. Dan seorang makmum yang masbuk tidak jauh beda dengan seorang yang melaksanakan shalat munfarid. Buktinya, makmum masbuk harus melakukan sujud sahwi kalau ia lupa salah satu rukun shalat. Jadi, makmum masbuk sah untuk dijadikan imam oleh makmum masbuk yang datang kemudian.
Selain itu, Imam Syafi’ dan Imam Abu Hanifah juga berpegang pada hadits lain yang bersumber dari Ibunda Aisyah. Dalam hadits itu disebutkan bahwa Nabi . bermakmum kepada Abu Bakar. Nabi shalat sambil duduk di sebelah kiri Abu Bakar. Nabi kemudian mengimami shalat jamaah sambil duduk, sedang Abu Bakar bermakmum sambil berdiri. Abu Bakar mengikuti shalat Nabi ., dan jamaah yang lain mengikuti gerakan Abu Bakar. (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
Pakar-pakar fikih mazhab Syafi’i dan Hanbali menilai bahwa hadits di atas merupakan petunjuk bahwa perpindahan seseorang dari makmum menjadi imam adalah sah dan pernah terjadi pada masa Nabi . Ketika itu, Abu Bakar yang sebelumnya menjadi imam beralih menjadi makmum, dan Rasulullah . yang sebelumnya bermakmum kepada Abu Bakar beralih menjadi imam. Dengan demikian, seorang makmum yang masbuk boleh saja menjadi imam.
Mari kita lihat penjelasan dari ulama besar, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni yang digelari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya,

عَنْ رَجُلٍ أَدْرَكَ مَعَ الْجَمَاعَةِ رَكْعَةً فَلَمَّا سَلَّمَ الْإِمَامُ قَامَ لِيُتِمَّ صَلَاتَهُ فَجَاءَ آخَرُ فَصَلَّى مَعَهُ فَهَلْ يَجُوزُ الِاقْتِدَاءُ بِهَذَا الْمَأْمُومِ؟

“Ada seseorang yang mendapati jama’ah tinggal satu raka’at. Ketika imam salam, ia pun berdiri dan menyempurnakan kekurangan raka’atnya. Ketika itu, datang jama’ah lainnya dan shalat bersamanya (menjadi makmum dengannya). Apakah mengikuti makmum yang masbuk semacam ini dibolehkan?”

Jawaban beliau rahimahullah,
Mengenai shalat orang yang pertama tadi ada dua pendapat di madzhab Imam Ahmad dan selainnya. Akan tetapi pendapat yang benar, perbuatan semacam ini dibolehkan. Inilah yang menjadi pendapat kebanyakan ulama. Hal tadi dibolehkan dengan syarat orang yang diikuti merubah niatnya menjadi imam dan yang mengikutinya berniat sebagai makmum.
dari Majmu’ Al Fatawa (22/257-258)
Yang benar, orang yang datang dan hendak bermakmum, tidak perlu menepuk pundaknya, tapi langsung memposisikan diri di samping kanan orang yang sedang shalat sendirian itu, lurus sejajar, dan tidak geser sedikit ke belakang.

Kesimpulan ini berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ لَيْلَةً، فَلَمَّا كَانَ فِي بَعْضِ اللَّيْلِ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَوَضَّأَ مِنْ شَنٍّ مُعَلَّقٍ وُضُوءًا خَفِيفًا، وَقَامَ يُصَلِّي، فَتَوَضَّأْتُ نَحْوًا مِمَّا تَوَضَّأَ، ثُمَّ جِئْتُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَحَوَّلَنِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ

Pada suatu malam, saya menginap di rumah bibiku Maimunah, di Saya shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam. Setelah larut malam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun dan berwudhu dari air yang terdapat dalam bejana yang menggantung, lalu beliau shalat. Akupun berwudhu seperti wudhu beliau, dan langsung menuju beliau dan aku berdiri di sebelah kiri beliau. Lalu beliau memindahkanku ke sebelah kanan beliau. (HR. Bukhari 138).

Maimunah adalah salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sekaligus bibi Ibnu Abbas dari ibunya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jatah malam di Maimunah, Ibnu Abbas ikut bersama mereka. Dan ketika itu, Ibnu Abbas belum baligh.

Dalam hadis di atas, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma datang ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mulai shalat. Dan beliau tidak menepuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun langsung berdiri di samping kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena posisinya yang salah, Ibnu Abbas dipindah ke posisi sebelah kanan.