Monthly Archives: April 2012

kapan boleh buka cadar?

Standar

Pertanyaan:
Kami sudah memaklumi bahwa pendapat ahli ilmu yang terpilih adalah wajibnya menutup wajah bagi kaum wanita. Namun ada beberapa kondisi yang mana kaum wanita terpaksa membuka penutup wajahnya (cadarnya). Sudikah Anda memberikan secercah ilmu seputar masalah ini?

Jawab:
Alhamdulillah, Dalam masalah ini pendapat terpilih yang didukung oleh dalil-dalil adalah yang menyatakan wajibnya menutup wajah. Oleh karena itu seorang pemudi muslimah dilarang menampakkan wajahnya di hadapan lelaki asing yang bukan mahramnya demi mencegah terjadinya kerusakan. Dan hal itu lebih ditekankan lagi jika dapat menimbulkan fitnah (godaan). Ahli ilmu telah menetapkan bahwa sesuatu yang diharamkan dengan alasan mencegah terjadinya kerusakan, dapat dibolehkan jika terdapat maslahat yang lebih besar. Berdasarkan hal itu para ahli fiqih menyebutkan beberapa kondisi tertentu yang mana kaum wanita boleh menampakkan wajahnya di hadapan lelaki asing yang bukan mahramnya bila memang dibutuhkan. Sebagaimana mereka juga dibolehkan melihat kaum lekaki dengan syarat tidak melampaui batas-batas kebutuhan, sebab sesuatu yang dibolehkan kerena alasan darurat atau kebutuhan harus dibatasi sesuai kebutuhan tersebut tidak lebih dari itu. Kondisi-kondisi itu dapat kita simpulkan sebagai berikut:

Pertama: Saat khitbah (meminang)
Seorang wanita dibolehkan menampakkan wajah dan dua telapak tangannya di hadapan lelaki yang berkeinginan meminangnya agar si lelaki itu dapat melihatnya, dengan catatan harus disertai dengan mahram dan tidak menyentuhnya. Karena wajah menunjukkan cantik atau tidaknya si wanita dan kedua telapak tangan menunjukkan subur atau tidaknya badan si wanita.
Abul Faraj Al-Maqdisi berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang bolehnya melihat wajah wanita (saat meminangnya), sebab wajah adalah pusat kecantikan dan tempat tertumpunya pandangan.”
Banyak sekali hadits nabi yang menunjukkan bolehnya seorang peminang melihat wanita yang dipinangnya, di antaranya:
1-Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata: “Seorang wanita datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah, saya datang untuk menyerahkan diri saya kepada Anda! Rasulpun mengangkat pandangan kepadanya dan mengamatinya dengan saksama. Kemudian beliau menundukkan pandangan. Mengertilah wanita itu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berminat kepada dirinya, maka iapun duduk. Kemudian bangkitlah seorang lelaki dari sahabat beliau dan berkata: “Wahai Rasulullah, jika Anda tidak berminat maka nikahkanlah ia kepada saya”
(H.R Al-Bukhari VII/19, Muslim IV/143, An-Nasa’i VI/113 (lihat Syarah Suyuthi) dan Al-Baihaqi VII/84)
2-Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa ia berkata: “Suatu saat saya berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu datanglah seorang lelaki mengabarkan kepada beliau bahwa ia ingin menikahi seorang wanita Anshar.
Rasulullah berkata kepadanya: “Apakah engkau sudah melihatnya?”
“Belum!” katanya.
Beliau berkata: “Kalau begitu temui dan lihatlah wanita Anshar itu karena pada mata mereka terdapat sesuatu.”
H.R Ahmad II/286&299, Imam Muslim IV/142 dan An-Nasa’i II/73
3-Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Jika salah seorang dari kamu meminang seorang wanita maka bila ia bisa melihat sesuatu daripadanya yang dapat mendorong untuk menikahinya hendaklah ia melakukannya.”
H.R Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad hasan, diriwayatkan juga dari Muhammad bin Maslamah dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim yang dikeluarkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Dan dari hadits Abu Humeid yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Bazzar, silakan lihat Fathul Bari (IX/181)
Az-Zaila’i berkata: “Namun ia tidak dibolehkan menyentuh wajah dan dua telapak tangan wanita tersebut meskipun tanpa syahwat, karena wanita itu belum menjadi istrinya dan tidak ada kebutuhan mendesak untuk itu.”
Dalam buku Durar Al-Bihar disebutkan: “Qadhi, saksi dan peminang tidak boleh menyentuh wanita (yang dipinang atau diadili) meskipun tanpa syahwat karena hal itu memang tidak perlu dilakukan.” (Silakan lihat Raddul Mukhtar ‘Alaa Ad-Durr Al-Mukhtar V/237)
Ibnu Qudamah berkata: “Seorang pria dilarang berkhalwat (berdua-duaan tanpa mahram) dengan seorang wanita yang ingin dipinangnya. Yang disebutkan dalam syariat hanyalah sebatas melihatnya saja, maka hukum berkhalwat dengannya tetap haram.
Dan mungkin saja terjadi hal-hal yang membahayakan jika dibiarkan berdua-duaan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Janganlah seorang pria berdua-duaan dengan seorang wanita, sebab yang ketiga adalah setan.”
Ia juga tidak boleh melihatnya (wanita yang dipinang) dengan syahwat dan tidak juga dengan keraguan. Shalih meriwayatkan dari Imam Ahmad yang berkata: “Ia boleh melihat wajah dan tidak boleh memandangnya dengan syahwat. Ia juga boleh terus memandanginya dan memperhatikan kecantikannya, karena hanya dengan begitulah tujuan dapat diwujudkan.”

Kedua: Saat bermu’amalah (berinteraksi sosial).
Wanita juga dibolehkan menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya dalam proses jual beli jika memang dibutuhkan. Sebagaimana halnya penjual boleh melihat wajahnya untuk menyerahkan barang dan menerima uangnya, selama tidak menimbulkan fitnah. Dan hal itu dilarang jika sampai menimbulkan fitnah.
Ibnu Qudamah berkata: “Jika seorang pria mengadakan transaksi jual beli atau sewa menyewa dengan seorang wanita maka ia boleh melihat wajah wanita itu untuk mengetahui identitasnya sekaligus meminta uang pembeliannya. Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau membenci hal itu terhadap para pemudi dan dibolehkan terhadap wanita lanjut usia. Dan juga makruh hukumnya terhadap orang yang khawatir tertimpa fitnah atau tidak begitu mendesak melakukan transaksi tersebut. Dan dibolehkan jika memang diperlukan dan tidak disertai dengan syahwat.”
(Silakan lihat kitab Al-Mughni VII/459, Kitab Syarah Al-Kabir ‘Ala Matan Al-Muqni’ VII/348 dan Kitab Al-Hidayah Ma’a Takmilah Fathul Qadir X/24)
Ad-Dasuuqi berkata: “Persaksian wanita yang mengenakan cadar tidak diterima hingga ia membuka cadarnya. Hal ini berlaku umum, baik persaksian dalam pernikahan, jual beli, hibah, utang piutang, wakalah dan sejenisnya. Itulah pendapat yang dipilih oleh syaikh kami.”
(Silakan lihat Hasyiyatud Dasuuqi ‘ala Asy-Syarh Al-Kabir IV/194)

Ketiga: Saat Pengobatan.
Kaum wanita juga boleh membuka tempat yang terkena penyakit pada wajah atau bagian tubuhnya yang terkena penyakit kepada dokter untuk diobati. Dengan syarat harus disertai mahram atau suaminya. Hal itu jika tidak ada dokter wanita yang mampu mengobatinya. Sebab melihat aurat sesama wanita tentu lebih ringan bahayanya. Dan hendaknya dokter tersebut bukan seorang kafir bila masih ada dokter muslim yang mampu mengobatinya. Ia tidak boleh membuka kecuali bagian tubuh yang sakit. Dan para dokter hanya boleh melihat dan menyentuh bagian tubuh yang sakit saja, tidak boleh lebih dari yang dibutuhkan. Sebab yang dibolehkan karena alasan darurat harus dibatasi sekedar kebutuhan saja.
Ibnu Qudamah berkata: “Seorang dokter dibolehkan melihat bagian tubuh wanita yang sakit bila perlu diperiksa. Sebab bagian tubuh itu memang perlu dilihat. Diriwayatkan dari Utsman bahwa dibawa ke hadapannya seorang bocah yang didapati telah mencuri, beliau berkata: “Periksalah dalam sarungnya!” yakni bulu kemaluannya yang menunjukkan apakah ia sudah baligh atau belum. Setelah diperiksa ternyata bulu kemaluannya belum tumbuh, beliaupun tidak memotong tangannya.”
(Silakan lihat kitab Al-Mughni VII/459 dan kitab Ghadzaaul Albab I/97)
Ibnu Abidin berkata: “Dalam kitab Al-Jauharah disebutkan: Jika penyakit tersebut menyerang seluruh tubuh si wanita maka dokter boleh melihatnya saat pengobatan, kecuali alat kelamin yang vital. Sebab hal itu termasuk darurat. Jika tempat yang sakit adalah kemaluan, maka hendaknya diajari seorang wanita lain untuk mengobatinya. Jika tidak ada juga sementara keselamatan jiwanya sangat mengkhawatirkan atau dikhawatirkan tertimpa penyakit yang tidak mampu ia tahan, maka hendaklah mereka menutup seluruh tubuhnya kecuali tempat yang sakit itu (yakni kemaluan) lalu dipersilakan dokter mengobatinya dengan tetap menahan pandangan semampunya kecuali terhadap bagian yang tengah diobati.”
(Raddul Mukhtar V/237 dan lihat juga Al-Hidayah Al-‘Alaaiyah hal 245)
Demikian pula dibolehkan bagi para perawat orang sakit untuk mewudhu’kan atau membantu istinja’nya meskipun yang dirawat seorang wanita. (Silakan lihat kitab Ghidzaaul Albab I/97)
Muhammad Fu’ad berkata: “Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya kaum pria mengobati kaum wanita -dengan batasan-batasan yang telah disebutkan tadi- adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz ia berkata: “Kami pernah berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tugas kami adalah memberi minum dan membantu pasukan, dan membawa pasukan yang tewas dan terluka ke Madinah.”
(H.R Al-Bukhari VI/80 & X/136, lihat Fathu Bari. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dari Anas V/196, Abu Dawud VII/205, lihat ‘Aunul Ma’bud, dan Imam At-Tirmidzi V/301-302, ia berkata: Hadits ini hasan shahih)
Imam Al-Bukhari menulis Bab: Bolehkah Kaum Lelaki Mengobati Kaum Wanita Dan Kaum Wanita Mengobati Kaum Lelaki?
(Lihat Fathul Bari X/136)
Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar A-Asqalani berkata: “Hukum bolehnya kaum pria mengobati kaum wanita diambil secara implisit. Imam Al-Bukhari tidak menegaskan hukum tersebut karena masih ada kemungkinan hal itu terjadi sebelum turunnya ayat yang memerintahkan berhijab. Atau masing-masing wanita ketika itu hanya mengobati suaminya atau mahramnya saja. Secara umum hukumnya: kaum wanita boleh mengobati kaum pria pada saat-saat darurat, dan harus dibatasi sesuai kebutuhan khususnya berkaitan dengan melihat dan memegang pasien atau semisalnya.
(Silakan lihat kitab Fathul Bari X/136)

Keempat: Saat menjadi saksi atau sebagai orang yang diberi persaksian.
Seorang wanita boleh menampakkan wajahnya dalam memberikan persaksian atau diminta oleh saksi membuka cadarnya (sebagai orang yang diberi persaksian). Sebagaimana halnya hakim boleh melihatnya untuk mengenalinya demi menjaga hak-hak orang lain. Syaikh Ad-Dardiir berkata:
“Persaksian wanita yang mengenakan cadar tidak diterima hingga ia membuka cadarnya. Supaya dapat dikenal dengan jelas identitas dan karakternya, setelah itu barulah ia boleh memberikan persaksian.” (Syarah Al-Kabir karangan Syaikh Ad-Dardiir IV/194)
Ibnu Qudamah mengatakan:
“Saksi boleh melihat terdakwa supaya persaksiannya tidak salah alamat. Imam Ahmad berkata: Tidak boleh memberikan persaksian terhadap seorang terdakwa wanita hingga ia mengenali indentitasnya dengan pasti.
Silakan lihat kitab Al-Mughni VII/459, Syarah Al-Kabir ‘Alal Muqni’ VII/348 dan Al-Hidayah ma’a Takmilah Fathul Qadir X/26.

Kelima: Saat persidangan.
Seorang wanita boleh membuka penutup wajahnya di hadapan hakim yang menyidangnya, baik hakim itu bertindak sebagai pembelanya ataupun penuntut. Si hakim boleh melihat wajah wanita itu untuk mengenalinya, demi menjaga hak-hak manusia agar tidak tersia-sia. Kriteria hukum yang berlaku pada bab persaksian sama persis dengan bab persidangan, karena alasan hukum keduanya adalah sama.
Silakan lihat Ad-Durar Al-Mukhtar V/237, Al-Hidayah Al-‘Alaaiyyah hal 244 dan Al-Hidayah Ma’a Takmilah Fathul Qadir X/26.

Keenam: Di hadapan bocah laki-laki kecil yang sudah mengerti namun belum punya hasrat kepada kaum wanita.
Seorang wanita boleh menampakkan kepada bocah laki-laki yang belum punya hasrat kepada kaum wanita apa-apa yang boleh ia tampakkan kepada mahramnya, karena mereka belum punya hasrat kepada wanita. Ia boleh melihat semua itu.
Syaikh Abul Faraj Al-Maqdisi berkata:
“Bocah laki-laki yang belum punya hasrat kepada kaum wanita boleh melihat tubuh wanita kecuali bagian tubuh antara pusar dan lutut, menurut satu riwayat (dari Imam Ahmad). Sebab Allah berfirman:
“Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). (QS. 24:58)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. (QS. 24:59)
Ayat di atas membedakan antara anak yang sudah baligh dan yang belum. Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata: “Abu Thayyibah membekam istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada saat itu ia masih seorang bocah kecil.”
Menurut riwayat lainnya dari Imam Ahmad disebutkan bahwa batasan aurat terhadap bocah kecil tersebut seperti halnya batasan aurat terhadap mahram, bila ia sudah mengerti aurat wanita, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
“…atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. (QS. 24:31)
Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad: Bilakah seorang wanita harus menutup wajahnya terhadap seorang bocah? Beliau menjawab: “Jika bocah itu telah berusia sepuluh tahun. Jika ia sudah punya hasrat kepada kaum wanita maka batasan aurat terhadapnya sama seperti batasan aurat terhadap para mahram. Berdasarkan firman Allah:
“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. (QS. 24:59)
Dalam riwayat lain masih dari Imam Ahmad disebutkan bahwa batasan aurat terhadap bocah kecil sama seperti batasan aurat terhadap lelaki bukan mahram. Sebab ia sudah terhitung baligh dan punya syahwat. Itulah tujuan diperintahkannya hijab dan diharamkannya memandang wanita bukan mahram. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
“…atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. (QS. 24:31)
Adapun anak kecil yang belum mengerti tentunya tidak wajib menutup diri darinya.
Silakan lihat kitab Syarah Al-Kabir ‘Alaa Matan Al-Muqni’ VII/349, Al-Mughni VII/458 dan Ghadzaaul Albab I/97.

Ketujuh: Di hadapan laki-laki yang sudah tidak punya nafsu syahwat.
Seorang wanita boleh menampakkan kepada laki-laki yang sudah tidak punya nafsu syahwat apa-apa yang boleh ditampakkan kepada mahram. Mereka boleh melihat semua itu karena mereka sudah tidak punya hasrat lagi kepada kaum wanita dan sudah tidak memperhatikan urusan wanita.
Ibnu Qudamah berkata:
“Terhadap lelaki yang sudah tidak punya nafsu syahwat lagi, karena sudah lanjut usia, lemah syahwat, sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, lelaki yang mengebiri diri atau lelaki banci yang tidak punya hasrat kepada kaum wanita, maka batasan aurat yang boleh diperlihatkan kepada mereka sama seperti batasan aurat kepada para mahram. Berdasarkan firman Allah Subhana wa Ta’ala:
“atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita).” (QS. 24:31)
Yaitu lelaki yang tidak punya hasrat kepada kaum wanita. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata: Yakni laki-laki yang kaum wanita tidak merasa segan kepadanya. Dinukil juga dari beliau: Yakni lelaki banci yang impoten. Mujahid dan Qatadah berkata: Yaitu laki-laki yang tidak punya keinginan syahwat kepada kaum wanita. Jika lelaki itu banci namun ia punya nafsu syahwat kepada wanita dan tahu seluk beluk wanita maka batasan aurat terhadapnya sama seperti batasan aurat kepada laki-laki bukan mahram. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha pernah bercerita:
“Seorang lelaki banci masuk menemui istri-istri nabi, mereka menganggap lelaki banci itu termasuk ‘lelaki yang tidak punya keinginan kepada kaum wanita’ yang tersebut dalam ayat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu datang menemui kami sementara lelaki banci itu tengah menceritakan lekuk tubuh seorang wanita, katanya jika wanita itu dilihat dari depan akan tampak empat lekukan, jika dari belakang akan tampak delapan lekukan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Aku lihat lelaki ini tahu apa yang ada di dalam sini, janganlah ia dibiarkan masuk menemui kalian!” Merekapun berhijab darinya.
(H.R Abu Dawud dan lainnya)
Ibnu Abdil Bar berkata:
“Yang dimaksud banci di sini bukanlah banci yang dibuat-buat, akan tetapi banci dalam arti gen wanita pada dirinya lebih dominan sehingga gaya bicara, memandang dan berpikirnya juga menyerupai kaum wanita. Bila begitu keadaannya tentu ia tidak punya hasrat kepada kaum wanita dan tidak mengerti tentang seluk beluk kaum wanita. Ia tergolong ‘lelaki yang tidak punya hasrat kepada wanita’ yang dibolehkan masuk menemui kaum wanita. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak melarang lelaki banci itu masuk menemui istri-istri beliau, namun begitu mendengar lelaki banci itu menceritakan lekuk tubuh puteri Ghailan dan ternyata mengerti seluk beluk wanita, Rasulullah memerintahkan supaya berhijab darinya.
(Silakan lihat kitab Al-Mughni VII/463, Syarah Al-Kabir ‘ala Matan Al-Muqni’ VII/347-348)

Kedelapan: Wanita lanjut usia yang sudah tidak menggairahkan lagi.
Wanita lanjut usia yang sudah tidak menggairahkan lagi boleh membuka penutup wajahnya dan bagian-bagian tubuh yang biasa tampak di hadapan lelaki bukan mahramnya. Hanya saja mengenakan cadar tentunya lebih utama baginya. Simaklah firman Allah berikut ini:
“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:60)
Ibnu Qudamah berkata:
“Wanita lanjut usia yang sudah tidak menggairahkan boleh dilihat sebatas apa-apa yang biasa tampak padanya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. (QS. 24:60)
Berkaitan dengan ayat :
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. (QS. 24:30)
Dan ayat:
Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, (QS. 24:31)
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Kedua ayat di atas dibatasi kandungannya, dikecualikan darinya wanita-wanita yang tidak ingin kawin lagi. Termasuk juga wanita yang buruk rupanya dan sama sekali tidak menarik.”
(Silakan lihat kitab Al-Mughni VII/463, Syarah Al-Kabir ‘ala Matan Al-Muqni’ VII/347-348)

Kesembilan: Hukum membuka cadar di hadapan wanita-wanita kafir.
Ahli ilmu berbeda pendapat tentang batasan aurat wanita muslimah di hadapan wanita kafir.
Ibnu Qudamah berkata:
“Batasan aurat antara sesama wanita sama seperti batasan aurat antara sesama pria, tidak ada beda antara sesama kaum muslimin, antara muslimah dengan wanita dzimmiyah, antara seorang muslim dengan pria kafir. Imam Ahmad berkata: Sebagian orang melarang wanita muslimah membuka cadarnya di hadapan wanita Yahudi atau Nasrani. Menurut pendapat saya, wanita-wanita kafir itu tidak boleh melihat alat kelamin wanita muslimah. Dan mereka tidak boleh menangani wanita muslimah yang melahirkan, karena mereka akan melihat aurat vital kecuali dalam keadaan darurat, sebagaimana yang telah dijelaskan.”
Dalam riwayat lain dari Imam Ahmad disebutkan bahwa wanita muslimah tidak boleh menampakkan kemaluannya kepada wanita dzimmiyah. Berdasarkan firman Allah Subhana wa Ta’ala:
“atau wanita-wanita Islam,” (QS. 24:31)
Kelihatannya pendapat pertama lebih kuat, sebab wanita-wanita kafir dari kalangan Yahudiyah dan lainnya juga masuk menemui istri-istri nabi, mereka tidak memakai hijab dan tidak diperintahkan memakai hijab.
‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata: “Datang seorang wanita Yahudi bertanya kepadanya, ia berkata: “Semoga Allah menyelamatkan saudari dari siksa kubur.” ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menanyakan ucapan wanita itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam…”
Asma’ Radhiyallahu ‘Anha menuturkan: “Ibuku yang masih musyrik dan membenci Islam datang menemuiku. Akupun bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apakah aku boleh meladeninya? Beliau menjawab: “Boleh!”
Sebab alasan disyariatkannya hijab antara kaum lelaki dengan kaum wanita tidak terdapat pada wanita muslimah dengan wanita dzimmiyah. Maka tidak perlu diperintahkan berhijab antara keduanya, sebagaimana halnya antara pria muslim dengan pria dzimmi. Dan juga syariat hijab ini harus ditetapkan dengan nash atau qiyas, sementara dalam masalah ini tidak ada nash maupun qiyas.
Berkaitan dengan firman Allah Ta’ala:
“atau wanita-wanita Islam,” (QS. 24:31)
kemungkinan maksudnya adalah sejumlah kaum wanita.
Silakan lihat Al-Mughni VII/464 dan Syarah Al-Kabir ‘ala Matan Al-Muqni’ VII/351.
Ibnul Arabi Al-Maliki berkata:
“Menurut saya pendapat yang benar adalah hal itu mencakup seluruh wanita (baik yang muslimah maupun non muslimah). Penyebutan dhamir (kata ganti) dalam ayat tersebut hanyalah untuk menyelaraskan dengan kata-kata sebelumnya (yang seluruhnya diimbuhi dhamir), di dalam ayat ini terdapat lima belas dhamir, hal itu tidak terdapat dalam ayat lainnya dalam Al-Qur’an. Oleh karena itulah kata an-nisaa’ diimbuhi dhamir hunna.”
Silakan lihat Ahkamul Qur’an III/326.
Al-Aluusi berkata: “Fakhrur Raazi berpendapat bahwa dalam masalah ini batasan aurat terhadap wanita kafir sama seperti batasan aurat terhadap wanita muslimah, ia berkata: “Menurut Madzhab kami batasan auratnya sama seperti batasan aurat terhadap wanita muslimah, yang dimaksud ‘nisaa’ihinna (wanita-wanita mereka)’ dalam ayat di atas adalah seluruh kaum wanita. Dalam hal ini ucapan ulama salaf yang mengharuskan berhijab terhadap wanita kafir dibawakan kepada makna istihbab (anjuran bukan wajib)”
Ia melanjutkan: “Itulah pendapat yang lebih memudahkan bagi umat manusia sekarang ini, sebab hampir tidak mungkin mengharuskan hijab atas wanita muslimah di hadapan wanita dzimmiyah.” (Tafsir Al-Aluusi 19/143)
Muhammad Fu’ad berkata: “Jika kata Al-Aluusi hal itu lebih memudahkan bagi mereka pada saat itu, tentu saja jauh lebih memudahkan bagi kita sekarang ini. Terutama bagi orang-orang yang terpaksa bermukim di negeri-negeri non Islam yang mana wanita muslimah dan wanita dzimmiyah tercampur baur, kebutuhan hidup juga sangat mendesak, yang mana berhijab di hadapan mereka justru menimbulkan berbagai kesulitan. Inna lillahi wa inna ilahi raji’un.

Kesepuluh: Seorang wanita harus membuka wajah dan kedua telapak tangannya saat berihram (mengenakan kain ihram) untuk haji ataupun umrah.
Ia tidak boleh mengenakan cadar ataupun kaus tangan. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Wanita yang berihram janganlah memakai cadar dan kaus tangan.”
Jika ia terpaksa menutup wajahnya, misalnya karena ada laki-laki yang lewat di dekatnya, ataupun wajahnya sangat cantik hingga menarik pandangan kaum pria, ia boleh mengulurkan kain untuk menutupi wajahnya, berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha ia berkata: “Pernah suatu kali rombongan pria melewati kami saat kami mengenakan ihram bersama Rasulullah, ketika rombongan itu mendekat kamipun mengulurkan jilbab untuk menutupi wajah kami. Setelah rombongan lewat kamipun menyingkapnya kembali.”
Dihikayatkan dari Al-Al-Juzeiri ia berkata: “Wanita yang mengenakan ihram boleh menutup wajahnya untuk suatu keperluan, seperti pada saat rombongan lelaki lewat di dekatnya. Tidaklah mengapa ia melekatkan kain penutup pada wajahnya, sebab hal itu merupakan keluasan baginya dan untuk menghilangkan kesulitan.”
(Silakan lihat kitab Al-Fiqh ‘Ala Madzhab Al-Arba’ah I/645)
Itulah kondisi yang dibolehkan bagi kaum wanita untuk membuka penutup wajahnya dan kaus tangannya, menurut perincian yang telah dijelaskan dan diurai oleh para ulama dan ahli fiqih di atas tadi. Tinggal satu persoalan yang perlu diperhatikan, yaitu dalam kondisi terjepit yang memaksa seorang wanita untuk membuka penutup wajahnya. Bagaimanakah hukumnya dalam kondisi demikian?

Kesebelas: Dalam kondisi terpaksa.
Sebagian negara-negara sekuler menetapkan undang-undang sesat yang melanggar syariat, undang-undang yang menentang perintah Allah dan Rasul-Nya. Undang-undang itu melarang wanita muslimah mengenakan hijab. Sebagian negara melarangnya dengan keras dan paksa. Bahkan meneror wanita-wanita bercadar serta memperlakukan mereka dengan kasar dan keras.
Wanita-wanita bercadar terus ditekan dan diganggu sebagaimana yang terjadi di negara-negara Eropa, bahkan kadangkala menjurus kepada pelecehan terhadap Dienul Islam dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Oleh karena itu, mereka boleh membuka cadar dalam kondisi yang mana wanita bercadar pasti mendapat gangguan yang tidak dapat diatasinya. Tentu saja memilih pendapat yang lemah lebih utama daripada menjerumuskan diri dalam bahaya gangguan lelaki jahat.
Jikalau dalam kondisi yang belum sampai kategori ‘terpaksa’ ia boleh membuka cadar dan kaus tangannya, tentu saja lebih dibolehkan membukanya dalam kondisi yang membahayakan diri dan agamanya. Terutama jika dalam mempertahankan hijabnya orang-orang jahat akan menarik atau merobek hijab dari wajahnya. Atau masyarakat akan mengganggunya. Dalam keadaan darurat perkara-perkara yang sebelumnya dilarang menjadi dibolehkan. Dan sesuatu yang dibolehkan karena darurat harus dibatasi sekadar kebutuhan, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh ahli ilmu. Tidak boleh bersikap simplifikatif dalam perkara ini, harus benar-benar diukur menurut keadaan dan kondisi setempat. Dan harus mempelajari pengalaman yang terdahulu atas orang lain. Sehingga tidak keliru dalam menetapkan suatu kondisi sebagai kondisi darurat, tidak disertai hawa nafsu dan kelemahan dalam bersikap.
Dalam kondisi di atas, meskipun kaum wanita dibolehkan membuka cadar dan kaus tangannya, namun ia tetap tidak boleh menampakkan perhiasan yang mencolok pandangan. Sebab haram hukumnya bagi kaum wanita menampakkan perhiasan di hadapan lelaki yang bukan mahram, menurut pendapat mayoritas ahli fiqih dan berdasarkan firman Allah Subhana wa Ta’ala:
“dan janganlah menampakkan perhiasan mereka,”(QS. 24:31)
Dan juga karena tidak ada kebutuhan mendesak untuk menampakkannya.
(Silakan lihat kitab Hijab Al-Mar’ah Al-Muslimah Baina Intihaalal Mubthiliin wa Ta’wilal Jahiliin hal 239)
Hanya kepada Allah sajalah kami memohon agar memperbaiki keadaan kaum muslimin. Shalawat dan salam semoga tercurah atas nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dijawab oleh: Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid
http://islamqa.com/id/ref/2198

menceboki anak,batal wudhu’?

Standar

Pertanyaan:

Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh ditanya tentang wanita jika ia menceboki anaknya sedangkan ia dalam keadaan suci apakah wajib baginya untuk berwudhu lagi?

Jawaban:

Jika seorang wanita menceboki bayi laki-lakinya atau bayi perempuannya dan menyentuh kemaluannya, maka tidak wajib baginya untuk berwudhu, ia cukup mencuci tangannya saja, karena menyentuh kemaluan tanpa syahwat tidak mewajibkan untuk berwudhu. Dan seperti yang telah maklum bahwa wanita yang memandikan anaknya tidak dikhawatirkan menimbulkan syahwat. Maka jika ia menceboki anak laki-lakinya atau anak perempuannya, maka cukup mencuci tangannya saja dari najis yang mengenainya dan tidak wajib baginya untuk berwudhu. Selesai.

***

Sumber: Majmu’ fatawa Ibnu Utsaimin (11/203), al-Maktabah asy-Syamilah.

***

وسئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله عن المرأة إذا وضأت طفلها وهي طاهرة هل يجب عليها أن تتوضأ ؟
فأجاب :
” إذا وضأت المرأة طفلها أو طفلتها ومست الفرج فإنه لا يجب عليها الوضوء ، وإنما تغسل يديها فقط، لأن مس الفرج لغير شهوة لا يجب الوضوء، ومعلوم أن المرأة التي تغسل أولادها لا يخطر ببالها الشهوة ، فهي إذا وضأت الطفل أو الطفلة فإنما تغسل يديها فقط من النجاسة التي أصابتها ولا يجب عليها أن تتوضأ ” انتهى .

***

Pertanyaan :

Semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan, Penanya berkata : Apakah membersihkan anak dari najis membatalkan wudhu?

Jawaban :

Jika tidak menyentuh kemaluan maka tidak membatalkan wudhu, dan ini tidak ada musykilah di dalamnya, dan aku tidak mengira bahwa ini yang dimaksudkan oleh penanya. Tetapi jika ia menyentuh kemaluannya yang shohih adalah bahwa hal itu tidak membatalkan wudhu, tetapi hendaklah ia berwudhu untuk kehati-hatian dan inilah yang lebih utama, tidak ada bedanya antara bayi laki-laki dan bayi perempuan.

***

Diterjemahkan dari: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1362.shtml

***

السؤال: جزاكم الله خيرا تقول السائلة هل تنظيف الطفل من النجاسة ينقض الوضوء؟

الجواب
الشيخ: إذا لم يمس الفرج فإنه لا ينقض الوضوء وهذا لا إشكال فيه ولا أظن السائلة تريده لكن إذا مست الفرج فالصحيح أنه لا ينقض الوضوء ولكن أن توضأت احتياطا فهو أولى ولا فرق بين الذكر والأنثى.

sumber ummushofi.wordpress.com

nonton kartun ??

Standar

Bahaya Film Kartun dan Cara Menghadapinya

Pertanyaan:

Apa sarana yang dapat membantu kita untuk menghadapi merajalelanya filem kartun yang sangat digandrungi anak-anak, khususnya anak wanita? Apakah altenatif yang mungkin untuk masalah ini? Mohon jawabannya segera.

Jawaban:
Alhamdulillah

Pertama:

Tidak diragukan lagi bagi yang berakal, bahwa filem kartun berpengaruh terhadap anak-anak, yang semakin kesini semakin besar pengaruhnya akibat seringnya penayangannya serta tidak ada daya untuk menangkalnya. Hingga kini media yang menayangkan filem karton sangat kuat dan sangat gencar, bahkan hingga orang dewasa ikut tergoda, ditambah lagi daya tangkal yang dimiliki anak tidak ada, seperti akal yang sempurna atau idiologi yang kuat. Karena itu, jika anda menanyakan orang yang pernah menyaksikan filem kartun pada masa kanak-kanaknya, dia akan menceritakan kepada anda cerita-cerita dan kejadian yang banyak seakan-akan dia ada di depan matanya. Perhatikanlah, betapa melekatnya gambar-gambar yang menunjukkan sebuah keyakinan atau mengajarkan sebuah prilaku. Siapa yang memperhatikan kenyataan tentang film kartun, maka dia akan mengetahui bahaya yang sangat besar terhadap anak kecil bahkan terhadap orang dewasa.

Perkara ini telah diisyaratkan dalam harian ‘Al-Jazirah’ edisi 12321, Jumah, 27 Jumadal Ula, 1427 H, yang melaporkan sebuah riset yang dilakukan oleh Huda Al-Ghufais tentang pengaruh filem kartun terhadap anak-anak dalam usia yang berbeda-beda. Di dalamnya disebutkan:

“Sebuah kajian ilmiah telah memperingatkan dampak negatif dari film kartun impor terhadap aqidah anak-anak muslim, karena di dalamnya terdapat penyimpangan dalam bentuk pikiran-pikiran yang bertujuan menggoyahkan keimanan dan akal generasi muda. Penting ditekankan mengerahkan kesungguhan untuk memperbaiki penayangan chanel-chanel televisi untuk melindungi generasi muda dari perkara yang dapat membahayakannya. Masalah ini sudah bukan rahasia lagi.

Kajian tersebut juga menjelaskan bahwa sedang terjadi perang pemikiran dan idiologi yang bertentangan dengan Islam dan pemeluknya. Tujuan utamanya adalah merusak aqidah anak-anak kaum muslimin, pokok-pokok agama, keimanan kepada Allah, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.

Kajian ini juga menjelaskan bahwa usia ketergantungan anak dengan media informasi adalah pada usia 3 tahun bagi anak laki-laki dan usia 5 tahun bagi anak perempuan. Ini merupakan fase pertumbuhan terpenting bagi sang anak untuk membangun pola pikir dan keyakinannya.

Kajian tersebut juga melaporkan bahwa terdapat jumlah yang besar dari kaum ibu yang tidak mengetahui pengaruh yang besar dari filem kartun untuk menanamkan sebuah keyakinan yang benar atau sesat bagi anak-anak. Disebutkan bahwa ada 75% dari mereka yang ikut dalam kajian ini menyatakan tidak yakin akan pengaruh filem kartun dalam membangun keyakinan sang anak. Hal ini menunjukkan pentingnya membangun kembali dari apa yang telah disaksikan anak-anak, karena pengaruh filem kartun dalam membangun daya fantasi sang anak akan menggiringnya untuk memiliki sebuah keyakinan yang sangat berbahaya bagi kejiwaan sang anak. Sayangnya masalah ini –pengaruh film kartun terhadap pola pikir anak- belum mendapatkan perhatian semestinya sesuai dengan bahaya besar yang mengancam anak-anak.”

Kedua:

Wajib bagi para praktisi media untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala terhadap anak-anak muslim. Hendaknya mereka mengetahui bahwa informasi yang mereka tayangkan telah memberikan andil dalam menghancurkan sebuah masyarakat, tersebarnya keburukan, kekerasan, kerusakan. Mereka tidak hanya cukup merusak pemuda dan pemudi, laki-laki dan wanita dewasa denga film-film dan nyanyian, bahkan mereka tambah pula ‘karya’ mereka dengan sesuatu yang dapat merusak aqidah dan akhlak anak-anak yaitu dengan mengimpor dari timur dan barat tayangan anak-anak yang dapat menghancurkan dan merusak mereka.

Ketiga:

Beberapa cara yang dianjurkan bagi para orang tua untuk menghadapi serbuan tersebut terhadap anak-anak adalah;
1- Memperhatikan agar anak-anak menghafal Al-Quran dan memanfaatkan waktu kecil mereka untuk hal tersebut.
2- Mendidik mereka untuk mencintai Nabi shallallahu alaihi wa sallam beserta para shahabatnya yang mulia dengan mempelajari sejarah mereka serta memilihkan buku yang cocok dalam masalah ini untuk mereka.
3- Mengajarkan sedikit masalah akidah dengan cara yang mudah, seperti tauhid kepada Allah, mengagungkannya, mencintainya, takut kepada-Nya, kekuasaan-Nya di atas segala sesuatu, dan bahwa Dia Allah adalah sang Pencipta dan Pemberi Rizki. Serta prinsip lainnya yang sesuai dengan usia mereka.
4- Mendidik mereka untuk melakukan penolakan terhadap kemungkaran (inkarul munkar) dan membencinya. Ajarkan agar dia tidak setuju dengan film yang ada musiknya atau kartun anak wanita yang bersolek, atau yang ada salib padanya. Bahkan seandainya dia melihat seseorang makan dan minum tanpa menyebut nama Allah, dia mengingkarinya. Jika dia melihat ada orang yang mencuri, menculik atau membunuh, maka dia mengingkarinya. Pendidikan-pendidikan semacam itu akan bermanfaat apabila dia menyaksikan film kartun insya Allah, karena boleh jadi dia akan menyaksikannya di luar rumahnya, maka dia akan cepat-cepat mematikannya atau tidak menyaksikannya. Banyak cerita menarik tentang anak-anak yang dididik dengan hal-hal tersebut dan menjadi sebab tercegahnya kemunkaran yang banyak.

Di antara alternatif untuk menghadapi film kartun yang merusak adalah;
1. Meproduksi acara serupa yang dapat menandingi film kartun yang sesuai dengan ajaran Islam dan tidak mengandung kemungkaran serta mengajarkan anak pada nilai-nilai mulia. Tidak mengapa jika menggunakan film kartun yang sama, akan tetapi di produk ulang kembali dengan membuang bagian-bagian yang munkar, kemudian diganti dengan kalimat yang boleh dan tidak bertentangan dengan syariat. Dalam hal ini televisi Al-Majd telah menempuh langkah yang baik dengan mengambil langkah tersebut. Dia memiliki acara khusus film kartun dengan melakukan dubbing yang bermanfaat terhadap film kartun yang cukup terkenal, sehingga tercapai dua sasaran sekaligus, yaitu memenuhi selera anak dan sampainya pesan pendidikan dan pengajaran di dalamnya.

Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata,
“Akhir-akhir ini ada fenomena sebagian studio Islam yang memproduksi film kartun. Mereka mengatakan ini adalah islami. Misalnya ada produk yang berjudul “Penakluk Konstantinopel” atau “Rihlatussalam (Perjalanan Perdamaian)” terakhir adalah film “Ghulan Najran (Anak Najran)” yang disebut dalam surat Al-Buruj atau dalam dalam hadits shahih Muslim. Film kartun ini mereka jadikan sebagai alternatif dari film kartun yang merusak. Apa hukum perkara ini?”

Maka beliau menjawab:

“Saya menilai bahwa hal itu, insya Allah, tidak mengapa, karena kenyataannya, sebagaimana anda sebutkan, ingin melindungi anak-anak dari perkara yang diharamkan. Paling tidak, jika hal tersebut memang harus, hal itu lebih ringan dari apa yang mereka sebut sebagai film kartun yang kami dengar dapat menimbulkan keraguan dalam akidah, atau mempertontonkan wujud tuhan ketika turun hujan, na’uzu billah, dan yang semacamnya. Secara umum, saya menganggap hal tersebut tidak mengapa….

Pendapat saya tersebut, jika di dalamnya hanya terdapat kebaikan, maka tidak mengapa, tapi jika diiringi musik, maka hal tersebut tidak dibolehkan. Karena musik termasuk perkara yang diharamkan.”
(Liqo Bab Maftuh, 127/soal no. 10)

2. Memilih program pendidikan yang dapat menggambungkan antara hiburan dan pendidikan. Program seperti itu kini sudah banyak beredar baik audio maupun video. Ada yang membicarakan tentang dunia laut, dunia hewan. Chanel Al-Majid untuk program dokumentasi memiliki partisipasi bagus dalam masalah ini. Programnya juga tidak ada musiknya dan tampilan wanita.
Film karton dan tayangan-tayangan lainnya harus sesuai dengan ketentuan syariat. Saudari Huda Al-Gufaish telah menyebutkan sebagian dari prinsip-prinsip tersebut. Harian Al-Jazirah telah melaporkan terkait kajian tersebut;
“Kajian merekomendasikan tentang beberapa karakteristik yang hendaknya diperhatikan oleh mereka yang hendak membuat program untuk anak-anak, di antaranya; Menjauhi tayangan yang menimbulkan ketakutan dan mengakibatkan sifat penakut di kalangan anak-anak. Karena dalam fase seperti itu, secara kejiwaan bisa saja dia meyakini perkara-perkara menghantuinya. Karena anak kecil usia dua hingga lima tahun merasa takut dengan kesendirian, api, hewan dan segala sesuatu yang bersifat khayaan, seperti hantu, ifrit. Menayangkan tayangan-tayangan semacam itu, dapat mengganggu kejiwaan sang anak.

Hendaknya program anak-anak memperhatikan sosialisasi nilai-nilai dan jangan terlalu mengeksploitir tangisan, karena hal tersebut hanya akan membentuk pribadi yang lemah dan tidak kuat menanggung beban, akan tetapi hendaknya dia menyodorkan nilai-nilai positif dengan ragam acara menarik dan tayangan yang menumbuhkan rasa optimis serta membahagiakan.

Ditekankan pula bahwa dunia tayangan anak-anak merupakan ilmu dan seni sebelum dia menjadi sebuah hobi. Kita harus memperhatikan kode etik ilmiah dan seni, jangan mengeksploitir aspek fantasi, karena hal tersebut sangat berbahaya bagi penangkapan anak-anak. Hendaknya aspek teresbut dimasukkan sedikit saja.

Kajian tersebut juga menuntut pentingnya dilakukan sebuah kajian terhadap pengaruh film kartun berdasarkan ketentuan-ketentuan syariat agar tujuannya tidak semata hiburan dan memberikan alternatif. Agar kita mengetahui apa yang telah diberikan oleh alternatif islami bagi anak-anak. Karena yang cukup mengundang perhatian adalah bahwa mayoritas tayangan alternatif tersebut sangat memperhatikan aspek bagaimana produk mereka tidak bertentangan dengan ketentuan syariat, akan tetapi mereka melupakan satu sisi yang sangat penting, yaitu bagaimana agar tayangan tersebut berhasil menanamkan nilai aqidah Islam berdasarkan langkah-langkah yang sudah dikaji dan sesuai dengan umur penontonnya. Penting juga para pakar ilmu syariat turun tangan untuk menghadapi serbuan yang menyerang akal anak-anak kita tanpa ampun.” Selesai

3. Sibukkan anak-anak dengan kegiatan yang sehat dan bermanfaat. Seperti ikut kegiatan olah raga, renang, atau permainan lainnya yang dibolehkan. Hal tersebut akan menghimpun antara hiburan dan manfaat. Namun hendaknya dipilihkan club dan tempat pergaulan yang baik.

4. Membuka situs-situs islami yang memiliki link program untuk anak-anak. Yaitu yang menampilkan flash yang bermanfaat atau permainan yang menghibur atau film kartun para nabi dan orang saleh, atau juga menampilkan peperangan dalam sejarah Islam. Dalam situs Asy-Syabakah Islamiyah adalah space khusus untuk anak-anak yang sangat bermanfaat.

Sebagaimana dapat kita saksikan, wahai saudaraku, bahwa kita tidak dapat memperlakukan anak-anak sebagaimana orang dewasa. Maka kami ingatkan kepada para orang tua agar kita memenuhi hasrat anak-anak untuk menikmat apa yang mereka saksikan, atau permainan yang mereka ikuti, akan tetapi pada waktu yang sama kita juga jangan biarkan semuan begitu saja, agar jangan sampai di sana terjadi pelanggaran syariat atau agar jangan sampai anak-anak menjadi sumber kerusakan bagi kita. Karena itu, kami menganjurkan perusahaan atau lembaga yang mampu memproduksi tayangan untuk anak-anak, agar jangan sampai lalai dalam masalah ini, mereka sangat membutuhkan hal ini, sebagaiman para wali anak sangat membutuhkan alternative yang bermanfaat dan menyenangkan anak-anak mereka. Kami juga melihat pentingnya tayangan-tayangan khusus untuk anak-anak wanita, agar mereka terdidik untuk memiliki rasa malu dan menundukkan pandangan sejak kecil.

Terkait dengan perkara yang bermanfaat dalam masalah ini, saudarai Huda Al-Ghafis memberikan jawaban sebagaimana dilansir oleh harian Al-Jazirah,
“Terkait dengan dampak negative media dan bagaimana mengatasinya, maka kajian ini menyarankan untuk melakukan program pendidikan yang dibangun dengan asas pembangunan keimanan, melalui perbaikan hati, penguatan akidah yang dapat mencegah pengaruh-pengaruh negative tersebut. Kajian ini telah mencatat sejumlah pengaruh buruk tersebut dan bagaimana mencari solusinya;

Pertama: Banyak dilakukan wawancara pers dengan bintang-bintang sepak bola, artis, dan menyibukkan diri dengan gaya hidup mereka, pesta-pesta mereka, pada gilirannya akan menjadikan mereka sebagai idola bagi anak-anak. Maka kajian ini menyarankan agar mengaitkan keteladanan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan cara mendekatnya sirah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan kisah-kisah yang akrab di kalangan anak-anak.

Kedua: Anak-anak mengingat tokoh-tokoh yang terdapat dalam film kartun, kemudian mereka akan minta dibelikan pakaian yang dikenakan tokoh tersebut. Maka solusinya adalah dekatkan anak-anak dengan kisah kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, para shahabatnya dan sejarah kaum muslimin.

Ketiga: Mudahnya anak-anak menerima pemikiran dan idiolog yang tidak sesuai dengan keyakinan kita, maka terapi yang dianjurkan kajian ini adalah dengan memperkuat imunitas pribadi di kalangan anak-anak, mengajarkan mereka Kitabullah dan memperhatikan masalah itu serta mengaitkan Al-Quran dalam semua sisi kehidupan mereka.

Keempat: Menurunnya tingkat kebanggaan dan kemuliaan diri dengan memeluk Islam. Hal tersebut karena sang anak tidak dididik mencintai Islam dan mengajarkannya nilai-nilai kehidupan seorang muslim yang bertauhid. Untuk mengatasi masalah ini, wajib selalu disampaikan kelebihan-kelebihan Islam, memanfaatkan moment-moment tertentu untuk keperluan tersebut serta membandingkannya dengan agama-agama yang lain. Hendaknya kita menunaikan amanah dengan baik dan jujur dalan hal ini.” Selesai
Wallaha’lam.

Sumber: islamqa.com

sapa suruh berdemo??

Standar

Pada bahasan ini para pembaca akan disuguhi bahasan ilmiah tentang hadits kisah demonstrasi yang dipimpin Hamzah dan Umar rahimahullâhu, agar mengerti benar akan hakekat kisah yang mashur ini, dimana mereka yang gemar demostrasi menjadikan hadits ini sebagai dalil disyariatkan demonstrasi.
Pertama : Matan (teks) kisah
رُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : “شَرَحَ اللهُ صَدْرِي لِلإِِسْلاَمِ، فَقُلْتُ: اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ لَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى، فَمَا فِي اْلأَرْضِ نَسَمَةٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَسَمَةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، قُلْتُ : أَيْنَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ؟ قَالَتْ أُخْتِي: هُوَ فِي دَارِ اْلأَرْقَم بْنِ أَبِي اْلأَرْقَم عِنْدَ الصَّفَا، فَأَتَيْتُ الدَّارَ وَحَمْزَةُ فِي أَصْحَابِهِ جُلُوْس فِي الدَّارِ، وَرَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْبَيْتِ، فَضَرَبْتُ الْبَابَ فَاسْتَجْمَعَ الْقَوْمُ جُلُوْسًا فِي الدَّارِ، وَرَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْبَيْتِ، فَضَرَبْتُ الْبَابَ فَاسْتَجْمَعَ الْقَوْمُ فَقَالَ لَهُمْ حَمْزَة : مَا لَكُمْ؟ قَالُوْا : عُمَرُ، قَالَ : فَخَرَجَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَخَذَ بِمَجَامع ثِيَابِهِ ثُمَّ نَثَرَهُ نَثْرَةً فَمَا تَمَالَكَ أَنْ وَقَعَ عَلَى رُكْبَتِهِ، فَقَالَ : “ماَ أَنْتَ بِمِنَّتِهِ يَا عُمَرُ؟”. فَقُلْتُ : أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، فَكَبَّرَ أَهْلُ الدَّارِ تَكْبِيْرَةً سَمِعَهَا أَهْلُ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ : ياَ رَسُوْلَ اللهِ، أَلَسْنَا عَلَى الْحَقِّ إِنْ مِتْنَا وَإِنْ حَيَّيْنَا؟ قَالَ : “بَلَى، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ عَلَى الْحَقِّ إِنْ مِتُّمْ وَإِنْ حَيَّيْتُمْ”. فَقُلْتُ : فَفِيْمَ اْلاِخْتِفَاءُ؟ وَالَّذِي بَعَثَكَ باِلْحَقِّ لَنَخْرُجَنَّ فَأَخْرَجْنَا فِي صَفَّيْنِ حَمْزَة فِي أَحَدِهِمَا وَأَنَا فِي الآخِرِ لَنَا كَدِيْدٌ كَكَدِيْدِ الطَّحِيْنِ حَتىَّ دَخَلْنَا الْمَسْجِدَ، فَنَظَرَتْ إِليَّ قُرَيْشٌ وَإِلَى حَمْزَة فَأَصَابَتْهُمْ كَأْبَة لَمْ يُصِبْهُمْ مِثْلَهَا.
Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata : “Allah melapangkan hatiku untuk memeluk agama Islam, lalu aku mengatakan : ”Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia memiliki al-Asmâ` al-Husnâ (nama-nama yang baik), tidak ada di bumi seseorang yang lebih aku cintai melebihi Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam”. Aku bertanya : “Dimana Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam?” Saudara perempuanku menjawab : “Dia berada di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam di as-Shofa”. Lalu aku mendatangi rumah itu, pada waktu itu Hamzah bin Abdul Muthalib duduk bersama para sahabat Nabi lainnya di lingkungan rumah, sedangkan Nabi berada di dalam rumah, lalu aku ketuk pintu rumah. Tatkala para sahabat Nabi mengetahui kedatanganku mereka pun datang bergerombol, lalu Hamzah bertanya kepada para sahabat Nabi : “Apa yang terjadi dengan kalian?” mereka menjawab : “Ada Umar bin Khattab”. Kemudian Umar melanjutkan ceritanya : “Lalu Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam datang, dan memegang baju Umar dan mendorongnya, maka Umar pun terjatuh di atas kedua lututnya, lalu Nabi bersabda : “Wahai Umar apa yang kamu inginkan.?” Lalu aku menjawab : “Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu baginya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya”. Mendengar hal ini para sahabat Nabi yang berkumpul bertakbir dengan takbir yang didengar orang-orang yang berada di Masjidil Haram. Aku pun berkata pada Nabi : “Bukankah kita berada di atas kebenaran baik kita mati atau hidup?” beliau Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam menjawab : “Benar, wahai Umar, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kalian di atas kebenaran baik kalian mati atau hidup”. Aku menyahut : “Lalu mengapa kita bersembunyi, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran kita akan keluar (terang-terangan menampakkan ke-Islaman)”. Lalu kamipun keluar dalam dua barisan, Hamzah pada salah satu barisan dan saya pada barisan lainnya. Hingga kami memasuki Masjidil Haram (Ka’bah). Maka orang-orang dari suku Quraisy melihat kepadaku dan kepada Hamzah, lalu merekapun bersedih hati dengan hal ini dengan kesedihan yang tidak pernah mereka alami sebelumnya.”
Kedua : Takhrij hadits
Kisah ini dinukil Abu Nu’aim dalam kitab “al-Hilyah (1-40)”, ia berkata : “Telah bercerita pada kami Muhammad bin Ahmad bin al-Hasan, telah bercerita pada kami Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah, telah bercerita pada kami Abdul Hamid bin Shalih, telah bercerita pada kami Muhammad bin Aban dari Ishâq bin Abdullâh dari Aban bin Shalih dari Mujahid dari Ibnu Abbas dari Umar bin al-Khattab.
Aku berkata : “Dengan sanad inilah Abu Nuaim mencantumkan dalam kitab “ad-Dalâ`il” hal. 194.
Ketiga : Tahqiq (verifikasi)
Kisah ini adalah kisah tidak benar, di dalamnya terdapat perawi yang tidak bisa diterima periwayatannya (cacat) yaitu : “Ishâq bin Abdullâh”.
1. Al-Imam al-Mizzi menyebutkan namanya dalam kitab “Tahdzîbul Kamâl” (2-57-362) dan ia berkata : “Ishâq bin ‘Abdullâh bin Abi Farwah meriwayatkan dari Abân bin Shâlih dst”.
2. Al-Imam an-Nasâ`î berkata dalam kitab “Ad-Dhu`afâ’ wal Matrûkîn” tentang riwayat hidup perawi ke (50) : “Perawi ini tidak diambil periwayatan haditsnya”. Komentar saya : “Ini adalah istilah al-Imam an-Nasâ`î, makna istilahnya itu adalah sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dalam kitab “Syarh an-Nukhbah” hal (69) : “Madzhab/metode an-Nasâ`î adalah ia tidak meninggalkan hadits (tidak mengambilnya) sampai benar-benar para ulama bersepakat untuk tidak diambil (hadits tersebut)”.
3. Al-Imam al-Bukhârî berkata dalam kitab “Ad-Dhu`afâ’ al-Kabîr” tentang riwayat hidup perawi ke (20) : “Ishâq bin ‘Abdullâh bin Abi Farwah, para ulama hadits meninggalkannya”.
4. Al-Imam ad-Dâraquthnî berkata dalam kitab “Ad-Dhu`afâ’ wal Matrûkîn” nomor (94) : “Ia perawi yang tidak diambil haditsnya”.
5. ‘Alî bin al-Hasan al-Hasnajânî berkata dari Yahyâ dia berkata : “Ia (Ishâq bin ‘Abdullâh) pendusta”. Demikianlah disebutkan dalam kitab “Tahdzîbul Kamâl” (2-61)
6. Ibnu Hibbân berkata dalam kitab “al-Majrûhîn” (1-131) : “Ia sering membalikkan riwayat hadits dan sering menjadikan riwayat yang mursal (dari tabi’in) menjadi marfû’ (sampai kepada Nabi) dan Ahmad bin Hanbal melarang dari mengambil haditsnya”.
7. Ibnu Abî Hâtim berkata dalam kitab “al-Jarh wat Ta’dîl” (2-228) nomor (792) : “Saya mendengar ayahku berkata : “Ishâq bin ‘Abdullâh bin Abi Farwah adalah perawi yang haditsnya tidak diambil”. Kemudian Ibnu Abî Hâtim menyebutkan dengan sanadnya dari Yahyâ bin Ma’în, ia berkata : “Ishâq bin Abi Farwah adalah pendusta’. Dan dengan sanad lainnya dari Yahyâ, bahwasanya ia berkata : “Ishâq bin Abi Farwah adalah pembohong besar. Kemudian Ibnu Abî Hâtim berkata : Saya mendengar Abû Zur’ah berkata : “Ishâq bin ‘Abdullâh bin Abi Farwah adalah seorang perawi yang haditsnya tidak diambil”. Kemudian Ibnu Abî Hâtim menyebutkan dengan sanadnya sampai kepada ‘Amrû bin ‘Alî asy-Syirâfî, bahwasanya ia menceritakan bahwa Ishâq bin ‘Abdullâh bin Abi Farwah adalah perawi yang tidak diambil haditsnya”.
8. Saya (Syaikh Hasyîsy) berkata : “Ibnu ‘Adî telah menjelaskan hal ini (pendapat para ulama hadits tentang tidak diambilnya riwayat Ishâq bin ‘Abdullâh bin Abi Farwah dalam kitab “al-Kâmil” (1-326) (154-154) dalam biografi yang mencapai lebih dari 80 baris, ia menutupnya dengan ucapan : “Dan Ishâq bin Abi Farwah ini saya tidak menyebutkan hadits-haditsnya dalam kitab ini dengan sanad-sanad yang telah aku sebutkan, karena tidak seorangpun menukil sanad-sanadnya dan tidak pula matannya, dan seluruh hadits-haditsnya yang tidak aku sebutkan menyerupai berita-berita yang aku sebutkannya, dan ia telah menerangkannya dalam kitab “ad-Dhuafâ`”.
Komentar saya :
Dengan penjelasan ini telah jelas hal-hal berikuti ini :
1. Bahwa metode an-Nasâ`î adalah tidak meninggalkan hadits seorang perawi sampai sepakat para ulama untuk meninggalkannya.
2. Jelaslah hakekat riwayat Ishâq bin ‘Abdullâh bin Abi Farwah, tidak ada dari kalangan ulama yang mengambil sanad dan matan hadits darinya.
3. Berdasarkan hal ini, maka kisah di atas tidak berdasar, dan sanad hadits ini cacat, dan riwayat ini palsu.
Keempat : Hal-hal yang mendukung akan tidak benarnya riwayat kisah ini
1. Al-Imam al-Bukhârî telah membuat bab dalam Shahîh-nya kitab “Manâqib al-Anshâr” bab nomor 35 : “Islamnya Umar bin Khattab Radhiyallâhu ‘anhu“, dan ia menyebutkan di dalamnya hadits ke 3865 dari hadits Abdullâh bin Umar Radhiyallâhu ‘anhumâ ia berkata :
لَمَّا أَسْلَمَ عُمَرُ، اجْتَمَعَ النَّاسُ عِنْدَ دَارِهِ وَقاَلُوْا : صَبَأَ عُمَرُ- وَأَنَا غُلاَمٌ فَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِي- فَجَاءَ رَجُلٌ عَلَيْهِ قُبَاء مِنْ دِيْبَاج، فَقَالَ: قَدْ صَبَأَ عُمَرُ، فَمَا ذَاكَ فَأَنَا لَهُ جَارٌ؟. قَالَ: فَرَأَيْتُ النَّاسَ تَصَدَّعُوْا عَنْهُ، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ فَقَالُوْا: العَاصُ بْنُ وَائِل
“Tatkala Umar bin Khattâb masuk Islam, orang-orang berkumpul di rumahnya, dan berkata : “Umar telah menjadi pengikut agama Shobi`î – dan pada waktu itu saya masih kecil, saya berada di atap rumah – lalu datanglah seorang laki-laki memiliki sapu tangan besar terbuat dari sutera, dan berkata : “Tidak mengapa Umar memeluk agama Shobi`i (ia tidak akan dibunuh atau dihalangi), dan saya melindunginya dari orang yang berbuat zalim terhadapnya)”. Ibnu Umar berkata : (setelah mendengar ucapan tokoh Quraisy itu) aku melihat orang-orang bubar”. lalu aku pun bertanya : “Siapa orang itu?” mereka menjawab : “Al-‘Ash bin Wail (tokoh Quraisy)”.
2. Al-Hâfizh Ibnu Katsîr menyebutkan dalam kitab “al-Bidâyah wan Nihâyah”(3-81) tentang Islamnya ‘Umar bin Khaththâb : Ibnu Ishâq berkata : “Nâfi’ hamba sahaya Ibnu ‘Umar telah bercerita padaku dari Ibnu Umar, ia berkata :
لَمَّا أَسْلَمَ عُمَرُ قَالَ: أَيُّ قُرَيْشٍ أَنْقَلُ لِلْحَدِيْثِ؟ فَقِيْلَ لَهُ : جَمِيْل بْنُ مَعْمَرٍ الجُمَحِي. فَغَدَا عَلَيْهِ. قَالَ عَبْدُ اللهِ : وَغَدَوْتُ أَتْبَعُ أَثَرَهُ، وَأَنْظُرُ مَا يَفْعَلُ وَأَنَا غُلاَم أَعْقَلَ كُلَّ مَا رَأَيْتُ، حَتىَّ جَاءَهُ فَقَالَ لَهُ : أَعْلَمْتُ ياَ جَمِيْل أَنِّي أَسْلَمْتُ وَدَخَلْتُ فِي دِيْنِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم ؟ قاَلَ : فَوَاللهِ، مَا رَاجَعَهُ حَتىَّ قَامَ يُجِرُّ رِدَاءَهُ، وَاتَّبَعَهُ عُمَرُ، وَاتَّبَعْتُهُ أَنَا، حَتَّى إِذَا قَامَ عَلىَ بَابِ الْمَسْجِدِ صَرَخَ بِأَعْلَى صَوْتِهِ: يَا مَعْشَر قُرَيْشٍ، وَهُمْ فِي أَنْدِيَتِهِمْ حَوْلَ الْكَعْبَةِ، أَلاَ إِنَّ ابْنَ الْخَطَّابِ قَدْ صَبَأَ. قَالَ : يَقُوْلُ عُمَرُ مِنْ خَلْفِهِ: كَذَب، وَلَكِنِّي قَدْ أَسْلَمْتُ، وَشَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَثاَرُوْا إِلَيْهِ فَمَا بَرِحَ يُقَاتِلُهُمْ وَيُقَاتِلُوْنَهُ حَتىَّ قَامَتِ الشَّمْسُ عَلَى رُؤُوْسِهِمْ. قاَلَ: وَطَلَحَ فَقَعَدَ، وَقَامُوْا عَلَى رَأْسِهِ وَهُوَ يَقُوْلُ : افْعَلُوْا مَا بَدَا لَكُمْ، فَأَحْلَفَ بِاللهِ أَنْ لَوْ قَدْ كُنَّا ثَلاَثُمِائَة رَجُلٍ لَقَدْ تَرَكْنَاهَا لَكُمْ، أَوْ تَرَكْتُمُوْهَا لَنَا. قاَلَ: فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى ذَلِكَ؛ إِذْ أَقْبَلَ شَيْخٌ مِنْ قُرَيْشٍ عَلَيْهِ حُلَّة حَبَرَة وَقَمِيْصُ مُوْشَى، حَتَّى وَقَفَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ: مَا شَأْنُكُمْ؟ فَقَالُوْا: صَبَأَ عُمَرُ. قَالَ: فَمَه؛ رَجُلٌ اخْتَارَ لِنَفْسِهِ أَمْرًا، فَمَاذَا تُرِيْدُوْنَ؟ أَتَرْوْنَ بَنِي عَدِي يُسْلِمُوْنَ لَكُمْ صَاحِبَكُمْ هَكَذَا؟ خَلُّوْا عَنِ الرَّجُلِ. قَالَ: فَوَاللهِ، لَكَأَنَّمَا كَانُوْا ثَوْبًا كُشِطَ عَنْهُ. قَالَ : فَقُلْتُ لأَبِي بَعْدَ أَنْ هَاجَرَ إِلَى الْمَدِيْنَةِ: يَا أَبَتِ، مَنِ الرَّجُلِ الَّذِي زَجَرَ الْقَوْمَ عَنْكَ بِمَكَّةَ يَوْم أَسْلَمْتَ وَهُمْ يُقَاتِلُوْنَكَ؟ قَالَ : ذَاكَ أَيْ بُنَيَّ، العَاصُ بْنُ وَائِل السهمي.
“Tatkala Umar masuk Islam, ia berkata : “Siapa dari kalangan suku Quraisy yang cepat dalam menyampaikan berita?” Lalu dikatakan padanya : “Jamil bin Ma’mar al-Jumahi”. Lalu ia pergi menemuinya. Abdullâh bin Umar berkata : “Akupun ikut pergi mengikuti ayahku, untuk melihat apa yang akan ia lakukan dan aku adalah seorang anak (kecil) yang memahami apa saja yang aku lihat, hingga sampailah Umar ke tempat Jamil bin Ma’mar al-Jumahi, maka ia berkata padanya : “Aku memberitahukan padamu wahai Jamil, bahwa aku masuk Islam dan memeluk agama Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Abdullâh bin Umar berkata : “Demi Allah, Jamil pun segera menyingsingkan selendangnya berangkat menuju masjid dan Umar mengikutinya, akupun mengikutinya, hingga tatkala Jamil sampai di pintu masjid ia berteriak dengan teriakan lantang : “Wahai kaum Quraisy, pada saat itu kaum Quraisy sedang duduk-duduk dalam majelis mereka disekitar Ka’bah, ketauhilah bahwa Umar bin Khattab telah memeluk agama Shobi-i.
Abdullâh bin Umar melanjutkan ceritanya : “Saat itu pula Umar menyahut dari belakang Jamil : “Jamil telah berdusta”, aku tidak memeluk agama Shobi-i tapi aku telah memeluk agama Islam”. Dan Umar pun mengucapkan syahadat laa ilaa ha illallah wa anna muhammadan Rasûlullâh, maka segeralah orang-orang Quraisy menganiaya Umar dan Umar melawan mereka hingga siang hari. Abdullâh bin Umar berkata : “Umar pun kecapekan lalu duduk, dan orang-orang Quraisy mengerumuninya sedang Umar berkata : “Lakukanlah apa saja, aku bersumpah demi Allah kalau kami berjumlah tiga ratus orang laki-laki, kami pasti akan melawan, kami menang atau kalian yang menang (sekarang saya sendirian tidak dapat berbuat apa-apa, pent)”.
Abdullâh bin Umar berkata : “Di saat suasana seperti itu, tiba-tiba datang seorang tokoh Quraisy berpakaian bagus berdiri dihadapan mereka, lalu berkata : “Ada apa dengannya?” Mereka menjawab : “Umar bin Khattab telah memeluk agama Shobi-i”. Ia pun berkata : “Seseorang bebas memilih urusannya sendiri, lalu apa yang kalian inginkan? Apakah kalian mengira bahwa Bani Adi (suku Umar bin Khattab) akan membiarkan tindakan kalian ini? Tinggalkanlah laki-laki ini”. Abdullâh bin Umar melanjutkan : “Demi Allah, setelah mendengar ucapan tokoh Quraisy itu seolah-olah mereka adalah pakaian yang dilipat olehnya. Abdullâh bin Umar berkata : “Maka akupun bertanya kepada ayahku setelah hijrah ke Madinah : “Wahai ayah, siapakah laki-laki yang membubarkan orang-orang darimu di Makkah pada hari engkau masuk Islam dimana mereka ingin membunuhmu?” Umar menjawab : “Wahai anakku, itu adalah al-Ash bin Wail as-Sahmi”.
Riwayat ini sanadnya kuat, dan kisah ini menunjukkan bahwa Umar bin Khattab bukan kalangan sahabat yang masuk Islam pertama kali. Karena ketika Ibnu Umar mengajukan diri untuk ikut perang Uhud, saat itu usianya 14 tahun, dan perang Uhud terjadi pada tahun 3 hijriyah, sedangkan saat ayahnya masuk Islam Ibnu Umar adalah anak kecil yang baligh. Maka masuk Islamnya Umar adalah sekitar 4 tahun sebelum hijrah, yang demikian itu 9 tahun setelah kenabian. Wallahu ‘alam.
Komentar saya : “al-Hâfizh Ibnu Katsîr juga mengutip kisah ini dalam kitab “as-Sîroh an-Nabawiyyah” menukil dari Ibnu Ishâq lalu menyebutkan tahqiq ini. Demikian pula, Ibnu Hisyam menjelaskan dalam kitab “as-Sîrah an-Nabawiyyah” (1-437) (334) juga menukil dari Ibnu Ishâq, demikian pula Ibnu al-Atsîr menyebutkan dalam kitab “Asad al-Ghâbah” (4-150) menukil dari Ibnu Ishâq, lalu al-Hâkim menyebutkan dalam kitabnya (3/85) dari jalan Ibnu Ishâq, dan ia berkata : “Riwayat ini Shahîh dengan syarat Muslim”. Dan adz-Dzahabî menyepakatinya sebagaimana yang telah kami jelaskan di atas, dan Ibnu Katsîr berkata : “Dan sanad riwayat ini adalah kuat”.
Komentar saya : “Sanad riwayat ini bertambah kuat, dengan pencantuman riwayat ini oleh al-Bukhârî (3864) dari jalan lain dari Zaid bin Abdullâh bin Umar dari ayahnya, ia berkata : “Ketika Umar di rumah dalam keadaan takut ….” Hadits dengan lafadnya sebagaimana di atas.
Kelima : Sabar dan tegar saat terjadi kesulitan dan bukannya malah demonstrasi
Diriwayatkan oleh Bukhârî dalam Shahîh Bukhârî (hadits ke 3852) dari hadits Khobâb bin al-Arat, ia berkata : “Saya pernah menemui Nabi, saat itu beliau mengenakan selimut di Ka’bah – dan saat itu kami mendapatkan gangguan yang sangat dari kaum musyrikin- lalu aku berkata : “Wahai Rasûlullâh, tidakkah engkau mendoakan kami kemenangan?” lalu beliau duduk dan wajahnya memerah, lalu berkata : “Sungguh orang-orang yang beriman sebelum kalian ada yang disiksa dengan sisir besi hingga terkelupas kulit dan dagingnya dari tulang, namun siksaan itu tidak membuat mereka murtad. Dan ada juga yang digergaji dari kepala hingga terbelah menjadi dua, namun hal ini tidak membuat mereka murtad. “Sungguh Allah akan menyempurnakan urusan ini, hingga seorang pengendara tidak merasakan takut kecuali takut kepada Allah tatkala melakukan perjalanan dari Shan’a ke Hadramaut”.
Komentar saya : Imam Bukhârî juga menyebutkan hadits ini pada nomor 3612 dari hadits Khobab, Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
وَاللهِ ليَتِمَّن هَذَا الأَمْرُ حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاء إِلَى حَضَرَمَوْت لاَ يَخَافُ إِلاَّ الله أَوْ الذِّئْب عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ
“Demi Allah, sungguh Allah akan menyempurnakan urusan ini hingga seorang pengendara dari Shan’a ke Hadramaut tidak merasakan ketakutan dalam perjalanannya kecuali hanya takut kepada Allah atau seperti ketakutan seseorang atas kambingnya dari serigala, akan tetapi kalian terburu-buru”.
Komentar saya : “Hadits ini menerangkan kepada kita bagaimana pendidikan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam kepada para sahabatnya tatkala tertimpa musibah berat yaitu bersabar, kokoh dan yakin akan janji Allah dan tidak terburu-buru ingin sukses, dalam rangka mengamalkan firman Allah ta’ala :
“Dan Bersabarlah kamu, Sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS. Ar-Rum : 60)
“Maka Bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul Telah bersabar”. (QS. Al-Ahqaf : 35)
Keenam : Berdoa ketika tertimpa kesulitan dan bukannya malah Demonstrasi
Pertama, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam berdoa ketika dilempari kotoran.
Imam Bukhârî menyebutkan hadits nomor 3854 dalam kitabnya “Shahîh Bukhârî” dari Abdullâh bin Mas’ud Radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata :
بَيْنَا النَّبِي صلى الله عليه وسلم سَاجِدًا وَحَوْلَهُ نَاسٌ مِنْ قُرَيْشٍ، جَاءَ عُقْبَةُ بْنُ أَبِي مُعِيْط بسلى جَزُوْر فَقَذَفَهُ عَلَى ظَهْرِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم فَلَمْ يَرْفَعْ رَأْسَهُ، فَجَاءَتْ فَاطِمَة عَلَيْهَا السَّلاَمُ فَأَخَذَتْهُ مِنْ ظَهْرِهِ وَدَعَتْ عَلَى مَنْ صَنَعَ، فَقَالَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم : اللَّهُمَّ عَلَيْكَ الْمَلأ مِنْ قُرَيْشٍ، أَبَا جَهْلِ بْنِ هِشَام، وَعُتْبَة بْنُ أَبِي رَبِيْعَة، وَشَيْبَة بْنُ رَبِيْعَة، وَأُمَيَّة بْنُ خَلَف، فَرَأَيْتُهُمْ قَتْلَى يَوْم أُحُدٍ فَأُلْقُوْا فِي بِئْرٍ غَيْر أُمَيَّة بْنِ خَلَف تَقَطَّعَتْ أَوْصَالُهُ فَلَمْ يُلْقَى فِى الْبِئْرِ
“Ketika Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam sujud dan disekitarnya ada orang-orang Quraisy, datang Uqbah bin Abi Muith membawa sekeranjang kotoran kambing lalu melemparkannya ke atas punggung Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Namun beliau tidak mengangkat kepalanya dari sujud, hingga datanglah Fâtimah ‘alaihassalam membersihkan kotoran itu dari punggung beliau, kemudian ia mendoakan keburukan pada orang yang melakukannya. Maka Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam berdo’a : “Ya Allah, Engkaulah yang membalas perbuatan orang-orang Quraisy, yaitu Abu Jahl bin Hisyam, Utbah bin Abi Rabi’ah, dan Syaibah bin Rabi’ah, dan Umayyah bin Khalaf. Saya melihat merekapun terbunuh pada hari uhud, lalu mereka dilempar di sumur, selain Umayyah bin Khalaf yang jasadnya terputus-putus, ia tidak dilempar di sumur.
Kedua, Nabi berdoa (qunut naazilah /kutukan) kemudian beliau tinggalkan.
رَعْل وذَكْوَان وَلِحْيَان وعُصَيَّة عَصَتِ اللهَ
“Suku Ra’lun, Dzakwan, Lihyan dan Ushaiyyah telah mendurhakai Allah”.
Anas bin Malik berkata : “Ayat di atas adalah ayat yang Allah turunkan kepada mereka yang terbunuh di sumur Maunah[1], kami membacanya hingga ayat itu mansukh/dihapus setelah ayat :
بَلِّغُوْا قَوْمَنَا أَنْ قَدْ لَقِيْنَا رَبَّنَا فَرِضِيَ عَنَّا وَرَضِيْنَا عَنْهُ.
“Sampaikanlah kepada kaum kami (kaum muslimin), kami telah bertemu dengan Rabb kami, dan Dia ridha terhadap kami, dan kami pun ridha terhadap-Nya”.[2]
Ketujuh : Seruan jihad bukanlah Demonstrasi
Imam Bukhârî menyebutkan dalam “Shahîh Bukhârî” hadits nomor 3077, demikian pula Muslim dalam hadits nomor 1353 dari hadits Ibnu Abbas, ia berkata : Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada hari penaklukkan kota Makkah :
لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوْا
“Tidak ada hijrah lagi setelah ditaklukkannya kota Makkah, akan tetapi yang ada adalah jihad dan niat, dan jika kalian diperintah berjihad (oleh Ulil Amri) maka pergilah”.
Allah ta’ala berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia Ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah : 38)
“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Taubah : 39)
Komentar saya : “Ini adalah sunnah di saat tertimpa musibah yang berat, yaitu : sabar, tegar dan yakin serta tidak tergesa-gesa, khususnya dalam kondisi lemah. Kemudian menyeru kepada jihad dalam kondisi umat sudah memiliki kekuatan dan selalu berdo’a pada setiap keadaan.
Adapun demonstrasi tidak lain hanyalah gemuruh hiruk pikuk suara saja.
Sekian makalah ini, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.
Ini semua adalah petunjuk Allah, dan Dia lebih mengetahui apa yang ada dalam hati kita.
(Sumber : Situs Majalah at-Tauhid, Anshârus Sunnah al-Muhammadiyah Mesir)
[1] 70 orang ahli Qur’an dari sahabat Nabi terbunuh oleh kabilah Ra’lun, Dzakwan, dan Ushaiyyah karena dikhianati.
[2] Di dalam shahih Bukhari dari Anas :
دَعَا النَِّبيُّ عَلَى الَّذِيْنَ قَتَلُوْا أَصْحَابَهُ بِبِئْرِ مَعُوْنَة ثَلاَثِيْنَ صَبَاحًا، يَدْعُو فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ عَلَى رَعْل وَذَكْوَان وَلِحْيَان وَعُصَيَّة، وَيَقُوْلُ : عُصَيَّة عَصَتِ اللهَ، فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالىَ عَلَى نَبِيِّهِ قُرْآنًا قَرَأْنَاهُ حَتَّى نُسِخَ بَعْدَ : بَلِّغُوْا قَوْمَنَا أَنَّا لَقِيْنَا رَبَّنَا فَرَضِيَ عَنَّا وَرَضِيْنَا عَنْهُ، فَتَرَكَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُنُوْتَهُ.
“Nabi berdoa qunut (kebinasaan) kepada mereka yang membunuh para sahabat beliau di sumur Ma’unah” selama tiga puluh hari. Beliau berdoa qunut (mendoakan kejelekan) tatkala shalat subuh atas suku Ra’lu, Dzakwan, Lihyan dan Ushaiyyah, beliau mengatakan : “Ushaiyyah telah durhaka kepada Allah”. Maka Allah turunkan kalimat itu sebagai ayat al-Qur’an kepada nabi-Nya, dan kami baca ayat itu hingga manshukh (dihapus), setelah ayat : “Sampaikanlah kepada kaum kami, bahwa kami telah bertemu Rabb kami, maka Dia meridhai kami dan kami pun ridha pada-Nya”, lalu Nabi tinggalkan doa jeleknya itu (setelah turun ayat yang melarang). (HR Bukhari 586)

pencela salafi berdarah

Standar

Dalam buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, pengarangnya mengatakan bahwa perkataan “man tasyabbaha bi qaumin fa huwa minhum” (siapa yang mirip dengan suatu kaum maka dia termasuk kaum tsb) adalah hanya pepatah Arab. Si pengarang berkomentar: dalil yang sangat lemah dan rapuh seperti lemahnya sarang laba-laba. (dikutip dari buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi”). Ini sangat jelas menghina hadits Rasulullah. Tapi tidak mengherankan karena memang buku tersebut penuh sarat dengan cacian, makian, fitnah dan kebohongan yang nyata.

Padahal, ini adalah hadits nabi shallallahu alaihi wasallam, diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, al-Baihaqi, dll. dari Ibnu Umar. dihasankan ibnu Hajar (dalam Fathul Bari. dalam Bulughul Maram, beliau berkata: dishahihkan ibnu Hibban) dan dishahihkan al-Iraqi (dalam takhrij al-ihya’). Dan di dalam al-Fatawa al-Haditsiyah, al-Haitami menyebut hadits ini dengan mengatakan: wa qod waroda, yang artinya beliau mengakui eksistensi hadits ini.

Silahkan dilihat scan buku tersebut;

Berikut adalah takhrij hadits : “Barangsiapa yang Menyerupai Suatu Kaum, Maka Ia Termasuk Golongan Mereka” dan Faedah Ringkas yang Terdapat di dalamnya (dikutip dari http://www.abul-jauzaa,blogspot.com)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
Hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalan :

1. ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa.
Diriwayatkan oleh Abu Daawud[1] no. 4031, Ahmad[2] 2/50 & 2/92[3], Ath-Thabaraaniy dalam Musnad asy-Syaamiyyiin[4] no. 216, ‘Abdun bin Humaid dalam Al-Muntakhab[5] no. 846, Ibnu Abi Syaibah[6] 5/313 & 12/531, Abu Ya’laa Al-Maushiliy sebagaimana dibawakan Al-Bushairiy dalam Ittihaaful-Khairah[7] no. 5437 & 6205, Ibnul-‘Arabiy dalam Mu’jam-nya[8] no. 1137, Ad-Diinawawiy dalam Al-Mujaalasah wa Jawaahirul-‘Ilmi[9] no. 147, Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan[10] no. 1199, Al-Harawiy dalam Dzammul-Kalaam[11] no. 476, Al-Khathiib dalam Al-Faqiih wal-Mutafaqqih[12] 2/73, Tamaam Ar-Raaziy dalam Al-Fawaaid[13] no. 770, Ibnul-Jauziy dalam Tabliis Ibliis[14] 1/170, Muhammad bin Nashr Ar-Ramliy dalam Tafsiir ‘Athaa’ Al-Khurasaaniy[15] no. 395, Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal[16] 34/324, Adz-Dzahabiy dalam As-Siyar[17] 15/509, dan Ibnu Hajar dalam Taghliiqut-Ta’liq[18] 3/444; dari beberapa jalan, dari ‘Abdurrahmaan bin Tsaabit bin Tsaubaan : Telah menceritakan kepada kami Hassaan bin ‘Athiyyah, dari Abul-Muniib Al-Jurasyiy, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ”
“Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat hingga hanya Allah semata lah yang disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya; dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku; dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi perkaraku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
Keterangan para perawi :
‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsaubaan Al-‘Ansiy, Abu ‘Abdillah Asy-Syaamiy Ad-Dimasyqiy Az-Zaahid (75 – 165 H).
Ahmad bin Hanbal berkata : “Hadits-haditsnya munkar”. Di lain tempat ia berkata : “Tidak kuat dalam hadits”. Di lain tempat ia berkata : “Ia seorang ahli ibadah dari kalangan penduduk Syaam”. Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Shaalih”. Di tempat lain ia berkata : “Dla’iif”. Di tempat lain ia berkata : “Tidak mengapa dengannya”. Dan seperti itulah yang dikatakan oleh ‘Aliy bin Al-Madiiniy, Ahmad bin ‘Abdillah Al-‘Ijliy, dan Abu Zur’ah Ar-Raaziy (yaitu : “Tidak mengapa dengannya”). Berkata Mu’aawiyyah bin Shaalih, ‘Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimiy, dan ‘Abdullah bin Syu’aib Ash-Shaabuuniy, dari Yahyaa bin Ma’iin : “Dla’iif”. Mu’aawiyyah menambahkan : “Aku bertanya (kepada Ibnu Ma’iin) : “Apakah ditulis haditsnya ?”. Ia menjawab : “Ya, bersama dengan kedla’ifannya. Ia seorang laki-laki yang shaalih”. Abu Bakr bin Abi Khaitsamah, dari Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Tidak ada apa-apanya”. Ya’quub bin Syaibah As-Saduusiy berkata : “Para shahabat kami berbeda pendapat tentangnya. Adapun Yahyaa bin Ma’iin melemahkannya, sedangkan ‘Aliy bin Al-Madiiniy mempunyai pandangan yang baik terhadapnya. Ibnu Tsaubaan seorang laki-laki yang jujur, tidak mengapa dengannya…”. ‘Amru bin ‘Aliy berkata : “Hadits orang-orang Syaam itu semuanya dla’iif, kecuali beberapa orang, diantaranya : Al-Auzaa’iy, ‘Abdurrahmaan bin Tsaabit bin Tsaubaan,….”. Duhaim berkata : “Tsiqah, dituduh berpemahaman Qadariyyah. Al-Auzaa’iy menuliskan hadits kepadanya. Aku tidak tahu sesuatu yang menjadikan menolaknya”. Abu Haatim berkata : “Tsiqah”. Di tempat lain ia berkata : “….Berubah akalnya di akhir usianya, dan ia seorang yang haditsnya lurus (mustaqiimul-hadiits)”. Abu Daawud berkata : “Tidak mengapa dengannya”. An-Nasaa’iy berkata : “Dla’iif”. Di tempat lain ia berkata : “Tidak kuat”. Di tempat lain ia berkata : “Tidak tsiqah”. Shaalih bin Muhammad Al-Baghdaadiy berkata : “Orang Syaam yang jujur, kecuali ia punya madzhab Qadariyyah. Orang-orang mengingkari hadits-haditsnya yang ia riwayatkan dari ayahnya, dari Mak-huul. Ibnu Khiraasy berkata : “Dalam haditsnya terdapat kelemahan”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Ia mempunyai hadits-hadits yang baik….. Ia seorang laki-laki yang shaalih, ditulis haditsnya bersamaan dengan kelemahannya. Adapun ayahnya seorang yang tsiqah”. Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat. Abu Bakr Al-Khathiib berkata : “Ia termasuk orang yang disifati dengan zuhd, ahli ibadah, dan kejujuran dalam riwayat” [selengkapnya lihat : Tahdziibul-Kamaal, 17/12-18 no. 3775]. Abu Zur’ah Ad-Dimasyqiy pernah bertanya kepada ‘Abdurrahmaan bin Shaalih : “Apa pendapatmu tentang Ibnu Tsaubaan ?”. Ia berkata : “Tsiqah” [Taariikh Abi Zur’ah, hal. 44 – Syaamilah]. Ibnu Syaahiin berkata : “Tidak mengapa dengannya” [Taariikh Asmaa’ Ats-Tsiqaat, hal. 214 no. 765]. Ibnul-Jauziy memasukkannya dalam Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukuun (2/91 no. 1856).
Ibnu Hajar menyimpulkan : “Shaduuq, sering keliru (yukhthi’), dituduh berpemahaman Qadariyyah, dan berubah hapalannya di akhir usianya” [At-Taqriib, hal. 572 no. 3844]. Adz-Dzahabiy memasukkanya dalam kitab Man Tukullima fiihi Wahuwa Muwatstsaqun au Shaalihul-Hadiits (hal. 324-325 no. 206). Di tempat lain Adz-Dzahabiy menyimpulkan : “Ia bukanlah seorang yang banyak haditsnya, bukan pula hujjah, akan tetapi seorang yang shaalihul-hadiits’ [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 7/314].
Al-Albaaniy berkata : “Hasanul-hadiits” [Irwaaul-Ghaliil, 2/136]. Di tempat lain ia berkata : “Hasanul-hadiits apabila tidak ada penyelisihan” [Ash-Shahiihah, 1/232]. Di tempat lain ia mengatakan : “Padanya ada kelemahan” [Dhilaalul-Jannaah no. 408]. Basyaar ‘Awwaad dan Al-Arna’uth berkata : “Shaduuq hasanul-hadiits” [Tahriirut-Taqriib, 2/309-310 no. 3820].
Kesimpulan : Yang nampak di sini – wallaahu a’lam – ia seorang yang ahli ibadah lagi jujur. Akan tetapi ia diperbincangkan dari segi hapalannya. Oleh karena itu, haditsnya hasan bila tidak ada penyelisihan, sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy. Apalagi, dalam periwayatan dari Hassaan bin ‘Athiyyah ia tidak bersendirian.
Hassaan bin ‘Athiyyah Al-Muhaaribiy, Abu Bakr Asy-Syaamiy (w. setelah tahun 120 H).
Ibnu Hajar berkata : “Seorang yang tsiqah, faqiih, lagi ‘aabid” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 233 no. 1214]. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya.
Abul-Muniib Al-Jurasyiy Ad-Dimasyqiy Al-Ahdab.
Al-‘Ijliy berkata : “Orang Syaam, taabi’iy, tsiqah’. Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam kitab Ats-Tsiqaat [Tahdziibul-Kamaal, 34/324-325]. Ibnu Hajar berkata : “Tsiqah” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1211 no. 8461]. Adz-Dzahabiy berkata : “Tsiqah” [Al-Kaasyif, 2/464 no. 6859]. Sejumlah perawi tsiqah meriwayatkan darinya (Tsaur bin Yaziid, Hassaan bin ‘Athiyyah, Daawud bin Abi Hind, Zaid bin Waaqid, dan ‘Aashim Al-Ahwal).
Kesimpulannya : Ia seorang yang tsiqah.
‘Abdurrahmaan bin Tsaabit dalam periwayatannya dari Hassaan bin ‘Athiyyah mempunyai muttabi’ dari Al-Auza’iy, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Musykilul-Aatsaar[19] no. 231 dan Ibnu Hadzlam dalam Juz­-nya[20] no. 31.
Al-Auzaa’iy, ia adalah ‘Abdurrahmaan bin ‘Amru bin Abi ‘Amru, Abu ‘Amru Al-Auzaa’iy; seorang imam tsiqah, jaliil, lagi faqiih (w. 157 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 593 no. 3992].
Sanad hadits ini adalah shahih.
2. Hudzaifah bin Al-Yamaan radliyallaahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Al-Bahruz-Zakhaar[21] 7/368 no. 2966 dan dalam Kasyful-Astaar no. 144, serta Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath[22] no. 8327; dari jalan Muhammad bin Marzuuq, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Khaththaab, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aliy bin Ghuraab, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Hisyaam bin Hassaan, dari Muhammad bin Siiriin, dari Abu ‘Ubaidah bin Hudzaifah, dari ayahnya radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
” مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “،
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
Keterangan para perawi :
Muhammad bin Muhammad bin Marzuuq bin Bukair/Bakr Al-Baahiliy, Abu ‘Abdillah Al-Bashriy; seorang yang shaduuq, namun mempunyai beberapa keraguan (w. 248 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 893-894 no. 6311].
‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Khaththaab Al-Kuufiy, Abul-Hasan (w. 224 H). Abu Haatim berkata : “Shaduuq”. Ya’quub bin Syaibah berkata : “Tsiqah lagi shaduuq”. ‘Amru bin ‘Aliy berkata : “Tsiqah” [selengkapnya lihat : Tahdziibul-Kamaal 18/126-128 no. 3441]. Ibnu Hajar menyimpulkan : “Shaduuq” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 611 no. 4118]. Adz-Dzahabiy berkata : “Tsiqah” [Al-Kaasyif, 1/655 no. 3382].
Kesimpulan : Tsiqah.
‘Aliy bin Ghuraab Al-Fazaariy, Abul-Hasan (w. 184). Ahmad bin Hanbal berkata : “Aku mendengar darinya dalam satu majlis, dan ia melakukan tadliis. Dan aku tidaklah melihatnya kecuali ia seorang yang shaduuq”. Di lain tempat ia berkata : “Haditsnya termasuk hadits ahlush-shidq”. Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Shaduuq”. Di lain tempat ia berkata : “’Aliy itu tidak mengapa, akan tetapi ia berbuat tasyayyu’”. Di lain tempat ia berkata : “Tsiqah”. Di lain tempat ia berkata : “Orang-orang telah berbuat dhalim terhadapnya ketika membicarakannya”. Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair berkata : “Ia mempunyai beberapa hadits munkar”. Abu Haatim berkata : “Tidak mengapa dengannya”. Abu Zur’ah berkata : “’Aliy bin Ghuraab menurutku shaduuq, dan ia lebih aku senangi daripada ‘Aliy bin ‘Aashim”. Abu Daawud berkata : “Dla’iif, orang-orang meninggalkan haditsnya”. ‘Iisaa bin Yuunus berkata : “Ia seorang yang dla’iif, dan aku ttidak menulis haditsnya. Abu Daawud mengatakan hal itu”. An-Nasaa’iy berkata : “Tidak mengapa dengannya, dan ia sering melakukan tadlis”. Ibraahiim bin Ya’qqub Al-Juzjaaniy : “Saaqith”. Mengomentari perkataan Al-Juzjaaniy ini, Al-Khathiib berkata : “Aku mengira Ibraahiim mencelanya dikarenakan madzhabnya, karena ia ber-tasyayyu’. Adapun riwayatnya, orang-orang telah mensifatinya dengan kejujuran”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Digunakan sebagai i’tibar”. Ibnu Hibbaan berkata : “Ia meriwayatkan hadits-hadits maudlu’, sehingga batallah berhujjah dengannya. Ia seorang yang berlebih-lebihan dalam tasyayyu’”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Ia mempunyai riwayat-riwayat ghariib dan afraad. Dan ia termasuk orang yang ditulis haditsnya”. Ibnu Sa’d berkata : “Ia seorang yang shaduuq, dan padanya ada kelemahan. Ia bershahabat dengan Ya’quub bin Daawud – yaitu waziir Al-Mahdiy – , sehingga orang-orang meninggalkannya”. Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Ammaar : ia seorang shahiibul-hadiits, yang luas pengetahuannya,… dan ia ber-tasyayyu’”. Ibnu Qaani’ berkata : “Orang Kuufah, Syi’ah, tsiqah”. ‘Utsmaan bin Abi Syaibah berkata : “Tsiqah” [selengkapnya lihat : Tahdziibul-Kamaal 21/90-96 no. 4120 dan Tahdziibut-Tahdziib 7/372]. Ibnu Hajar menyimpulkan : “Shaduuq, sering berbuat tadlis (yudallis), dan ber-tasyayyu’. Ibnu Hibbaan telah berlebihan dalam melemahkannya” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 703 no. 4817].
Kesimpulannya adalah sebagaimana kesimpulan Ibnu Hajar.
Hisyaam bin Hassaan Al-Azdiy, Abu ‘Abdillah Al-Bashriy; seorang yang tsiqah, dan paling tsabt riwayatnya dari Muhammad bin Siiriin (w. 147/148 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahiih-nya [idem, hal. 1020-1021 no. 7339].
Muhammad bin Siiriin Al-Anshaariy, tabi’iy masyhur; seorang yang tsiqah lagi tsabat (w. 110 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 853 no. 5985].
Abu ‘Ubaidah bin Hudzaifah bin Al-Yamaan; seorang yang maqbuul [idem, hal. 1174 no. 8292]. Yaitu, riwayatnya diterima jika ada mutaba’ah, dan jika tidak, maka dla’iif.
Abu ‘Ubaidah bin Hudzaifah mempunyai mutaba’ah dari Numair bin Aus, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Musnad Asy-Syaamiyyiin[23] no. 1862 : Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Ishaaq : telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Al-Haarits : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Saalim, dari Az-Zubaidiy : Telah menceritakan kepada kami Numair bin Aus : Bahwasannya Hudzaifah bin Al-Yamaan kembali kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berkata :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
Keterangan para perawi :
‘Amru bin Ishaaq bin Ibraahiim bin Al-‘Alaa’ bin Adl-Dlahhaak bin Al-Muhaajir bin Zibriiq Az-Zubaidiy Al-Himshiy; seorang yang majhuul haal [Irsyaadul-Qaadliy wad-Daaniy, hal. 451-452 no. 718].
Ishaaq bin Ibraahiim bin Al-‘Alaa’ bin Adl-Dlahhaak bin Zibriiq Al-Himshiy Az-Zubaidiy [Al-Jarh wat-Ta’diil, 2/209 no. 711 dan Tahdziibul-Kamaal 2/369-371 no. 330]. Mengenai Ishaaq bin Ibraahiim bin Zibriiq, Abu Haatim berkata : “Syaikh”. Ibnu Ma’iin memujinya dengan berkata : “Tidak mengapa dengannya (laa ba’sa bihi)” [Al-Jarh wat-Ta’diil 2/209 no. 711]. An-Nasaa’iy – sebagaimana dinukil Al-Mizziy – mengatakan : “Tidak tsiqah”. Namun dalam riwayat Ibnu ‘Asaakir sebagaimana yang dibawakan oleh Ibnu Badraan dalam At-Tahdziib (2/407), An-Nasaa’iy berkata : “Tidak tsiqah, jika ia meriwayatkan dari ‘Amru bin Al-Haarits”. Jadi ketidaktsiqahan ini di-taqyid dalam periwayatan dari ‘Amru. Muhammad bin ‘Auf memutlakkan kedustaan terhadapnya. Abu Dawud mengikuti Muhammad bin ‘Auf dengan perkataannya : “Tidak ada apa-apanya”. Namun perkataan keduanya ini perlu ditinjau kembali, sebab Al-Bukhaariy (dalam Shahih-nya dengan periwayatan mu’allaq), Abu Haatim, Al-Fasaawiy, dan yang lainnya membawakan riwayatnya dimana tidak ada keraguan bahwa mereka tidaklah meriwayatkan dari para pendusta yang dikenal kedustaaannya. Abu Ishaaq Al-Huwainiy dalam Natsnun-Nabaal (hal. 176-177 no. 276) membawakan bahwa Maslamah bin Al-Qaasim mentsiqahkannya. Al-Haakim (Al-Mustadrak 3/290) dan Ibnu Hibbaan (Ats-Tsiqaat 8/113) men-tautsiq-nya. Perkataan yang benar di sini adalah bahwa Ishaaq bin Ibraahiim bin Zibriiq adalah shaduuq; riwayatnya lemah jika berasal dari ‘Amr bin Al-Haarits.

‘Amru bin Al-Haarits bin Adl-Dlahhaak Az-Zubaidiy Al-Himshiy. Ibnu Hibbaan berkata : “Mustaqiimul-hadiits” [Ats-Tsiqaat, 8/48]. Adz-Dzahabiy berkata : “Telah ditsiqahkan” [Al-Kaasyif, 2/73 no. 4136]. Ibnu Hajar berkata : “Maqbuul” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 732 no. 5036].
Kesimpulan : Ia tidaklah jatuh dari derajat hasan, wallaahu a’lam.
‘Abdullah bin Saalim Al-Asy’ariy Al-Himshiy; seorang yang tsiqah dan dituduh berpemahaman nashb (membenci Ahlul-Bait) (w. 179 H). Dipakai Al-Bukhaariy dalam Shahiih-nya [idem, hal. 509 no. 3355].
Az-Zubaidiy, ia adalah Muhammad bin Al-Waliid bin ‘Aamir Az-Zubaidiy, Abul-Hudzail Al-Himshiy; seorang yang tsiqah lagi tsabat (w. 146/147/149 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahiih-nya [idem, hal. 905 no. 6412].
Numair bin Aus Al-Asy’ariy. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat (5/479). Ibnu Hajar berkata : “Tsiqah” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1009 no. 7239]. Namun yang benar – wallaahu a’lam – ia hanyalah seorang yang shaduuq saja, karena hanya Ibnu Hibbaan yang men-tautsiq-nya, akan tetapi sejumlah perawi tsiqaat meriwayatkan darinya. Kesimpulan ini adalah sebagaimana diambil Basyar ‘Awwaad dan Al-Arna’uth dalam Tahriirut-Taqriib (4/24 no. 7190).
Mutaba’ah ini pun lemah, karena kelemahan ‘Amru bin Ishaaq dan ayahnya.
3. Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh Al-Harawiy dalam Dzammul-Kalaam[24] no. 474, Abu Umayyah Ath-Thursuusiy dalam Musnad-nya[25] no. 56, dan Adz-Dzahabiy dalam As-Siyar[26] 16/242; semuanya dari jalan Shadaqah bin ‘Abdillah, dari Al-Auzaa’iy, dari Yahyaa bin Katsiir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَّبَهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”

“Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang. Dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan kehinaan serta kerendahan atas orang yang menyelisihiku. Dan barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka’.
Akan tetapi riwayat ini di-ta’lil oleh sejumlah ulama.
Dalam kitab Al-‘Ilal lid-Daaruquthniy disebutkan :
وَسُئِلَ عَنْ حَدِيثِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجُعِلَ رِزْقِي فِي ظُلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “، فَقَالَ: يَرْوِيهِ الْأَوْزَاعِيُّ وَاخْتُلِفَ عَنْهُ، فَرَوَاهُ صَدَقَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّمِينِ وَهُوَ ضَعِيفٌ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَخَالَفَهُ الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، رَوَاهُ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرْشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَهُوَ الصَّحِيحُ
“Ad-Daaruquthniy pernah ditanya tentang hadits Abu Salamah, dari Abu Hurairah : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Aku diutus menjelang hari kiamat. Dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan kehinaan serta kerendahan atas orang yang menyelisihiku. Dan barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka’. Lalu ia berkata : ‘Diriwayatkan oleh Al-Auza’iy dan terdapat perselisihan padanya. Diriwayatkan oleh Shadaqah bin ‘Abdillah As-Samiin, dan ia seorang yang dla’iif, (dari Al-Auza’iy), dari Yahyaa, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Al-Waliid bin Muslim menyelisihinya dimana ia meriwayatkan dari Al-Auza’iy dari Hassaan bin ‘Athiyyah, dari Abul-Muniib Al-Jursyiy, dari Ibnu ‘Umar. Dan inilah yang benar/shahih” [Al-‘Ilal no. 1754].
Adapun Ibnu Abi Haatim rahimahullah berkata :
وَسألت أبي عَنْ حديث رَوَاهُ عُمَرُ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ صَدَقَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ، وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “. قَالَ أَبِي: قَالَ لِي دُحَيْمٌ: هَذَا الْحَدِيثُ لَيْسَ بِشَيْءٍ، وَالْحَدِيثُ حَدِيثُ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جَبَلَةَ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم
“Dan aku pernah bertanya kepada ayahku tentang hadits yang diriwayatkan oleh ‘Umar bin Salamah, dari Shadaqah bin ‘Abdillah, dari Al-Auza’iy, dari Yahyaa bin Katsiir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat, dan dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan kehinaan serta kerendahan atas orang-orang yang menyelisihiku. Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka’. Lalu ayahku (Abu Haatim) berkata : ‘Duhaim pernah berkata kepadaku : Hadits ini tidak ada apa-apanya. Hadits itu yang benar adalah hadits Al-Auzaa’iy, dari Sa’iid bin Jabalah, dari Thaawus, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara mursal” [Al-‘Ilal no. 956].
Adapun Shadaqah bin ‘Abdillah, statusnya adalah seperti yang dikatakan Ad-Daaruquthniy, dan ia didla’ifkan oleh jumhur ahli hadits [lihat : Tahdziibul-Kamaal 13/133-138 no. 2863 dan Taqriibut-Tahdziib, hal. 451 no. 2929].
4. Abu Umaamah Al-Baahiliy radliyallaahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh Abu Dzawaalah dalam Hadiits-nya[27] no. 3 : Telah menceritakan kepada kami Abu Dzawaalah : Telah menceritakan kepadaku Abu ‘Abdil-‘Aziiz bin Marwaan, dari kakeknya Abaan bin Sulaimaan bin Maalik Al-Laitsiy, dari Abu Umaamah Al-Baahiliy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ، وَمَنْ أَحَبَّ قَوْمًا حُشِرَ مَعَهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka. Dan barangsiapa mencintai suatu kaum, maka ia akan dikumpulkan bersama mereka”.
Abaan bin Sulaimaan bin Maalik Al-Laitsiy, tidak diketemukan biografinya [lihat : Rijaalul-Haakim, hal. 87 no. 147]. Begitu pula Abu ‘Abdil-‘Aziiz bin Marwaan, belum saya ketemukan biografinya. Wallaahu a’lam.
5. Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh Al-Harawiy dalam Dzammul-Kalaam[28] no. 475 dan Abu Nu’aim dalam Akhbaar Ashbahaan[29] 1/166; semuanya dari jalan Al-Hajjaaj bin Yuusuf bin Qutaibah : Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al-Husain, dari Az-Zubair bin ‘Adiy, dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
جُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan kehinaan serta kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihiku. Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
Sanad ini sangat lemah karena Bisyr bin Al-Husain, Abu Muhammad Al-Hilaaliy Al-Ashbahaaniy, seorang yang matruuk [Mishbaahul-Ariib, 1/243 no. 4828].
6. Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah secara mursal.
Diriwayatkan oleh Sa’iid bin Manshuur[30] no. 2194 : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy, dari Abu ‘Umair Ash-Shuuriy, dari Al-Hasan, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam :
إن الله بعثني بسيفي بين يدي الساعة ، وجعل رزقي تحت ظل رمحي ، وجعل الذل والصغار على من خالفني ، ومن تشبه بقوم فهو منهم
“Sesungguhnya Allah mengutusku dengan pedangku menjelang hari kiamat, dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan kehinaan serta kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihiku. Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
Keterangan perawi :
Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy bin Sulaim Al-‘Ansiy, Abu ‘Utbah Al-Himshiy; seorang yang shaduuq dalam riwayat penduduk negerinya, namun tercampur (mukhtalith) dalam riwayat selainnya (w. 181/182 H) [Taqriibut-Tahdziib, hal. 142 no. 477].
Abu ‘Umair Ash-Shuuriy, namanya Abaan bin Sulaimaan. Ibnu Abi Haatim berkata : “ia termasuk hamba Allah yang shaalih, berbicara dengan hikmah” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 2/300 no. 1106].
Al-Hasan, ia adalah Ibnu Abil-Hasan yang terkenal dengan Al-Hasan Al-Bashriy; seorang yang tsiqah, faadlil, lagi masyhuur (w. 110 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 236 no. 1237].
Selain mursal, sanad riwayat ini juga lemah sampai Al-Hasan karena Abu ‘Umair Ash-Shuuriy. Ia seorang yang majhuul haal.
7. Thaawus rahimahullah secara mursal.
Diriwayatkan oleh Ibnul-Mubaarak dalam Al-Jihaad[31] no. 105, Al-Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab[32] no. 390, dan Ibnu Abi Syaibah[33] 5/313 & 12/351; semuanya dari Al-Auzaa’iy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Jabalah, ia berkata : telah menceritakan kepadaku Thaawus Al-Yamaaniy : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذُّلَّ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تشبه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”
“Sesungguhnya Allah mengutusku dengan pedang menjelang hari kiamat. Ia menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dan menjadikan kehinaan serta kerendahan atas orang yang menyelisihiku. Dan barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka’.
Selain mursal, riwayat ini juga tidak shahih sampai Thaawuus. Sa’iid bin Jabalah dari Thaawuus didla’ifkan oleh Asy-Syiiraaziy [Mishbaahul-Ariib, 2/19 no. 10594].
Kesimpulan hadits dengan keseluruhan jalannya adalah shahih.
Penjelasan Ringkas Hadits[34]
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengkhabarkan bahwa diri beliau diutus menjelang hari kiamat dengan pedang, maksudnya adalah dekat masanya antara masa pengutusan beliau kepada manusia hingga nanti ditegakkannya hari kiamat.
Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘dengan pedang’ ; maksudnya beliau mengkhususkan diri beliau dengan pedang, meskipun nabi-nabi yang lain juga diutus dengan berperang dengan musuh-musuhnya, adalah karena apa yang mereka (para nabi lain) lakukan tidak menyamai apa yang beliau lakukan dalam hal ini. Bisa juga bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanya mengkhususkan dirinya dengan hal tersebut karena telah terdapat dalam kitab-kitab dimana hal itu dimaksudkan untuk menegur dua golongan Ahlul-Kitaab serta mengingatkan mereka apa-apa yang ada pada mereka.[35]
Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan inti risalah dan tujuan diutusnya beliau itu adalah untuk mentauhidkan Allah ta’ala dengan peribadahan, dan membatalkan segala macam bentuk kesyirikan. Dalam hadits tersebut terdapat isyarat pencapaian tujuan ini tidaklah akan terjadi kecuali dengan penegakkan jihad fii sabiilillah dengan memerangi para pelaku kesyirikan dan kesesatan.
Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘dan dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku’ ; padanya terdapat isyarat halalnya ghanimah bagi umat ini. Dan juga bahwasannya rizki Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ada pada ghaniimah tersebut, bukan selainnya dari penghasilan kerja (makaasib). Oleh karena itu, sebagian ulama berkata : Ini adalah penghasilan yang paling utama.[36] Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam makan dari sumber yang lain, akan tetapi kebanyakan rizkinya diperoleh dari jihad dimana beliau mempunyai bagian khusus dalam harta ghaniimah.[37]
Hikmah dalam pembatasan penyebutan tombak dalam hadits di atas, bukan selainnya dari peralatan perang seperti pedang, karena adat kebiasaan yang berlaku pada mereka saat itu bahwa bendera/panji peperangan diletakkan di ujung tombak. Maka ketika bayangan tombak menjadi sempurna (karenanya), penisbatan keberadaan rizki padanya pun menjadi lebih sesuai.[38]
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga mengkhabarkan bahwa kerendahaan dan kehinaan itu ada pada orang yang menyelisihi perkara yang beliau bawa. Itulah makna kerendahan/kehinaan secara maknawiy. Adapun secara hissiy (kongkret), maka kehinaan itu diwujudkan dengan pembayaran jizyah (orang kafir dzimmiy) kepada kaum muslimin.
Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”
menunjukkan siapa saja yang berusaha meniru-niru/menyerupai seseorang, maka ia seperti orang yang ia serupai dalam keadaan dan tempat kembalinya.
Barangsiapa yang menyerupai orang-orang shaalih, maka orang itu pun shaalih dan akan dikumpulkan (kelak) bersama mereka. Dan begitu juga sebaliknya bagi orang yang menyerupai orang-orang kafir atau fasiq.[39]
Al-Munaawiy rahimahullah berkata :
وقيل المعنى : من تشبه بالصالحين وهو من أتباعهم يكرم كما يكرمون، ومن تشبه بالفساق يهان ويخذل كهم، ومن وضع عليه علامة الشرف أكرم وإن لم يتحقق شرفه، وفيه أن من تشبه من الجن بالحيات وظهر بصورتهم قتل….
“Dikatakan maknanya adalah : barangsiapa yang menyerupai orang-orang shaalih, maka ia termasuk orang yang mengikuti mereka. Ia pun dimuliakan sebagaimana orang-orang shaalih itu dimuliakan. Barangsiapa yang menyerupai orang-orang fasiq, maka akan dihinakan dan direndahkan sebagaimana mereka (dimuliakan dan direndahkan). Dan barangsiapa yang diletakkan padanya tanda-tanda kehormatan, ia lebih mulia meskipun kehormatannya itu tidak kelihatan. Dalam hadits itu juga terdapat faedah : barangsiapa menyerupai ular dan nampak dalam bentuknya (seperti ular) dari kalangan jin, boleh dibunuh….”.[40]
Ash-Shan’aaniy rahimahullah berkata :
والحديث دال على أن من تشبه بالفساق كان منهم أو بالكفار أو بالمبتدعة في أي شيء مما يختصمون به من ملبوس أو مركوب أو هيئة…
“Hadits tersebut menunjukkan bahwa siapa saja yang menyerupai orang-orang fasiq, maka ia termasuk golongan mereka. Atau menyerupai orang-orang kafir atau mubtadi’ (pelaku bid’ah) dalam hal apa saja yang menjadi kekhususan mereka dengannya dalam gaya berpakaian, berkendaraan, atau gaya/tata cara yang lainnya….”.[41]
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah berkata :
هذا الحديث أقل أحواله أن يقتضي تحريم التشبه بأهل الكتاب، وإن كان ظاهره كفر المتشبه بهم….
“Minimal, hadits ini menetapkan adanya keharaman tasyabbuh kepada Ahlul-Kitaab, meskipun pada dhahirnya (dapat) mengkafirkan orang yang bertasyabbuh kepada mereka…”.[42]
Perbuatan tasyabbuh dapat terjadi dalam perkara-perkara hati seperti keyakinan (i’tiqad) dan kehendak; dan bisa juga dalam perkara-perkara lahiriyah seperti berbagai macam ibadah dan kebiasaan.[43]
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

[1] حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتٍ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”
[2] حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ يَعْنِي الْوَاسِطِيَّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”
حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ”
[3] حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ”
[4] حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ ثَوْرٍ الْجُذَامِيُّ، قَالَ: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ الْفِرْيَابِيُّ، ح وَحَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ الدِّمَشْقِيُّ، ثنا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ الْحِمْصِيُّ، ح وَحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَزِيزٍ الْمَوْصِلِيُّ، ثنا غَسَّانُ بْنُ الرَّبِيعِ، قَالُوا: ثنا ابْنُ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَتِ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ” – 216.
[5] حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، قَالَ: حَدَّثَنِي حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ مَعَ السَّيْفِ، وَجُعِلَ رِزْقِي فِي ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[6] حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَوْبَانَ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرَكَ بِهِ شَيْءٌ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تشبه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ”.
حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” إنَّ اللَّهَ جَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ رُمْحِي وَجَعَلَ الذِّلَّةَ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، مَنْ تشبه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ” – 12/531.
[7] وَقَالَ أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيُّ: ثنا زُهَيْرٌ، ثنا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، ثنا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْحَارِثِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيَّ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذِّلَّةَ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
قَالَ أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيُّ: ثنا زُهَيْرٌ، ثنا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، ثنا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجَرْشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ تَعَالَى وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذِّلَّةَ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “. قَالَ: وثنا إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ، ثنا ابْنُ ثَوْبَانَ فَذَكَرَهُ..
[8] نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْقَيْسَرَانِيُّ، نا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ الْفِرْيَابِيُّ، نا ابْنُ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهَ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهو مِنْهُمْ.
[9] حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَرَّاقُ، نَا غَسَّانُ بْنُ الرَّبِيعِ، نَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ، فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[10] أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ الأَصْبَهَانِيُّ، أنا أَبُو سَعِيدِ ابْنُ الأَعْرَابِيِّ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْقَيْسَرَانِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ الْفِرْيَابِيُّ، ثنا ابْنُ ثَوْبَانَ. ح وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ الأَصَمُّ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ الْمُكَرَّمِ، ثنا أَبُو النَّضْرِ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، ثنا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[11] وَأَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَخْبَرَنَا زَاهِرُ بْنُ أَحْمَدَ الْفَقِيهُ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ الْجَعْدِ، أَخْبَرَنَا ابْنُ عَسْكَرٍ، حَدَّثَنَا الْفِرْيَابِيُّ، وَعَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَّبَهَ بَقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[12] وَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُعَدِّلُ، إِمْلاءً، وَأَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، قِرَاءَةً عَلَيْهِ، قَالا: أنا أَبُو عُمَرَ الزَّاهِدُ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ، نا مُوسَى بْنُ سَهْلٍ الْوَشَّاءُ، أنا أَبُو النَّضْرِ، نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، نا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَجَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذُّلَّ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[13] أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْوَلِيدِ الْمُرِّيُّ الْمُقْرِئُ، ثنا أَبُو الْقَاسِمِ أَخْطَلُ بْنُ الْحَكَمِ بْنِ جَابِرٍ الْقُرَشِيُّ، ثنا الْفِرْيَابِيُّ، ثنا ابْنُ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[14] وقد أخبرنا ابن الحسين نا بن المذهب نا احمد بن جعفر ثنا عبد الله بن احمد ثنى أبي ثنا أبو النصر ثنا عبد الرحمن بن ثابت بن ثوبان ثنا حسان بن عطية عن أبي منيب الحرسي عن ابن عمر قال قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “من تشبه بقوم فهو منهم”
[15] ثنا مُحَمَّدٌ قَالَ: ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْهَيْثَمِ قَالَ: ثنا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ، قَالَ: ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَتِ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “..
[16] أَخْبَرَنَا بِهِ أبو الفرج بن قدامة، وأَبُو الْغَنَائِمِ بْنُ عَلانَ، وأحمد بن شيبان، قَالُوا: أَخْبَرَنَا حنبل، قال: أَخْبَرَنَا ابْنُ الْحُصَيْنِ، قال: أَخْبَرَنَا ابن المذهب، قال: أَخْبَرَنَا الْقَطِيعِيُّ، قال: حَدَّثَنَا عبد الله بن أحمد، قال: حَدَّثَنِي أَبِي، قال: حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، قال: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، قال: حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قال: قال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِّ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ رُمْحِي، وجُعِلَ الذُّلُّ والصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، ومَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[17] قَرَأْتُ عَلَى أَحْمَدَ بْنِ إِسْحَاقَ الزَّاهِدِ، أَنْبَأَنَا ظَفْرُ بْنُ سَالِمٍ بِبَغْدَادَ سَنَةَ عِشْرِينَ وَسِتِّ مِائَةٍ، أَخْبَرَنَا هِبَةُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ الشِّبْلِيُّ سَنَةَ 557، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي عُثْمَانَ، أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْقَاسِمِ سَنَةَ سَبْعٍ وَأَرْبَعِ مِائَةٍ، حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ غُلَامُ ثَعْلَبٍ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ سَهْلٍ الْوَشَّاءُ، حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ، لا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “. إِسْنَادُهُ صَالِحٌ.
[18] قَرَأْتُهُ تَامًّا عَلَى إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ الْحَرِيرِيِّ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ يُوسُفَ بْنِ مَكْتُومٍ، وَغَيْرِ وَاحِدٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ بْنِ اللَّتِّيِّ أَخْبَرَهُمْ، أنا عَبْدُ الأَوَّلِ بْنُ عِيسَى، أنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدٍ الدَّاوُدِيُّ، أنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَعْيَنَ، أنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ خُرَيْمِ بْنِ قَمَرٍ، أنا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ هُوَ الطَّيَالِسِيُّ،، قَالا: ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ. ح وَقَرَأْتُهُ عَلَى فَاطِمَةَ بِنْتِ، أَخْبَرَكُمْ أَحْمَدُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، عَنْ يَاسَمِينَ بِنْتِ الْبَيْطَارِ، أَنَّ هِبَةَ اللَّهِ بْنَ الشِّبْلِيِّ أَخْبَرَهُمْ، أنا أَبُو الْغَنَائِمِ بْنُ الْمُنْتَابِ، أنا أَبُو الْحُسَيْنِ الضَّبِّيُّ، ثنا أَبُو عُمَرَ الزَّاهِدُ غُلامُ تَغْلِبَ، ثنا مُوسَى بْنُ سَهْلٍ، ثنا أَبُو النَّضْرِ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرْشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ مَعَ السَّيْفِ “، وزاد أبو النضر: ” حتى يعبد الله وحده لا شريك له ” ثم اتفقوا: ” وجعل رزقي تحت ظل رمحي، وجعل الذلة والصغار على من خالف أمري، ومن تشبه بقوم فهو منهم “.
[19] حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ وَهْبِ بْنِ عَطِيَّةَ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا الأَوْزَاعِيُّ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلامُ: ” بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لِيُعْبَدَ اللَّهُ صلى الله عليه وسلم وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “..
[20] حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمُعَلَّى بْنِ يَزِيدَ، قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، وَعَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ، وَكَثِيرُ بْنُ عُبَيْدٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الأَوْزَاعِيُّ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي الْمُنِيبِ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ لا يُشْرَكَ بِهِ، وَجَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذُّلَّ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[21] حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْزُوقٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْخَطَّابِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ غُرَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ حُذَيْفَةَ، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “،.
[22] حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ زَكَرِيَّا، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْزُوقٍ، نا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْخَطَّابِ، ثَنَا عَلِيُّ بْنُ غُرَابٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانٍ، عَنِ ابْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ حُذَيْفَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[23] حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ إِسْحَاقَ، ثَنَا أَبِي، ثَنَا عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، ثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَالِمٍ، عَنِ الزُّبَيْدِيِّ، ثَنَا نُمَيْرُ بْنُ أَوْسٍ، أَنَّ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ، كَانَ يَرُدُّهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ “.
[24] أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَعْقُوبَ الْحَجَّاجِيُّ، أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ هَاشِمِ بْنِ مِرْثَدٍ، أَنَّ دُحَيْمًا حَدَّثَهُمْ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، حَدَّثَنَا صَدَقَةُ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَّبَهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[25] حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، ثنا ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” إِنَّ اللَّهَ تعالى بَعَثَنِي بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجَعَلَ رِزْقِي فِي ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذُّلَّ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[26] أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ اللَّتِّيِّ، أَخْبَرَنَا أَبُو الْوَقْتِ، أَخْبَرَنَا أَبُو إِسْمَاعِيلَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْحَجَّاجِيُّ، أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا دُحَيْمٌ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، حَدَّثَنَا صَدَقَةُ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[27] حَدَّثَنَا أَبُو ذَوَالَةَ، حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مَرْوَانَ، عَنْ جَدِّهِ أَبَانِ بْنِ سُلَيْمَانَ بْنِ مَالِكٍ اللَّيْثِيِّ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ، وَمَنْ أَحَبَّ قَوْمًا حُشِرَ مَعَهُمْ “.
[28] وَحَدَّثَنِيهِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ مُحَمَّدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ السُّرِّيِّ الْبَوْسَنْجِيُّ، حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُفَيْرٍ، حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ قُتَيْبَةَ، حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ، عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” جُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[29] حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ يُوسُفَ، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ أَحْمَدُ بْنُ مَحْمُودِ بْنِ صُبَيْحٍ، ثنا الْحَجَّاجُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ قُتَيْبَةَ، ثنا بِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ الأصبهانيُّ، ثنا الزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” بُعِثْتُ بَيْنَ يَدِيِ السَّاعَةِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ لِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[30] حدثنا سعيد قال : نا إسماعيل بن عياش ، عن أبي عمير الصوري ، عن الحسن ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « إن الله بعثني بسيفي بين يدي الساعة ، وجعل رزقي تحت ظل رمحي ، وجعل الذل والصغار على من خالفني ، ومن تشبه بقوم فهو منهم »
[31] عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ جَبَلَةَ، قَالَ: حَدَّثَنِي طَاوُسٌ الْيَمَانِيُّ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذُّلَّ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تشبه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[32] أَخْبَرَنا أَبُو الْقَاسِمِ الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الأَنْبَارِيُّ، ثنا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مِسْوَرٍ، ثنا مِقْدَامٌ، ثنا عَلِيُّ بْنُ مَعْبَدٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جَبَلَةَ، قَالَ: حَدَّثَنِي طَاوُسٌ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “.
[33] حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جَبَلَةَ، عَنْ طَاوُسٍ، أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” إنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي وَمَنْ تشبه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ” – 5/313.
حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جَبَلَةَ، عَنْ طَاوُسٍ، أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” إنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذُّلَّ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تشبه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جَبَلَةَ، عَنْ طَاوُسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ ذَكَرَ مِثْلَهُ – 12/351.
[34] Saya ambil dari buku At-Tasyabbuh Al-Manhiy fil-Fiqhil-Islaamiy oleh Jamiil bin Habiib Al-Luwaihiq, hal. 28-29; thesis Fakultas Syari’ah, Univeristas Ummyl-Qurra’, tahun 1417 H.
[35] Lihat : Al-Fathur-Rabbaaniy li-Tartiibi Musnad Al-Imaam Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibaaniy bersama dengan syarh-nya : Buluughul-Amaaniy; keduanya merupakan tulisan Ahmad bin ‘Abdirrahmaan Al-Bannaa, Daaru Ihyaa At-Turaats Al-‘Arabiy, Beirut, 22/40.
[36] Lihat : Fathul-Baariy 6/.
[37] Lihat : Al-Fathur-Rabbaaniy 22/40.
[38] Lihat : Fathul-Baariy oleh Ibnu Hajar, 6/98.
[39] Lihat : Al-Fathur-Rabbaaniy oleh Al-Bannaa 22/40.
[40] Faidlul-Qadiir oleh Al-Munaawiy, 6/104.
[41] Subulus-Salaam oleh Ash-Shan’aaniy, 4/347.
[42] Iqtidlaa’ Ash-Shiraathil-Mustaqiim oleh Ibnu Taimiyyah, 1/237.
[43] Lihat : Faidlul-Qadiir oleh Al-Munaawiy, 6/104.

syubhat maulid

Standar

Syubhat 1:
Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam Tidak Pernah Melarang Maulid

Dalam buku Mana Dalilnya 2, Ustadz Novel mengakui bahwa peringatan Hari Besar Islam adalah bid’ah hasanah. Ia mendasarkan pendapatnya pada kenyataan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam tidak pernah melarang umatnya untuk merayakan maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam, demikian pula para sahabat tidak ada satu pun yang melarang penyelenggaraan maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam. Kemudian Ustadz Novel menganggap bahwa ketika ada orang yang mengingkari perayaan maulid, maka berarti ia merasa lebih sempurna dari Allah dan Rasul-Nya! Ia berani mengharamkan sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaih wasallam sendiri tidak pernah mengharamkannya… dst? [1])
Untuk menjawab syubhat ini, kita harus mencari akar permasalahannya terlebih dahulu. Kalau kita perhatikan statemen Ustadz Novel di atas, kita akan menemukan bahwa argumentasi yang dikemukakannya bertolak dari dua hal: pertama: Adanya bid’ah hasanah dalam Islam, dan kedua: tidak adanya dalil yang melarang bid’ah-bid’ah tersebut, yang dalam hal ini ialah perayaan maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam.
Mengenai alasan pertama, insya Allah akan ada tulisan khusus mengenai ‘Adakah bid’ah hasanah?’. Karenanya, dalam tulisan kami cuma ingin menitik beratkan pada alasan kedua, yaitu tidak adanya larangan untuk merayakan maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam.
Untuk menepis syubhat seperti ini, kita perlu memahami poin-poin berikut terlebih dahulu.
1. Kesempurnaan Ajaran Islam.
Sebagai seorang muslim, kita semua yakin bahwa ajaran Islam telah disempurnakan oleh si empunya syari’at. Tak tersisa sedikitpun dari syari’at ini yang masih disembunyikan oleh Baginda Rasulullah tercinta shallallaahu ‘alaih wasallam. Semuanya telah beliau sampaikan… yang baik-baik… yang buruk-buruk… yang menguntungkan diri beliau… bahkan yang menyudutkannya sekali pun. Hal ini telah Allah tegaskan dalam firman-Nya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” (Al Ma’idah: 3).
Allah ta’ala juga berfirman yang artinya:
“…dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. (157) (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul (Muhammad shallallaahu ‘alaih wasallam), Nabi yang ummi yang (namanya) mereka didapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar. Menghalalkan bagi mereka segala yang baik, mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membuang dari mereka beban-beban serta belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Al A’raf: 156-157).
Perhatikan, bagaimana Allah menyifati Nabi-Nya yang satu ini: “… yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf… melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar… menghalalkan bagi mereka segala yang baik… mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…”
Subhanallah… alangkah sempurnanya ajaran yang beliau shallallaahu ‘alaih wasallam bawa: semua yang baik telah beliau halalkan bagi ummatnya, dan semua yang buruk telah beliau haramkan bagi mereka…. semuanya… ya, semuanya… sebagaimana hadits berikut:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ رَبِّ الْكَعْبَةِ قَالَ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ جَالِسٌ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ وَالنَّاسُ مُجْتَمِعُونَ عَلَيْهِ فَأَتَيْتُهُمْ فَجَلَسْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ فِي سَفَرٍ فَنَزَلْنَا مَنْزِلًا فَمِنَّا مَنْ يُصْلِحُ خِبَاءَهُ وَمِنَّا مَنْ يَنْتَضِلُ وَمِنَّا مَنْ هُوَ فِي جَشَرِهِ إِذْ نَادَى مُنَادِي رَسُولِ اللَّهِ الصَّلَاةَ جَامِعَةً فَاجْتَمَعْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ فَقَالَ إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَإِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِهِ جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا وَسَيُصِيبُ آخِرَهَا بَلَاءٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا … الحديث
Dari Abdurrahman bin Abdi Rabbil Ka’bah katanya: Sewaktu aku masuk ke masjidil haram, kudapati Abdullah bin Amru bin Ash ra sedang duduk berteduh di bawah bayang-bayang ka’bah, sedangkan di sekelilingnya ada orang-orang yang berkumpul mendengarkan ceritanya. Lalu aku ikut duduk di majelis itu dan kudengar ia mengatakan: “Pernah suatu ketika kami bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam dalam suatu safar. Ketika kami singgah di sebuah tempat, diantara kami ada yang sibuk membenahi kemahnya, ada pula yang bermain panah, dan ada yang sibuk mengurus hewan gembalaannya. Tiba-tiba penyeru Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam berseru lantang: “Ayo… mari shalat berjamaah!!” maka segeralah kami berkumpul di tempat Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya tak ada seorang Nabi pun sebelumku, melainkan wajib baginya untuk menunjukkan umatnya akan setiap kebaikan yang ia ketahui; dan memperingatkan mereka dari setiap kejahatan yang ia ketahui…” (H.R. Muslim no 1844).
Dalam khutbah wada’nya, yang disaksikan oleh ratusan ribu pasang mata [3]), Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam bersabda:
وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنْ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تُسْأَلُونَ عَنِّي فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ قَالُوا نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ اللَّهُمَّ اشْهَدْ اللَّهُمَّ اشْهَدْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ… (رواه مسلم في صحيحه كتاب الحج, باب: صفة حج النبي, حديث رقم: 1218).
“Telah kutinggalkan bagi kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh padanya, kalian tak akan tersesat selamanya: yaitu Kitabullah (Al Qur’an). (Ingatlah) bahwa kalian akan ditanya tentang aku, maka apa yang akan kalian katakan nanti? Serempak mereka menjawab: “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan dan memberi nasehat (dengan tulus) !!” maka beliau pun mengangkat telunjuknya ke langit kemudian mengarahkannya kepada lautan manusia tadi seraya berucap: “Ya Allah, saksikanlah…Ya Allah, saksikanlah… tiga kali…” (H.R. Muslim no 1218).
Allaahu akbar!! Alangkah amanatnya engkau wahai Rasulullah…! Tak kau sisakan sedikitpun dari apa yang mesti disampaikan, melainkan engkau sampaikan apa adanya…
Saudaraku yang kucintai… demi Allah, ketuklah hati nurani anda masing-masing… tanyalah dengan jujur: masih adakah di sana satu kebaikan yang belum diajarkan oleh beliau setelah anda mendengar kesaksian tak kurang dari seratus ribu manusia yang berkumpul di hari yang paling mulia, bulan paling mulia dan di belahan bumi paling suci ini?? Mungkinkah mereka semua berbohong dengan kesaksiannya itu…? Layakkah setelah ini semua, jika kita katakan bahwa di sana ada bid’ah hasanah –yang notabene merupakan ibadah yang dianggap baik oleh pelakunya, meski dengan keyakinan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam tak pernah mengajarkannya–?? Siapakah yang lebih jujur perkataannya: Seratus ribu orang yang haji bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam, yang bersaksi di hari, bulan, dan tempat paling mulia; ataukah perkataan segelintir ulama yang datang sekian abad berikutnya, yang hidup di zaman penuh fitnah?
Sungguh naif rasanya jika masih ada yang beranggapan akan bolehnya mengadakan bid’ah hasanah… adakah sesuatu yang dianggap hasanah/baik ini belum diketahui oleh Rasulullah dan para sahabat beliau? Lantas standar apakah yang akan kita gunakan untuk menentukan ini baik atau bukan? Apa susahnya kalau kita meninggalkan praktek-praktek ibadah yang tidak beliau contohkan, meski itu kita pandang baik? Sungguh demi Allah, kalaulah kita menyibukkan diri dengan sunnah-sunnah yang sampai kepada kita, niscaya umur kita akan habis sebelum kita berhasil menerapkan semua sunnah tadi… lantas mengapa kita meninggalkan sunnah tadi dan beralih kepada bid’ah, sekali pun itu bid’ah hasanah??
Lupakah mereka terhadap sabda Nabi berikut, yang senantiasa terdengar di majelis-majelis:
إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ… الحديث (رواه النسائي في سننه كتاب: صلاة العيدين, باب: كيف الخطبة حديث رقم 1560, وابن ماجه في مقدمة السنن باب اجتناب البدع والجدل, حديث رقم 45)
“Sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad shallallaahu ‘alaih wasallam. Sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap perkara yang diada-adakan (dalam agama) ialah bid’ah, sedang setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu di Neraka…” (H.R. An Nasa’i dan Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah ra, dan dishahihkan oleh Al Albani, lihat Irwa’ul Ghalil 3/73).
2. Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam adalah suri tauladan terbaik, dan para sahabat adalah orang yang paling faham akan makna ittiba’ Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam
Ketahuilah, bahwa setiap tingkah laku Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam adalah panutan bagi umatnya[4]). Tidaklah beliau meninggalkan tata cara tertentu dalam beribadah, melainkan dengan meninggalkannya kita mendapat kebaikan di sisi Allah ta’ala. Tidaklah beliau melakukan ibadah dengan cara tertentu, melainkan itulah cara terbaik untuk menunaikannya. Tentunya dengan memperhatikan mana yang merupakan maslahah mursalah dan mana yang bid’ah [5]).
Kalaulah tata cara beribadah itu diserahkan pada keinginan masing-masing; pokoknya semua yang dianggap baik boleh kita kerjakan meski tak pernah diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam maupun para sahabat beliau, maka apa jadinya agama ini?? Cobalah saudara renungi kisah berikut yang diriwayatkan oleh Imam Ad Darimi dalam muqaddimah Sunan-nya dengan sanad hasan;
عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ عَمْرِو بْنِ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِى يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ ، فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الأَشْعَرِىُّ فَقَالَ : أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْدُ؟ قُلْنَا : لاَ ، فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ ، فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعاً ، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّى رَأَيْتُ فِى الْمَسْجِدِ آنِفاً أَمْراً أَنْكَرْتُهُ ، وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلاَّ خَيْراً. قَالَ : فَمَا هُوَ؟ فَقَالَ : إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ – قَالَ – رَأَيْتُ فِى الْمَسْجِدِ قَوْماً حِلَقاً جُلُوساً يَنْتَظِرُونَ الصَّلاَةَ ، فِى كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ ، وَفِى أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ : كَبِّرُوا مِائَة، فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً ، فَيَقُولُ : هَلِّلُوا مِائَةً ، فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً ، وَيَقُولُ : سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً. قَالَ : فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟ قَالَ : مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئاً انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ. قَالَ : أَفَلاَ أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ. ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ : مَا هَذَا الَّذِى أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟ قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ. قَالَ : فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ. قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْماً يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ ، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِى لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ. ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ ، فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلِمَةَ : رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ (أخرجه الدارمي في سننه)
Dari ‘Amru bin Yahya bin ‘Amru bin Salamah, katanya; aku mendengar ayah bercerita tentang ayahnya (‘Amru bin Salamah), katanya; Suatu ketika kami sedang duduk di depan rumah Abdullah bin Mas’ud ra sembari menanti shalat dhuhur. Jika beliau keluar maka kami berniat untuk berangkat ke masjid bersamanya. Sesaat kemudian, Abu Musa Al Asy’ari ra datang menghampiri kami seraya bertanya:
“Apa Abu Abdirrahman –julukan Ibnu Mas’ud– sudah menemui kalian?”
“Belum…” jawab kami.
Maka ia pun ikut duduk menunggunya sampai ia keluar. Tatkala Ibnu Mas’ud keluar, kami menghampirinya, lalu Abu Musa mengatakan:
“Hai Abu Abdirrahman, barusan aku melihat sesuatu yang kuanggap mungkar di masjid… tapi alhamdulillah, yang kulihat tidak lain adalah kebaikan…”
“Memangnya apa yang barusan kau lihat…?” tanya Ibnu Mas’ud.
“Kalau kau panjang umur, kau akan melihatnya nanti… Kulihat ada sejumlah orang yang duduk membentuk halaqah-halaqah sambil menanti shalat… di tiap-tiap halaqah tadi ada seorang laki-laki (yang memimpin), dan di tangan mereka ada sejumlah kerikil. Lalu lelaki itu berteriak mengomandoi: “Takbir seratus kali…!!” maka merekapun bertakbir seratus kali. Kemudian perintahnya lagi: “Tahlil seratus kali…!!”, maka mereka pun bertahlil seratus kali. “Tasbih seratus kali…!!”, maka mereka pun bertasbih seratus kali” kata Abu Musa ra.
“Lantas apa yang kau katakan kepada mereka?” tanya Ibnu Mas’ud ra.
“Aku tak mengatakan apa-apa… aku menunggu pendapatmu, atau perintahmu” kata Abu Musa ra.
“Mengapa tak kau suruh saja mereka menghitung-hitung kejelekan mereka…? kujamin, takkan ada kebaikan mereka yang disia-siakan…” tukas Ibnu Mas’ud ra.
Lalu aku berangkat bersamanya ke masjid hingga ia mendatangi salah satu halaqah tadi… kemudian berkata kepada mereka:
“Apa yang sedang kalian lakukan…?”
“Wahai Abu Abdirrahman, ini hanyalah kerikil-kerikil yang kami pakai untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih…” jawab mereka.
“Kalau begitu hitung saja kejelekan-kejelekan kalian, kujamin takkan ada kebaikan kalian yang disia-siakan…” kata Ibnu Mas’ud.
“Celaka kalian wahai ummat Muhammad! Alangkah cepatnya kalian binasa…? Mereka sahabat-sahabat Nabimu masih ada di mana-mana… ini pakaian beliau shallallaahu ‘alaih wasallam belum lusuh… dan ini bejana beliau belum pecah… demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya; kalaulah kalian tidak sedang berada di atas millah yang lebih benar dari millah Muhammad shallallaahu ‘alaih wasallam, berarti kalianlah pembuka pintu-pintu kesesatan…!!” lanjutnya.
“Demi Allah hai Abu Abdirrahman, kami hanyalah menginginkan kebaikan…” kata mereka.
“Sungguh, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tak akan mendapatkannya… Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam pernah bercerita kepada kami bahwa ada suatu kaum yang pandai membaca Al Qur’an, akan tetapi tak melebihi tulang selangka mereka… mereka keluar dari Islam seperti anak panah yang keluar menembus binatang buruan… demi Allah, aku tak tahu pasti, tapi boleh jadi kebanyakan dari mereka ialah kalian…” kata Ibnu Mas’ud sambil berlalu…
‘Amru bin Salamah –perawi hadits ini– mengisahkan: “Kulihat kebanyakan mereka yang ada di halaqah-halaqah itulah yang bersama kaum Khawarij menikam kami pada hari Nahrawan..!!” [6])
Demikianlah… bermula dari sesuatu yang dianggap baik, kesesatan mereka semakin menjadi-jadi hingga berani mengkafirkan kaum muslimin dan memberontak kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra, bahkan membunuhnya…
Siapa yang mengingkari akan disyari’atkannya takbir, tahlil dan tasbih…?? Kita semua meyakini bahwa itu termasuk dzikir yang paling afdhal; tapi masalahnya bukan di situ… masalah sesungguhnya ialah cara dan metode mereka yang sama sekali tak pernah diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam… inilah yang sesungguhnya diingkari oleh Ibnu Mas’ud ra.
Kita tak mengingkari sedikitpun bahwa wirid-wirid tersebut pada dasarnya dianjurkan oleh Islam, namun mengapa mereka menempuh cara baru seperti itu…?? membuat halaqah-halaqah dan menghitung-hitung dzikir dengan kerikil?? Sebab itulah Abu Musa mengatakan: “Aku melihat sesuatu yang mungkar di masjid… tapi alhamdulillah, yang kulihat tidak lain adalah kebaikan…” mengapa beliau menyifati kemungkaran dengan sesuatu yang baik? Tak lain karena hukum asal dzikir tersebut adalah baik dan dianjurkan, akan tetapi cara mereka melakukannya yang dianggap mungkar…
3. Syarat-syarat Ittiba’ Nabi yang benar
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya setiap ibadah yang kita lakukan tidak akan diterima di sisi Allah ta’ala sebelum terpenuhi dua syarat minimal, yaitu niat yang ikhlas karena Allah, dan sesuai syari’at Allah serta sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam [7]). Karenanya, ketika ditanya tentang makna firman Allah: (لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً) “Agar Dia (Allah) mengujimu, siapa-siapa di antara kamu yang paling baik amalnya” (Hud: 7 & Al Mulk: 2), salah seorang tabi’in terkenal yang bernama Fudhail bin ‘Iyadh berkata:
أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ، فَإِنَّهُ إِذَا كَانَ خَالِصاً وَلَمْ يَكُنْ صَوَاباً لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَاباً وَلَمْ يَكُنْ خَالِصاً لَمْ يُقْبَلْ حَتىَّ يَكُوْنَ خَالِصاً صَوَاباً، وَالْخَاِلصُ إِذَا كَانَ ِللهِ، وَالصَّوَابُ إِذَا كَانَ عَلىَ السُّنَّةِ.
(Yaitu siapa-siapa) yang paling ikhlas dan benar. Karena amal yang ikhlas bila tidak benar tidak akan diterima, dan bila benar tapi tidak ikhlas juga tidak akan diterima. Sampai amal tersebut ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah, dan benar jika dilakukan sesuai sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam.[8])
Setelah Anda mengetahui akan hal ini, maka ketahuilah bahwa mengikuti sunnah haruslah meliputi enam segi. Dengan keenam segi inilah semua yang bid’ah akan nampak jelas. Keenam segi itu ialah:
1. Sebabnya.
2. Jenisnya.
3. Kadarnya.
4. Tata caranya.
5. Waktunya, dan
6. Tempatnya.[9])
Artinya, sebelum kita melakukan sesuatu yang dianggap ibadah, periksalah terlebih dahulu adakah hal ini disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya ataukah tidak? Kalau memang disyari’atkan, maka terapkanlah keenam segi tadi. Mulai dari sebabnya; apakah ibadah tersebut dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam dan para sahabatnya karena sebab yang sama? Kalau tidak maka tinggalkanlah. Kalau ya, maka lihat apakah ibadah tersebut sama jenisnya dengan ibadah yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam karena sebab tadi? Umpamanya ketika seseorang menganjurkan kita untuk puasa Nisfu Sya’ban. Kita harus teliti terlebih dahulu apakah Nisfu Sya’ban dijadikan alasan/sebab oleh Nabi untuk melakukan ibadah tertentu? Kalau ya, maka apakah jenis ibadah yang dilakukan tadi adalah puasa atau yang lainnya? Kalau jenisnya beda, maka tinggalkan. Namun kalau jenisnya sama, maka lihat: apakah kadar ibadah itu sesuai dengan yang ditetapkan Beliau shallallaahu ‘alaih wasallam (seperti jumlah roka’at shalat, umpamanya)?
Kemudian periksalah apakah tata caranya juga sesuai dengan tuntunan Beliau shallallaahu ‘alaih wasallam? Kemudian periksa juga apakah waktu dan tempatnya juga sesuai dengan yang diajarkan Beliau shallallaahu ‘alaih wasallam? Kalau ada satu dari enam segi tadi yang tidak sesuai maka ibadah tersebut adalah bid’ah.
Misalnya peringatan maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam. Dari segi sebabnya sudah tidak sesuai, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam tidak menjadikan hari kelahirannya sebagai alasan untuk melakukan ibadah-ibadah tertentu. Kalau Ustadz Novel berdalil dengan hadits yang maknanya bahwa Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam berpuasa di hari senin karena itu adalah hari kelahirannya, maka ia harus merayakan maulid Nabi –sebagai konsekuensinya– setiap hari senin. Karena Nabi tidak hanya puasa sekali dalam setahun. Lagi pula beliau tidak menentukan pada bulan apa dan tanggal berapa beliau berpuasa, lalu dari mana Ustadz Novel bisa mengklaim bahwa Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam menganjurkan umatnya untuk memperingati maulid beliau dari hadits tadi?? Sungguh aneh bin ajaib kan cara dia berdalil…?!
Lebih dari itu, dalam hadits tadi hanya disebut satu jenis ibadah tertentu yaitu puasa. Lantas dari mana Ustadz Novel bisa menetapkan disyari’atkannya ibadah-ibadah lain seperti sedekah, dzikir dan membaca shalawat secara khusus pada hari itu?
Dari sini saja sudah ketahuan bahwa perayaan maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam merupakan bid’ah tulen yang sama sekali tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Meski di dalamnya terdapat ibadah-ibadah yang pada dasarnya dianjurkan, akan tetapi karena ibadah-ibadah tersebut dilakukan karena alasan yang salah, kemudian jenisnya berbeda dengan yang diajarkan Rasulullah, maka tidak akan diterima oleh Allah ta’ala.
4. Mengingkari bid’ah tidak berarti mengingkari hukum asal setiap ibadah yang ada di dalamnya
Kita tak mengingkari bahwa cinta kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam merupakan salah satu konsekuensi keimanan. Tidak berguna iman seseorang bila ia tak mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam sepenuh hatinya… akan tetapi bagaimanakah kita hendak mewujudkan cinta kita terhadap beliau? Apakah dengan memegang teguh sunnahnya, atau dengan mengadakan bid’ah-bid’ah dalam agama? Siapakah yang lebih besar cintanya kepada beliau shallallaahu ‘alaih wasallam; para sahabat dan salafus shaleh, ataukah kita? Sungguh tak pantas rasanya kita menyejajarkan diri kita dengan mereka… sungguh jauh panggang dari api… tak ada artinya kita di samping mereka.
Lantas mengapa mereka tak merayakan maulid kekasih mereka ini? Ataukah mereka tak tahu bahwa maulid tadi mengandung banyak manfaat? Bukankah melalui maulid kita jadi mengenal sejarah hidup Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam? Adakah mereka tak tahu bahwa alam semesta ini diselamatkan oleh Allah dengan terlahirnya Muhammad shallallaahu ‘alaih wasallam –seperti kata ustadz Novel–? Mengapa mereka sampai hati tak memperingati kelahiran Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam??
Tak lain jawabannya ialah karena kecintaan mereka kepada Sunnah Rasulnya… ya, tak mungkin bertemu antara cinta Rasul shallallaahu ‘alaih wasallam dan cinta bid’ah… kalau salah satunya ada, yang lain harus dikorbankan… ya, tak mungkin seseorang dapat mengerjakan bid’ah –sekecil apa pun– melainkan ia harus meninggalkan sunnah yang setaraf dengannya.
Namun lagi-lagi, Ustadz Novel tak kehabisan akal. Dikumpulkannya dalil-dalil yang seakan mengisyaratkan bahwa perayaan maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam dianjurkan dalam syari’at. Dengan cara istidlal (pengambilan dalil) yang aneh bin ajaib, ia hendak menetapkan bahwa semua yang dilakukan dalam perayaan maulid itu dianjurkan.
Kalau diteliti, sebenarnya Ustadz Novel tak mempunyai dalil yang sharih (jelas maksudnya) dan shahih sebagai acuan dalam membolehkan perayaan maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam, apa lagi dalil yang menganjurkannya.
Namun yang ada hanyalah hadits-hadits dan ayat-ayat yang bersifat umum; yang tidak ada kaitannya dengan praktek perayaan maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam, namun diqiyaskan kepadanya. Inilah kekeliruan pertama yang dilakukan Ustadz Novel. Ia hendak menetapkan suatu ibadah dengan mengandalkan qiyas semata… tanpa mengindahkan rambu-rambu qiyas itu sendiri. Kalaulah manhaj seperti ini kita terima begitu saja, maka tak ada lagi bid’ah di dunia yang perlu kita ingkari… dan keliru lah sikap Ibnu Mas’ud ra yang menempatkan mereka sebagai pembuka pintu-pintu kesesatan.
Ustadz Novel mengatakan –setelah menukil hadits mengenai puasa Asyura yang dikaitkan dengan kemenangan Nabi Musa ‘alaihissalaam terhadap Fir’aun–; “Dalam hadits di atas tampak jelas bahwa disyariatkannya puasa Sunah tersebut adalah untuk mensyukuri kemenangan Nabi Musa ‘alaihissalaam. Ini merupakan salah satu bukti bahwa puasa Sunah Asyura dikaitkan dengan waktu tertentu, yaitu tanggal 10 Muharram, hari kemenangan Nabi Musa ‘alaihissalaam.
Hadis di atas merupakan salah satu dalil penyelenggaraan peringatan Maulid Nabi. Jika hari selamatnya Nabi Musa dari kejaran Fir’aun disyukuri dan diperingati dengan puasa, lalu bagaimana kiranya dengan hari selamatnya seluruh alam dengan dimunculkannya Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaih wasallam ke dunia ini? [10])
Jawabnya; sebagai seorang Nabi dan Rasul akhir zaman, baginda Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam selama hidupnya banyak mengalami peristiwa-peristiwa besar. Sebut saja misalnya ketika beliau dibelah dadanya oleh Malaikat sewaktu kanak-kanak; atau ketika beliau berhasil melerai kaum Quraisy yang hampir saling bunuh karena berebut Hajar Aswad; atau ketika terjadi Bai’atul Aqabah pertama dan kedua; demikian pula ketika beliau hijrah ke Madinah, yang merupakan titik tolak kejayaan dakwah Islam; atau ketika beliau bersama 314 orang sahabatnya menang dalam perang Badar; kemudian perang Khandaq; Fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah), Perang Tabuk, dan berbagai peristiwa penting dan besar lainnya…
Pertanyaannya sekarang; mengapa Ustadz Novel dan orang-orang yang sepaham dengannya tidak memperingati peristiwa-peristiwa di atas…? Ataukah menurutnya peristiwa itu tak sepenting dan seagung kelahiran Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam…? Mengapa pula para sahabat melalaikan kemenangan-kemenangan mereka bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam dan tidak membuat acara peringatan untuk itu, meski sekali saja?? Alangkah tidak bersyukurnya mereka kalau begitu…?! Apakah mungkin Ustadz Novel cs lebih paham tentang arti syukur nikmat yang sesungguhnya dari pada para sahabat?? Bagaimana menurut pembaca…?
Perlu kita ketahui bahwa merayakan hari-hari tertentu merupakan salah satu ketetapan syari’at yang harus berdasar pada dalil yang shahih dan sharih (jelas) [11]). Tidak cukup hanya dengan main qiyas seperti itu. Adanya satu atau dua orang –bahkan seratus ulama pun– yang membolehkan suatu perayaan tidak lantas menjadi dalil bahwa hal tersebut dibenarkan dalam Islam. Karena jika demikian, kita telah mengakui adanya pembuat-pembuat syari’at selain Allah ta’ala.
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (Asy Syura: 21).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata: Siapa pun yang menganjurkan sesuatu sebagai sarana untuk bertaqarrub kepada Allah, atau mewajibkannya lewat ucapan maupun perbuatan, padahal Allah tidak mensyari’atkannya; berarti ia telah mensyariatkan untuk manusia agama yang tidak diizinkan Allah. Dan siapa saja yang mengikuti seruan orang itu, berarti telah menjadikannya sebagai sesembahan selain Allah.
Memang, boleh jadi orang itu memiliki persepsi lain (ta’wil) terhadap ajarannya, alias tidak berniat menyelisihi ayat di atas. Hingga karenanya Allah mengampuninya tersebab persepsi kelirunya itu. Yaitu bila ia melakukannya dalam kapasitasnya sebagai seorang mujtahid. Dengan ijtihadnya tadi, kesalahannya akan diampuni bahkan ia mendapat pahala ijtihad. Akan tetapi tetap kesalahan tersebut tidak boleh diikuti. Sebagaimana kita tidak boleh mengikuti perkataan atau perbuatan siapa pun, setelah kita mengetahui bahwa kebenaran tidak berpihak kepadanya, meski yang mengatakan atau berbuat tadi mendapat pahala dan memiliki udzur.
Memang, asal-usul kesesatan setiap orang yang ada di bumi ini tak lepas dari dua sebab:
1. Karena mengikuti ajaran yang tidak disyari’atkan (diperintahkan) Allah, atau
2. Karena mengharamkan apa yang tidak diharamkan Allah.
Karenanya, pijakan yang dijadikan Imam Ahmad dan para Imam lainnya dalam merumuskan madzhab mereka ialah bahwa perbuatan manusia selalu terbagi menjadi:
1. Ibadah-ibadah yang dijadikan ritual agama, dengan harapan mendapat manfaat di akhirat, atau di dunia dan akhirat.
2. Adat istiadat yang melaluinya mereka mencari manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Karenanya, hukum asal setiap peribadatan ialah tidak disyari’atkan sampai Allah sendiri yang mensyari’atkannya. Sedang hukum asal setiap adat istiadat ialah tidak dilarang kecuali bila Allah telah melarangnya.
Karenanya, peringatan-peringatan hari besar yang diada-adakan seperti ini, sebab dilarangnya tak lain tak bukan ialah karena di dalamnya terdapat banyak ritual agama yang dijadikan sarana bertaqarrub kepada Allah, padahal Allah tidak mensyari’atkannya untuk dilakukan dalam keadaan dan tata cara seperti itu. [12])
Bersambung ke tulisan berikutnya…
[1]) Mana Dalilnya 2, hal 31-32.
[3]) Dalam ‘Aunul Ma’bud syarh Sunan Abi Dawud, disebutkan bahwa jumlah sahabat yang haji bersama Rasulullah e mencapai 130.000 orang (lihat di: Kitabul Manasik, bab: fi ayyi waqtin yakhtubu yauman naĥri).
[4]) Tentunya selama hal tersebut bukan khusus bagi beliau, seperti menikah lebih dari empat, janda-jandanya tak boleh dinikahi, dan lain sebagainya.
[5]) Agar lantas orang tidak mengatakan bahwa memakai mikrofon untuk adzan, khutbah jum’at, dan pengajian termasuk bid’ah umpamanya. Sehingga dengan begitu apa yang kita katakan dinilai kontradiksi dengan perbuatan kita.
[6]) Lihat; Muqaddimah Sunan Ad Darimi, bab: fi karahiyati akhdzir ra’yi, hadits no 206. Kaum Khawarij ialah salah satu sekte Islam sempalan yang meyakini bahwa pelaku dosa besar hukumnya kafir, keluar dari Islam. Mereka juga berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib t, Mu’awiyah bin Abi Sufyan t, dan setiap orang yang ridha dengan diangkatnya Abu Musa dan Amru bin Al Ash sebagai juru runding telah kafir dan murtadd dari Islam. Karenanya mereka selalu mengadakan pemberontakan yang mengakibatkan terbunuhnya banyak kaum muslimin. Dalam sebuah pertempuran di daerah Nahrawan, pasukan Khawarij berhasil diporak-porandakan oleh tentara kaum muslimin dibawah komando Sayyidina Ali bin Abi Thalib t. Bahkan ketika itu beliau senantiasa mengulang-ulang sabda Nabi e yang menyebutkan bahwa diantara ciri pasukan yang akan diperanginya ialah: di dalamnya ada seorang lelaki yang tangannya buntung, membentuk sembulan daging mirip payudara wanita. Julukannya: Dzu Tsudayyah. Seusai peperangan, beliau perintahkan pasukannya untuk mencari lelaki dengan sifat tadi, dan tatkala menemukannya beliau bertakbir sembari mengatakan: “Maha benar Allah dan Rasul-Nya…”. Lihat; Al Muntazhom (باب ذكر خروج الخوارج على أمير المؤمنين). Sedangkan Nahrawan ialah nama daerah luas yang terletak antara Baghdad dan Wasith di sebelah timur Irak (lihat: Mu’jamul Buldan).
[7]) Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 2/422 pada tafsir ayat ke 125 surat An Nisa’.
[8]) Diriwayatkan dengan sanad yang bersambung oleh Abu Nu’aim Al Ashbahany dalam Hilyatul Auliya’, pada biografi Al Fudhail bin ‘Iyadh.
[9]) Lihat: Bida’ul Qurra’ hal 7, oleh Al ‘Allaamah Asy Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid. Cet.III 1416H. Daar Ash Shomay’i, Riyadh – Saudi Arabia. Keterangan ini beliau nukil dari Fatawa Imam Asy Syathiby hal 198.
[10]) Mana Dalilnya 2 hal 20-21.
[11]) Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- dalam Iqtidha-us Shiratil Mustaqim. Beliau mengatakan:
الأعياد شريعة من الشرائع فيجب فيها الاتباع, لا الابتداع (مختصر الاقتضاء, ص 281-282).
Penetapan hari raya termasuk bagian dari syari’at, karenanya kita diwajibkan untuk ittiba’ dalam hal ini, bukan mengada-adakan sendiri (Mukhtasar Iqtidha’us Shiratil Mustaqim, hal 281-282).
[12]) Lihat: Mukhtashar Al Iqtidha’, hal 257-258.

Sumber:
basweidan.wordpress.com

catatan pencari kebenaran

Standar

Ini adalah sebuah kisah nyata yang ana alami sendiri bersama jamaah tabligh selama 6 tahun, dulu ana merupakan salah satu pengikut dan pembela mati2an jamaah tabligh. sebuah jamaah baru dari india yg didirikan oleh syaikh Maulana Ilyas Al kandahlawi bersama teman dan keluarganya.yang sudah tidak asing lagi bagi kita semua. jamaah tabligh memang sangat handal dalam mempengaruhi orang2 awam, kyai, ustadz, dan tentu dalam tanda petik “tidak semua”. mereka dulu sangat menyejukkan hati dan pikiran ana, namun setelah ana masuk lebih dalam secara kritis ternyata ana temukan penyimpangan2 yg luar biasa. sebenarnya ana sudah merasakan ketidak beresan dengan jamaah ini, 3 tahun setelah ana ikut dengan aktifitas mereka, namun ana coba utk berhusnudzon kepada mereka, karena mereka juga mengamalkan sunnah, dan mendakwahkan sunnah ( sunnah2 tertentu yg lazim, itupun sudah terkotori oleh bid’ah ).
Mengapa saya Keluar dari JT…???

ini berawal ketika ana berinteraksi dengan empat manhaj ( manhaj tabligh, manhaj NU , manhaj ikhwani/hizbi dan manhaj Salaf),keberadaan ana dalam interaksi ketat antara keempat manhaj inilah yg membuat ana terpacu utk mencari kebenaran yg lebih rojih diantara 4 itu, silih berganti ana masuk kepada keempatnya, karena ana sejak dulu berkeyakinan, kebenaran hanya satu, dan golongan yg selamat pasti hanya satu( berdalil dari hadits iftiroqul ummah), dan ana harus mencari satu kebenaran itu, satu golongan itu… ibaratnya ana seperti musafir yg mencari satu berlian yg langka di zaman ini. di NU ana dilahirkan dan dibesarkan, keluarga ana dari umi dan abah adalah NU tulen dari generasi ke generasi, saya sangat terwarnai pada waktu itu, namun al hamdulillah meskipun demikian, saya berangkat dari pemikiran NU yg hanif, dimana abah tidak mau bertaklid dengan ke NU an meskipun beliau berpemahaman NU( asy’ariyah), beliau menolak sufiyah, dan tabaruk di kuburan. alhamdulillah sejak awal ana sudah ber basic seperti ini. walaupun pemahaman abah sedemikian itu, namun ana juga pernah ziarah kekuburan wali(yg dianggap wali oleh mereka), namun ana langsung timbul pertanyaan, masa orang yg sudah meninggal bisa ngasih bantuan, menghubungkan dengan Alloh? itu yg langsung terbesit dari benak ana. sampai pada titik klimaksnya ana kenal dengan Ikhwanul Muslimin di sekolah SMA ana dulu, dan mulailah perbandingan pemahaman ana lakukan, melalui dialog dengan mereka dan berdiskusi dengan mereka, dan tibalah pada klimaksnya ana berittikad utk keluar dari keyakinan NU dan beralih pada pemahaman Ikhwanul Muslimin yg pada waktu itu mendirikan PK (Partai Keadilan), mulailah ana dengan interaksi, aktfitas PK ana sering ikuti, mulai dari kajian liqo’ sampai turun kejalan utk kampanye, setelah ana mengenal PK lebih jauh, ana berfikir kenapa begitu militan sekali mereka ini, sampai bikin sistem partai, padahal secara logika umat islam akan semakin terkotak2, maka dari sinilah ana mengenal jamaah tabligh di masjid kampung ana. dan melaui diskusi panjang lebar otomatis dengan basic pemahaman ikhwani dan NU yg masih merwarnai ana, sampai titik akhir ana merasa kalah dengan bujukan JT, pada waktu itu ana melihat JT lebih simpel, sifatnya menyatukan umat baik dari NU, Muhammadiyah, dll bisa masuk tanpa susah payah…inilah yg membuat ana tertarik pada JT. dan disinilah ana berlama2 sampai 6 tahun bergabung dengan mereka… suatu hari ana keluar 3 hari dengan karkun di daerah bawen bersama Orang tua halaqoh bawen (ungaran-semarang) saat itu ana sudah bergabung selama 3 tahun dengan JT, dan ana sudah menikah, ana mencari kontrakan rumah dan ana di tawari di rumah karkun juga yg sudah belasan tahun ikut JT bahkan sudah pernah ke IP (IP= india pakistan, pada waktu itu tertib khuruj belum sampai ke bangladesh tapi ke India dan pakistan, sekarang ada tertib keluar 4 bulan IPB, india, pakistan dan bangladesh), ana putuskan mengajak istri ana tinggal di rumah karkun itu, dan alangkah terkejutnya ana ketika ana, ketika karkun pemilik rumah itu menyodorkan secarik kertas yg berisi amalan wirid agar di baca sebelum mendiami rumahnya. amalan itu adalah membaca Allohumma anzilni mubarokan wa anta khoirun munzilin sebanyak 4444 kali, tentu ana terima saja walaupun keyakinan ana berseberangan dengan dia, bahkan ana tidak mengamalkan amalan tersebut setelahnya, dan semakin terkejut lagi ketika di rumahnya yg super besar itu terdapat rajah2, jimat, hizib dan tulisan2 tanpa terbaca di setiap pintu, jendela, dan kamar yg intinya sebagai tolak kebakaran, tolak maling, tolak jin dll. istighfar ana tak habis2 saat itu, dan lebih anehnya lagi ketika itu ana sampaikan pada senior lain mereka justru tersenyum dan berkata… “satu hati saja…ga masalah”, dari sinilah ana mulai ragu… dan ana sampaikan pada teman2 karkun sehingga merekapun menyuruh ana keluar lebih lama yaitu 40 hari, dan akhirnya terwujud di jogja, ana bergabung dengan beberapa karkun senior yg beristri wanita salafy( murid ja’far umar tholib) yg menjadi dosen di UAD jogja, dari sana ana yakin bahwa JT lebih bagus dari salafy, buktinya istri karkun itu seorang salafy, pada waktu itu ana terus bertanya2, kok bisa ya??? padahal salafy kan kuat2 dalam berdalil dan menyesatkan JT, (pada waktu itu ana juga sudah kenal Laskar Jihad ja’far umar tholib) dan juga sering berdebat dengan mereka dalam masalah agama dan membela JT, semua yg dituduhkan JT kepada salafy ana koreksi dan telusuri kebenarannya, demikian juga dengan tuduhan salafy pada JT juga ana telusuri kebenaranya, saat ana dapat selebaran fatwa sesat JT dari ulama timur tengah, ana langsung ambil bantahan dari buku yg juga merupakan bantahan dari JT atas fatwa tersebut, yaitu sebuah buku karangan Abdul Kholiq pirzada dari mesir yg diterjemahkan oleh Ust. Masrohan Ahmad dari semarang(ust.JT)yg berjudul ” MAULANA ILYAS DIANTARA PENENTANG DAN PARA PENGIKUTNYA”(sekarang buku itu masih ada) berisi tentang fatwa terbaru dari ulama kibar timur tengah, disana juga disertakan ulama2 penentang dan pendukungnya, ana tidak merasa puas dengan buku itu karena masih rancu dan simpang siur, maka ana tanya kepada salah satu salafy, namanya Abu Umar cilacap( semoga Alloh memberkahi kehidupannya) dari beliau ana belajar tentang manhaj salaf, belajar tauhid, belajar hadits shohih dan belajar tentang iftiroqul ummah, termasuk belajar amalan2 sunnah dan mengenali bid’ah. ketika ana sampai pada masalah bid’ah dan sunnah/ tentang manhaj 4 imam, luar biasa detailnya pembahasan ilmu ini sehingga dibutuhkan kematangan akidah, kelurusan akidah dan pelepasan baju fanatik golongan, ana pada waktu itu terus membuktikan ilmu yg ana dapatkan pada kajian salaf, kepada aktifitas JT selama ini dan ana mulai ragu dan ragu, semakina lama ana keluar khuruj dengan JT, semakin terbukti apa yg ada dalam ilmu salaf itu… bahkan ana sering ngajak karkun ngaji salaf dan banyak dari mereka menolaknya, dengan congkak mereka berkata” saya tidak mau ngaji salaf karena bikin orang suka hujat dan membid’ahkan” diantara mereka juga ada yg ngaji salaf namun berada pada kondisi seperti saya..yaitu ragu2 terhadap JT, suatu hari ana berdebat dengan seorang amir tentang masalah penyamaan Rosululloh dengan kodok, dan ana terkejut ketika mereka bilang yg penting niatnya bagus, berikut nukilan tulisan ana atas kejengkelan ana pada penyamaan itu yg juga ana tulis di comment blog JT dan salafi :

“ana punya banyak pengalaman di JT yg sangat membuat saya naik darah dan naik pitam, walaupun ana dulu belum keluar dari JT, yaitu ketika amir shof bayan maghrib amir itu menyamakan Nabi Shollallohu’alaihi wasallam dengan kodok(na’udzubillah) mereka bilang” Nabi muhammad ibarat kodok yg hidup pada dua alam yg memperingatkan ikan2 agar tidak mau terpancing kail manusia ( keduniaan), begitu juga Nabi juga memperingatkan manusia karena ia pernah melihat neraka dan syurga,sekaligus hidup didunia bercakap dengan manusia memberi nasehat pada manusia yg lain.” alangkah murkanya saya ketika amir itu setelah ana luruskan malah bilang yg penting niatnya baik, dia bilang innamal a’malu biniyyat” bahkan saya dituduh membuat tidak satu hatinya jamaah yg ikut khurj karena mendebat amir. ini pengalaman ana ketika ana khurj di wilayah ungaran jawa tengah.
Orang tua halaqoh bawen (senior tabligh di bawen jateng semarang), pernah memberi ana amalan membaca Allohumma anzilni munzalan mubarokan wanta khoirul munzilin sebanyak 4444, karena ana baru mau menempati rumah kontrakan miliknya. dan ana juga mendapati di jendela2 pintu2, ada azimat dan rajah/hizib serta macam2 lafadz tak terbaca yg katanya untuk tolak balak. ini ana alami sendiri, jadi jika mereka menyangkal mereka tidak melakukan kebid’ahan dan kesyirikan dan bahkan pernah ngaku bukan sufi, itu karena mereka tidak tahu menahu dengan JT itu sendiri. bagaimana mungkin Jamaah yg mengaku menghidupkan sunnah mengajarkan wirid bid’ah, amalan kencing berdehem dan berjingkat, menjilati jari ala mereka dengan membaca doa tertentu setelah makan, katanya supaya tangannya bisa kuat saaat menghadapi lawan (pukulan brojo musti) ini ana dengar dan ana alami sendiri bahkan ana dulu ikut mendakwahkannya.
ketika ditanya ilmu jawabanya ngawur
*ana pernah bertanya pada mereka tentang islam, maka mereka menjawab islam itu : syariat, hakikat,ma’rifat. (sama dengan kitab bathil al hikam sufiyah) dan bahkan dalam takrir yg diulang ulang dalam tertib dan buku panduan tabligh mereka mengatakan ahli thoriqoh(sufi) bagi mereka adalah termasuk tiang / pilar agama islam yg jika tidak ada maka akan robohlah islam,(na’udzubillah).nah anehnya ketika saya tanyakan apakah mereka sufiyah mereka bilang tidak, kami hanya belajar dari thoriqohnya sufi.(bingung kan?) dilain tempat ana tanya karkun jogja, apa antum tau bahwa kita harus menghormati orang sufi, mereka menjawab saya bukan sufi tapi orang islam. tiudak ada kaidah yg baku karena mereka berkata tanpa kesatuan hati dan fikir sebagaimana yg mereka gembar gemborkan, kalolah dia sehati dan sefikir itu apabila dalam tertib2 tabligh aja sedangkan masalah tauhid mereka menyerahkan pada masing2 yg diyakininya, ini kan repot dan bahaya…ya ana langsung mengadakan studi kritis dengan keluar 4o hari dan hasilnya ana semakin kuat untuk segera keluar dari JT, dan sampai sekarang ana sudah bertaubat dari pemikiran dan aktifitas JT(ini saya nukil dari perjalanan kisah saya bersama JT )”

Demikian Sebagaimana yang saya kutip dari : http://www.mantanjt.blogspot.com

Berbicara Tentang Jamaah Tabligh… [1]

Jama’ah Tabligh Mengamalkan Hadits-Hadits Dha’if dan Palsu

Hal ini, salah satu hal berbahaya yang dimiliki oleh Jama’atut Tabligh. Mereka meriwayatkan segala hadits atau kabar yang ada, walaupun tanpa kendali dan tali kekang. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang berkata atasku apa-apa yang tidak pernah aku katakan, maka tempatkanlah tempat duduknya di neraka” [2].
Dalam hadits yang lain : “Sesungguhnya kedustaan atasku tidak seperti kedustaan atas orang lain. Maka barang siapa yang berdusta atasku dengan sengaja, tempatkanlah tempat duduknya di neraka” [3].
Dan dalam hadits yang keempat, beliau bersabda : “Barang siapa yang mengatakan sebuah hadits dariku dia mengira (menyangka) hadits tersebut dusta, maka ia salah satu diantara dua pendusta” [4].
“Yura” artinya “yudzon”, yaitu “diperkirakan”. Maka, perhatikanlah! Sekedar penyangka/mengira saja (sudah dianggap dusta), apalagi orang yang jahil (tidak tahu menahu) terhadap hadits tersebut. Orang yang berkata : “Saya belum yakin, apakah hadits ini shahih atau tidak shahih ?”. Hanya sekedar mengira saja, dan belum pasti dalam mengetahui apakah hadits tersebut shahih atau tidak shahih, hal ini telah memasukan pelakunya ke dalam golongan orang-orang yang tertuduh berdusta atas Nabi,
Oleh karena itu imam Ibnu Hibban menyebutkan hadis ini dalam muqodimah kitabnya al-majruhin dan muqaddimah kitab ash-shahih-nya, beliau berkata : “Maka orang yang ragu-ragu terhadap apa yang diriwayatkannya sama seperti orang yang berdusta atas Rasulullah”.
Dalam hal ini, Jama’attut-Tabligh memiliki keajaiban-keajaiban dan keanehan-keanehan yang luar biasa hadits yang meraka sebutkan jika seandainya pun shahih kadang mereka tidak bisa mengucapkan lafazh-nya dan tidak memahami makna nya dengan baik dan benar. Dan hadits yang tidak shahih berupa hadits dha’ifun jiddan (lemah sekali), maudhu’ (palsu), dan yang tidak ada asal-usulnya sama sekali; pada mereka sangat banyak dan saya, bersana mereka dalam hal ini memiliki beberapa kisah dan khabar.
Suatu saat salah seorang diantara mereka (jama’atut Tablihg) menyebutkan sebuah hadits yang tidak ada asal usulnya sama sekali. Maka, saya katakan kepadanya: “Hadits ini tidak ada asl-usulnya”.
Dia pun dengan kebodohannya menjawab :”Akan tetapi hadits dha’if boleh digunakan dalam fadha’ilul a’mal (keutamaan-keutamaan dalam beramal, pent)”.
Lihatlah ,dia berkata haditsnya dha ,if …,padahal Saya katakan-tadi-“ tidak ada asal – asulnya…” yakni , hadits tersebut dusta (palsu). Dia tidak bisa membedakan. Dia mengira bahwa kalimat “ haditsnya dho’if” itu berlaku pula pada hadits palsu, hadits yang tidak ada asal usulnya sama sekali, dan yang lemah sekali. Dia tidak mengetahui bahwa syarat pertama dari sekian syarat bolehnya berdalil dengan hadits dha’if adalah tidak boleh terlalu parah ke dha’f-annya.
Pada saat yang lain, salah seorang di antara mereka, membaca hadits dari kitab Riyadhush-shalihin. Kalian tahu bahwa kitab Riyadhush-shalihin, tulisan (pada hadits-haditsnya) ber-harakat sempurna. Dia membacanya dengan tanpa kaidah sama sekali. Yang marfu’ (ber-harakat dhammah) dia baca manshub (ber-harakat fa-hah), yang manshub dibaca majrur (ber-harakat kasrah), dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya, ia sampai pada penyebutan sebuah hadits. Saya masih tetap diam memperhatikan. Ia pun menyebutkan hadits [5] dan berkata :
(para malaikat akan bershalawat mendoakan kebaikan kepada salah seorang di antara kalian selama ia berada di mashlaahu..), sedangkan, lafazh hadits tersebut (seharusnya) : “fimushallahu”. Yakni. Di tempat shalatnya (masjidnya).
Kalian tahu perbedaan arti mashla dan mushalla ?
Apa arti al-mashla ? al-masla artinya baitun-nar, yakni rumah api, atau tempat pembakaran. Itulah makna al-mashla secara bahasa.
Saya pun tidak bisa diam dan lantas berteriak : “Wahai saudaraku! Mushallahu.. bukan mashlahu!”. Akhirnya, setelah shalat ia menghampiri saya dan beralasan: “Demi Allah, sebenarnya saya sedang sakit,” saya pun berkata: “Wahai Saudaraku! Kamu sakit? Mengapa tadi duduk di depan (berceramah)? Jangan duduk disana berdusta atas Nabi!” [6].
Imam Ibnu Hibban telah menukil dalam muqaddimah kitabnya Raudhatul-‘Uqala, beliau betkata: “Orang yang salah (keliru) dalam membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sama seperti orang yang berdusta atasnya, karena Rasululah tidak pernah mengucapkan hadits dengan keliru”, Apa yang dimaksud dengan keliru dalam pembacaan hadits? Yakni, ia merubah i’rab-nya (struktur bahasa) dan susunan katanya. Lihatlah, Rasulillah berkata “fii mushallahu”, sedangkan dia berkata “fii mashlahu’!.
Sebenarnya, saya masih banyak memiliki bermacam pengalaman bersama mereka. Sampai dalam masalah akidah sekalipun (mereka memiliki keanehan dan keajaiban). Dan tidak mengapa jika saya sebutkan lagi satu pengalaman saya bersama sebagian ikhwan saya, di salah satu masjid yang imam-nya salah seorang dari mereka (Jama’atut-Tabligh).
Kawan-kawan kami, seperti biasa sering melakukan diskusi bersama imam masjid tersebut. Namun, ia pun sering menghindar dari kawan-kawan kami itu, dan tidak mau duduk-duduk bersama mereka. Sampai akhirnya datanglah sekelompok Jama’atut-Tabligh dari Pakistan ke Masjid tersebut. Sang imam pun termotivasi oleh kedatangan mereka. Hingga akhirnya ia sendiri yang mendatangi sekelompok kawan-kawan kami para pemuda salafiyyin seraya berkata: “Saya adalah seorang ‘alim dari para ulama dakwah”.
Kemudian, datanglah seorang dari kawan kami dan berkata: “Saya ingin bertanya sebuah pertanyaan saja”. Sang imam pun menjawab: “Silahkan”. Pemuda tadi melanjutkan dan berkata: “Dimanakah Allah?”
Sang imam terhenyak sejenak, ia melihat-lihat dan terdiam. Lalu tiba-tiba menjawab: “Silahkan kamu tanya kepada para masyayikh (ulama) negeri kalian!”
Pemuda itu pun langsung berkata: “Apakah Allah di negeri kalian berbeda dengan Allah dinegeri kami?”
Allah Maha Esa.. Allah itu satu! Allah berfirman : “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa dia akan menjungkir balikan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?. (Qs. Al-Mulk/67:16).

Jama’ah Tabligh dan Bid’ah

Pada mereka terdapat bid’ah yang banyak. Bahkan dakwah mereka terbangun di atas bid’ah-bid’ah. Karena tiang penyangga utama dakwah mereka adalah al-Khuruj (keluar), dengan aturan-aturan sebagai berikut. Yakni, dalam setiap bulan (keluar) tiga hari. Dalam setahun, empat puluh hari. Dalam seumur hidup, empat bulan. Dan dalam satu pekan terdapat dua jaulah (perjalanan). Yang pertama, dilakukan di masjid yang dilakukan shalat didalamnya, dan yang kedua pindah-pindah. Dan dalam setiap hari terdapat dua halaqah semacam perjalanan) [7] Yang pertama, dilakukan dimasjid yang dilakukan shalat di dalamnya, dan yang kedua dilakukan di rumah. Dan mereka tidak akan ridha dengan seseorang, kecuali jika orang tersebut berpegang teguh dengan aturan-aturan seperti ini. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan bid’ah dalam agama yang sama sekali tidak diizinkan oleh Allah.
Selain keterangan di atas, sebenarnya masih banyak bentuk bid’ah pada mereka. Akan tetapi aturan-aturan seperti di atas telah menjerumuskan dalam sebuah bahaya besar. Yaitu, mewajibkan apa-apa yang semestinya tidak wajib. Maksudnya, mereka mengharuskan orang agar konsisten dengan aturan-aturan seperti ini. Bahkan mereka menjadikan hal ini sebagai simbol dan standar kebaikan dan keburukan seseorang.
Jadi jika anda berpegang teguh dengan aturan-aturan mereka berupa khuruj selama empat bulan, tiga hari, atau empat puluh hari, maka kamu tidak demikan, maka kamu orang yang lalai dan lemah menurut mereka. Sampai-sampai, pernah suatu saat ketika kami berada di luar negeri (dalam rangka berdakwah, pent), dan berjumpa dengan sekelompok dari mereka. Lalu mereka berkata kepada kami: “Khuruj-lah (keluar-lah) kalian!”. Kami pun menjawab: “Ya kami sekarang sedang khuruj (keluar). Kami dari Yordania, dan kini kami di Eropa. Kami sedang khuruj fi sabilillah (keluar di jalan Allah)!”.
Ataukah khuruj yang mereka maksud harus dengan urutan-urutan dan batasan-batasan Jama’atut-Tabligh? Demikianlah, yang ternyata mereka inginkan.
Sekarang kami di sini (indonesia), meninggalkan negeri kami arab dan datang ke sini. Ini disebut khuruj (keluar) atau dukhul (masuk)? Ini khuruj! Tapi khuruj kami adalah khuruj yang berdasarkan ilmu, khuruj yang sesuai dengan manhaj, dan khuruj yang sesuai dengan aqidah. Namun sayangnya, mereka (Jama’atut Tablig) tetap tidak menganggapnya sama sekali.
Begitulah, bid’ah jam’atut tabligh sangat banyak.
Diantara bid’ah mereka ialah bid’ah tashawwuf. Jama’atut tabligh membai’at pengikut mereka yang sudah lama dan konsisten dengan mereka dalam empat thariqat shufiyah, sebagaimana yang tertulis dengan tulisan syaikh dan tokoh besar mereka (yang bernama) In’am al Hasan. Saya memiliki sebuah surat yang ia tulis langsung, yang ditujukan kepada syaikh saat Al-Husyayyin. Didalam surat tersebut, In’am hasan berkata:”Kami membaiat orang-orang lama dari para pengikut kami dalam berdakwah, atas empat tariqat shufiyah ; asy-syahrawardiyyah, an-naqsyabandiyyah, al-jisytiyyah, al-qodiriyyah”.
Selain itu, merekapun memiliki kebiasaan mengusap-usap kuburan, bertabbaruk dengan orang-orang shaleh, dan al-murabathah (berdiam diri sambil menghadap ke satu arah tertentu, pent).
Saya teringat peristiwa yang saya alami pada tahun 1982. Pada saat itu saya masih remaja. Saya pergi ke negeri al-haramain asy-syarifain (Saudi arabia), dan itulah ziarah pertama saya ke negeri tersebut. Disana saya mencari sebagian masyayikh untuk mengambil ijazat hadits dari mereka. Sebagaimana sayapun mengambil faidah dari sebagian mereka. Saya bertanya : “Dimana syaikh Muhammad zakaria al-kandahlawi ?”.
Dia berkata : “Di sana, di Darul- ‘Ulumisy-Syar’iyyah”. Dahulu dekat dengan al-Haram, dan kini dipindahkan ke al_masjidun-Nabawi.
Maka saya pun pergi menuju ke tempat tersebut. Saya mengetuk pintu. Lalu keluarlah seseorang. Saya berkata kepadanya: “Saya ingin bertemu dengan syaikh Muhammad Zakariya, saya dari Yordania, saya seorang penuntut ilmu”.
Orang itu berkata: “Syaikh tidak bisa bertemu denganmu!”
Saya bertanya: “Mengapa?.
Ia menjawab: “Syaikh sedang ber-muabathah menghadap kuburan!
Begitulah! Ternyata dia sedang duduk di dalam ruangannya yang dekat dengan al-Haram sambil menghadap ke kuburan. Itulah yang disebut dengan al-murabathah.
Inilah kenyataannya! Ia (Muhammad Zakariya Al Kandahlawi) memiliki karya tulis dengan judul Fadha-ilul A’mal dan juga disebut dengan Tablghi Nishab. Adapun oleh saya, maka saya namakan Yablighi Nashshab, karena dipenuhi oleh hadits-hadits dha’if, khurafat, bid’ah-bid’ah, dan kesesatan-kesesatan lainnya. Wal ‘iyaadzu billaah. Demikian keadaan Jama’atut-Tabligh dalam segala perkaranya.

Jama’ah Tabligh dan Tauhid Uluhiyyah

Mereka tidak pernah berbicara masalah tauhid, terutama tauhid al-Uluhiyyah dan al-Asma’ washshifat. Mereka tidak berbicara masalah tauhid, melainkan hanya tauhid ar-Rububiyyah. Yakni, tentang siapakah Yang Maha Pencipta? Allah. Yang Memberi Rizki? Yang Maha Menghidupkan? Yang Maha Mematikan? Allah. Inilah yang yang menjadi kebiasaan dan dengungan mereka. Padahal, tauhid ini tidak pernah diingkari sama sekali oleh orang-orang kafir dahulu. Allah berfirman : “Dan sesungguhnya jika kamu yanyakan kepada mereka Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, tentu mereka akan menjawabL Allah..” (Qs. Luqman/31:25). [8]
Akan tetapi, mereka (orang-orang kafir dan musyrik dahulu) tidak mendapatkan manfaat dari keimanan mereka terhadap tauhid rububiyyah belum mengantaskannya dari lingkkaran kekufuran. Sebab, mereka hanya beriman terhadap tauhid ar-Rububiyyah, akan tetapi keliru dalam ber-tauhid al-Uluhiyyah (peribadatan kepada Allah dengan segala macam bentuknya yang disyariatkan, pent), sebagaimana yang mereka ucapkan dalam firman Allah berikut : “..Kami tidak menyembah mereka (sesembahan-sesembahan selain Allah) melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya… (Qs. Az-Zumar/39:3)
Lalu datanglah Jama’atut-Tabligh dan berkata: “Tidak! Ini (tauhid) membuat umat lari. Ini membuat umat menjauh (dari dakwah)”.
Oleh karena itu sekali lagi mereka tidak pernah menyinggung masalah tauhid ini. Mereka hanya berbicara masalah fadha-ilul a’mal.

Jama’ah Tabligh menganggap bid’ah lebih baik dari pada sunnah

Amir (pemimpin) mereka yang berada di al-Hudaidah pernah berkata: “Bid’ah yang menyatukan imat lebih baik daripada sunnah yang memecah-belah umat”!
Seorang yang ‘alim dan pandai dalam permasalahan agama seharusnya tidak berkata dengan sesuatu yang batil. Dia malah berkata: “(Bid’ah yang menyatukan umat lebih baik daripada Sunnah yang memecah-belah umat)”.
Na’uzubillah! Sesungguhnya satu perkataan ini saja sudah cukup sebagai bukti tentang kebodohan mereka. Bagaimana mungkin sebuah bid’ah sapat mempersatukan umat? Lalu, apakah bid’ah memang dapat menyatukan umat? Seandainya pun sebuah bid’ah itu mampu menyatukan umat, sesungguhnya hal itu seperti firmanAllah tentang Bani Israil (baca: kaum Yahudi, pent) berikut : “…kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah belah…(Qs. Al-Hasyr/59:14).
Sehingga seandainya pun sebuah bid’ah mampu menyatukan umat tetapi hal itu pada zhahir-nya saja. Adapun pada batinnya, justru memecah belah mereka. Ini berbeda halnya dengan Sunnah, seandainya pun secara zhahir, terlihat memecah-belah umat, maka sungguh, pada hakikatnya justru menyatukan mereka.
Bukanlah kalian tahu bahwa di antara nama-nama Al-Qur’an ialah al-Furqan (pembeda)? Lalu mengapa (disebut) al-Furqan? Karena Al-Qur’an membedakan antara yang haq dan yang batil.
Dalam shahih al-Bulhari :”.. dan Muhammad memcah-belah antara manusia.” [9].
Beliau memecah-belah manusia dengan al-haq atau dengan kebatilan? Tentu dengan al-haq, dan beliau pun memerangi kebatilan. Demikian pula dengan para pengikut beliau. Mereka memcah-belah umat dengan al-haq; karena dengan al-haq, jelaslah semua yang batil dan para pelakunya. Sedangkan bid’ah, jika pun menyatukan umat, maka sesungguhnya menyatukan di atas kebatilan. Dan hakikat persatuan tersebut adalah persatuan di atas kerusakan dan kebinasaan.

Jama’ah Tabligh dan Ahlus-Sunnah

Saya pernah mendengarkan ucapan salah seorang dari mereka, tatkala ia melihat sebuah kitab yang sedang saya baca yang membahas tentang jama’ah-jama’ah. Dalam kitab tersebut terdapat pembahasan tentang Jama’atut-Tabligh. Dia berkata: “Kitab ini lebih berbahaya dari pada Yahudi dan Nasrani!.
Saya yakin, orang itu belum membaca kitab tersebut; karena memang Jama’atut –Tabligh tidak suka membaca. Mereka tidak suka menuntut ilmu! Ilmu mereka hanya terbatas pada Riyadhush-Shalihin, Fadha-ilul A’mal atau Tablighi Nashshab. Selain itu, tidak ada.
Seandainya pun ada, maka sesungguhnya hal itu berasal dari kesungguhan usaha pribadi tertentu saja. Sungguh indah perkataan Imam Abu Hatim ar-Razi : “Tanda ahlul-bida’ ialah mencela ahlul-atsar (Ahlus-Sunnah)” [10].
Sebagian ulama salaf berkata: “Tidaklah engkau melihat ulama salaf berkata: “Tidaklah engkau melihat mubtadi’ (ahlul-bid’ah), melainkan pasti ia membenci ahlul-hadits (Ahlus-Sunnah)”. [11]
Tidak syak lagi, tatkala kita mengingkari dan menentang Jama’atut-Tabligh, baik tentang kegiatan khuruj mereka, aturan-aturan mereka, maupu pemikiran-pemikiran mereka, dan segala penyimpangan mereka, maka pastilah mereka tidak akan ridha dengan kita. Mereka membenci kita. Mereka pun membenci apa yang kita dakwahkan kepada kaum muslimin. Padahal, tidaklah kita berdakwah, melainkan berdakwah supaya orang menuju Sunnah.
Tatkala mereka mendakwahkan dan mengajak orang lain menuju golongan dan kelompoknya, kita senantiasa mengajak dan mendakwahkan manusia menuju Sunnah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang penyair berkata: “Maka cukuplah bagi kalian perbedaan ini di antara kita
Dan setiap bangunan akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya

Pandangan Jama’ah Tabligh Tentang Belajar Ilmu Syar’i

Dalam pokok-pokok dakwah mereka yang enam, mereka menyatakan tentang “ilmu”. Akan tetapi , ilmu mereka hanya sebatas Riyadhush-Shalihin, Hayatush-Shahabah, dan Fada-ilil A’mal.
Hayatush-Shahabah untuk kalangan orang-orang arab, sedangkan Fada-ilil A’mal atau Tablighi Nashshab untuk orang-orang selain arab.
Kitab Hayatush-Shahabah terdiri dari empat jilid besar. Kemudian sebagian kawan kami –para penuntut ilmu- mentahqiq dan menyaring kembali isi kitab itu. Sehingga jadilah kini, kitab tersebut hanya dalam satu jilid saja. Hadits-hadits yang shahih ternyata hanya dalam satu jilid, adapun tiga jilid lainnya berisi hadits-hadits dah’if, palsu, sangat lemah dan munkar.
Kemudian, sebagian orang yang menginginkan kebaikan untuk kaum muslimin dengan mencetak ulang kitab yang sudah merupakan intisari dari hadits-hadits yang shahih saja dalam satu jilid tersebut. Dalam jilid tersebut. Dalam jilid kitab tersebut –sengaja- ditulis “Cetakan umum untuk seluruh kaum muslimin, terkhusus untuk Jama’atut Tabligh”. Mengapa ditulis demikian? Dengan tujuan pendekatan kepada mereka.
Akhirnya dicetaklah dengan jumlah yang sangat banyak, dan dikirimkan ke salah satu markaz terbesar Jama’atut Tabligh di Yordania sebanyak seribu kitab. Ternyata, apa yang mereka lakukan? Mereka membakar seluruh kitab.
Salah satu Amir mereka berdiri sambil memegang kitab itu dan berkata: “Kitab ini telah dipalsukan dengan mengatasnamakan Jama’atut-Tabligh!” Padahal. Seluruh yang ada dalam satu jilid kitab tersebut, hadits-haditsnya sudah disaring dan dipilih dalam keadaan shahih seluruhnya. Namun, ternyata warisan leluhur mereka jauh lebih mereka cintai daripada al-haq dan ahlul-haq, dan daripada Sunnah-nya Ahlul-Sunnah. Sungguh amat disesalkan!
Kemudian, salah satu bentuk kebencian mereka terhadap ilmu, jika kamu bertanya kepada salah satu tokoh ulama atau pembesar mereka dalam masalah fikih –misalnya-, lalu kamu berkata kepadanya: “Terjadi pada diri saya begini dan begitu, bagaimana hukumnya?” Maka ia akan berkata kepadamu: “Kami tidak membicarakan masa’il (permasalahan fiqih), kami hanya berbicara masalah fadha’il (keutamaan-keutamaan)!”
Saya memiliki bantahan terhadap jawaban mereka itu, bukankah fadha’il (keutamaan-keutamaan) itu ada dengan sebab masa’il (permasalah fiqih)? Keutamaan segala sesuatu dapat kita ketahui dari kesimpulan pembahasan-pembahasan (fikih) yang ada.
Tatkala kita membicarakan –misalnya- seseorang yang hafal dan faham benar tentang fadha’ilush-shalah (keutamaan-keutamaan shalat), apakah orang tersebut hanya sekedar hafal dan faham benar tentang fadha’ilush-shalah, dan ia tidak pernah melakukan shalat?
Maka saya katakan disini, al-Fadha’il (keutamaan-keutamaan dalam beramal), jika dibandingkan dengan al-masa’il (permasalahan fiqih), seperti wudhu’ jika dibandingkan dengan shalat; yakni, apakah ada seseorang yang selalu berwudhu’ tetapi sama sekali tidak pernah melakukan shalat? Kalau begitu, apa faidah dia berwudhu? Bahkan wudhu’ tersebut bisa menjadi penghujatnya kelak!
Jadi apa fungsi seseorang mengetahui dan memahami al-Fadha’il (keutamaan-keutamaan dalam beramal), jika ia tidak mau mengetahui, menerapkan dan mempraktekkan al-masa-il (permasalahan fikih)? Sedang Nabi bersabda: “ Barang siapa yang Alla kehendaki kebaikan padanya, Allah akan jadikan ia pandai dalam agama..”. [12]
Berarti, jika mereka (Jama;atut-Tabligh) tidak mau mengetahui al-haq, dan tidak mau perhatikan terhadap al-haq, maka keadaan mereka yang jauh dari ilmu; merupakan salah satu tanda bahwa Allah tidak memberikan taufiq-Nya kepada mereka. Anggapan mereka, bahwa saat ini bukan waktu untuk menuntut ilmu! Mereka menyangka saat ini adalah waktu untuk berdakwah.
Apakah ada sebuah dakwah yang dilakukan tanpa dasar ilmu? Apakah boleh berdakwah tanpa ilmu?

Pandangan Jama’ah Tabligh Terhadap Golongan Lain

Mereka beranggapan, tidak ada keselamatan bagi manusia kecuali dengan menempuh jalan mereka. Mereka mengumpamakannya seperti kapal Nabu Nuh. Orang yang menaikinya selamat, dan oarang yang tidak mau menaikinya binasa.
Mereka berkata: “Sesungguhnya dakwah kami seperti kapal Nabi Nuh”. Hal ini telah kami dengar sendiri dari mereka di Yordania dan di Yaman.
Jama’atut-Tabligh, bukan jama’ah sunnah. Dan sebenarnya, kalimat “safinatu Nuh” “Kapal Nabi Nuh”, kutipan dari Imam Malik, saat beliau membicarakan nilai penting Sunnah bagi seorang muslim. Kata beliau: “(As-Sunnah bagaikan kapal Nabi Nuh. Barang siapa menungganginya, ia selamat. Dan barang-siapa yang tertinggal darinya, ia binasa)”. [13]
Ternyata, mereka (Jama’atut-Tabligh) menukilkan kalimat yang haq, untuk kemudian mereka letakkan pada sesuatu yang tidak haq. Sedangkan Allah berfirman: “Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. (Qs. ’Ali Imran/3:132)
Jadi, taat kepada Allah dan Rasul-Nya itulah Sunnah, yang jika seseorang tertinggal darinya, ia akan binasa, dan yang mengikutinya akan selamat. Bukan Jama’atut-Tabligh, yang tidak memahami al-haq dan tidak membersihkan hak yang semestinya kepada ahlul-haq.

Pandangan Jama’ah Tabligh Terhadap Penuntut Ilmu Syar’I

Mereka tidak siap untuk menuntut ilmu. Mereka beranggapan bahwa waktu yang digunakan untuk menuntut ilmu adalah sia-sia. Padahal Allah telah berfiman, yang artinya: Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) menuju Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik:. (Qs. Yusuf/12:108).
Yang dimaksud dengan al-bashirah, ialah hujjah dengan ilmu dan pengetahuan. Oleh karena itu, Allah pun berfirman:
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperhatikan kepadamu..” Qs. Hud/11 ayat 112- dan perintah Allah tidak mungkin dipraktekan dan dilaksanakan tanpa ilmu.
Sehingga bagaimanakah mereka berdakwah menuju Allah, dan mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran dan petunjuk, sementara itu mereka tidak menuntut dan tidak menghormati ilmu sama sekali?
Saya pernah mendengar salah satu senior mereka memberikan perumpamaan untuk membuat orang tidak sedang terhadap ilm. Kurang lebih dia berkata: “Perumpamaan orang-orang yang menuntut ilmu dan tidak berdakwah, bagaikan seseorang yang mempelajari buku tentang teori belajar berenang. Dia mempelajarinya sampai samapi benar-benar hafal dan menguasainya. Kemudian suatu saat, dia sedang berjalan di tepi pantai, lalu menjumpai seseorang yang sedang hampir tenggelam sambil berteriak-teriak meminta pertolongan. Tapi orang tadi (yang hafal buku teori berenang) justru berkata: “Tunggulah sebentar, Saya buka dulu buku teori belajar berenang. Saya akan baca cara menolong orang yang tenggelam”.
Lihatlah perumpamaan batil yang buruk ini wal’iyadzu billah!
Di manakah letak persamaan antara ilmu dan perumpamaan ini? Lagipula, apakah semua orang hanya sibuk dengan membaca dan belajar buku teori belajar berenang saja? Mereka mendapatkan perumpamaan seperti ini dari waswasatusy-syaithan (bisikan setan), sehinga membuat orang-orang tidak suka ilmu, dan akhirnya mereka pun jauh dari ilmu, dan akhirnya mereka pun jatuh dari ilmu dan para ulama.

Peringatan

Salah satu hal yang berbahaya pula pada Jama’atut Tabligh adalah merubah-ubah makna hadits dari makna yang sesungguhnya. Contohnya hadits yang berbunyi: “Dari (tanda-tanda) kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya”. [14]
Apa yang mereka artikan dari makna hadits ini? Mereka berkata: “Jika kamu melihat apapun yang terjadi di masjid, maka jangan kamu ingkari; karena Rasul telah bersabda.., “mereka pun membawakan hadits tadi.
Lihatlah! Dengan pemahaman seperti itu, mereka membatalkan amar ma’ruf dan nahi minkar dengan hujjah hadits di atas. Ini adalah kebatilan!
Lalu, apakah amar ma’ruf dan nahi munkar tidak bermanfaat bagi kita? Hingga bisa-bisanya mereka berhujjah dengan hadits di atas? Inilah substansi kebatilan.
Demikianlah, sebagian bid’ah mereka Wal ‘iyadzu Tabaraka wa Ta’ala.
Dipublikasikan oleh : ibnuramadan.wordpress.com

Nasehat Untuk Jamaah Tabligh… [15]
Agama Adalah Nasehat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Agama adalah nasehat, kami (para sahabat) bertanya : Untuk siapa wahai Rasulullah ? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Untuk Allah, Kitab-Naya, Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan orang-orang muslim”. (HR.Muslim).
Sabagai aplikasi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, maka saya ingin menyampaikan nasehat kepada seluruh kelompok dakwah islam, agar senantiasa berpegang teguh dengan al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih berdasarkan pemahaman para ulama salaf, seperti : para sahabat, tabi’in, pata imam mujtahidin dan orang-orang yang senantiasa meniti jejak mereka.

Kepada Jama’ah Tabligh

1. Nasehat saya kepada mereka, agar perpegang teguh dalam dakwahnya dengan al-Qur’an dan sunnah yang shahih, dan hendaklah mereka belajar al-Qur’an, tafsir, dan hadits. Sehingga dakwah mereka benar-benar berdasarkan ilmu, sebagaimana firman Allah ta’ala : “Katakanlah : “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (QS.Yusuf : 108).
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya ilmu (bisa diperoleh) hanya dengan belajar.” (Hadits hasan, lihat shahihul jami)
2. Mereka harus berpegang teguh dengan hadits-hadits yang shahih dan menjauhi hadits-kadits yang dhaif (lemah) dan maudu’ (palsu), sehingga mereka tidak masuk pada yang disinyalir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ”Cukup seseorang dikatakan berdusta jika menceritakan semua apa yang didengarnya.” (HR.Muslim).
3. Kepada al-Ahbab (orang-orang yang saya cintai) agar tidak memisahkan antara amar ma’ruf dan nahi munkar, karena Allah banyak menyebutkan secara bersamaan dalam ayat-ayat al-Qur’an, seperti firman Allah ta’ala : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada yang ma’ ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran : 104).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga punya perhatian serius dan memerintahkan kamum muslimin untuk merubah kemungkaran, sebagaimana sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran hendaklah merubah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu, maka hendaklah merubah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR.Muslim)
4. Hendaklah mereka memperhatikan dakwah kepada tauhid dengan serius, dan mendahulukannya atas yang lainnya, demi mengamalkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jadikanlah per tama kali yang kalian dakwahkan kepada mereka adalah syahadat (kalimat tauhid) la ilaha illallah.” (HR.Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sampai mereka (benar-benar) mentauhidkan Allah.” (HR.Bukhari).
“Mentauhidkan Allah”, maksudnya adalah : mengesakan Allah dalam semua jenis ibada, lebih-lebih dalam hal Do’a, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Do’a adalah Ibadah,” (HR.Tirmidzi. Beliau berkata : Hadits ini hasan shahih).

Nasihat umum kepada seluruh kelompok

Saya sekarang sudah tua renta, umur saya sekarang telah mencapai 70 tahun, dan saya mengharapkan kebaikan bagi semua kelompok, oleh karena itu untuk mengamalkan hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Agama itu nasehat”, saya ingin menyampaikan bebrapa nasehat ini :
1. Agar semua kelompok berpegang teguh dengan al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk ketaatan terhadap firman Allah : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan jangan kamu bercerai-berai..”(QS.Ali Imran : 103). Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Telah saya tinggalkan kepada kalian dua perkara, selama kalian berpegang teguh dengan kedudukannya, maka tidak akan tersesat, yaitu (kitabullah al-Qur’an dan sunnah Nabinya Shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (HR.Malik dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami).
2. Apabila jama’ah-jama’ah yang ada berselisih, hendaknya mereka kembali kepada al-Qur’an fan hadits serta amalan para sahabat, Allah ta’ala berfirman : “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kemu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya,”(QS.An-Nisa : 59). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah dengannya.” (Hadits shohih riwayat Imam Ahmad).
3. Hendaklah mereka memperhatikan dakwah tauhid yang menjadi prioritas dan pusat perhatian al-Qur’an. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya kepada tauhid dan memerintahkan para sahabatnya agar memulai dengannya.
4. Sesungguhnya saya telah masuk dan bergaul dengan kelompok-kelompok dakwah islam, dan saya lihat bahwa dakwah salafiyahlah yang konsisten dengan al-Qur’an dan sunnah menurut pemahaman salafus shaleh, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam para sahabatnya dan para tabiin. Dengan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi isyarat tentang kelompok tang satu ini dalam sabdanya : “Ketahuilah bahwasanya orang-orang sebelum kamu dari ahlikitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua di dalam neraka dan yang satu di surga yaitu al-Jama’ah.” (HR.Ahmad dan dinyatakan holeh al-Hafidz Ibnu Hajar). “Semua di dalam neraka kecuali satu yaitu apa yang saya dan para sahabatku ada diatasnya.” (HR.Tirmidzi dan dihasankan oleh al-Albani). Dalam hadits diatas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita, bahwasanya orang yahudi dan nasrani berpecah belah menjadi lebih banyak dari mereka, dan kelompok-kelompok yang banyak ini terancap masuk neraka, karena menyimpangnya dan jatuhnya dari kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya. Dan bawasanya hanya satu kelompok yang selamat dari neraka dan masuk surga, yaitu al-Jama’ah (kelompok yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan sunnah serta amalan para sahabat). Keistimewaan dakwah salafiyah adalah dakwah kepada tauhid, memerangi syirik, mengetahui hadits-hadits yang shahih dan memperingatkan umat dari hadits yang dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu), serta memahami hokum-hukum syariat dengan dalil-dalilnya. Dan ini sungguh sangat penting bagi setiap muslim. Oleh karena itu, saya menasehati seluruh saudara-saudaraku kaum muslimin, agar senantiasa konsisten dengan dakwah salafiyah, karena dakwah tersebut adalah dakwah yang selamat dan kelompok yang mendapat pertolongan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Akan senantiasa ada dari umatku satu kelompok yang tanpak diatas kebenaran, tidak memudharatkan mereka orang yang menghinakan mereka sampai dating urusan Allah.” (HR.Muslim). Midah-midahan Allah menjadikan kit ate rmasuk kelompok yang selamat dan mendapat pertolongan.

Footnote :

[1] Naskah ini merupakan ringkasan dari keterangan Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi terhadap kitab Hadzihi D’watuna Wa ‘Aqidatuna (Inikah Dakwah dan Aqidah Kami), karya Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’I pada point ke-16 tentang Jama’ah Tabligh. Penjelasan ini disampaikan Syaikh ‘Ali bin al-Halabi pada acara Daurah Syar’iyyah VIII, di Trawas, Mojokerto, yang berlangsung pada 29 Muharram – 6 Shafar 1429 H atau 7-13 Februari 2008. Diterjemahkan oleh Ustadz Abu “abdillah Arief Budiman bin Usman Rozali dengan beberapa tambahan subjudul dan footnote dari penterjemah. Yang dimuat pada Majalah As-Sunnah Edisi 01/THN.XII/1429H/2008M. Peringkasan dilakukan karena keterbatasan halaman. Mohon Maaf.
[2] HR al-Bukhari (1/52 no. 109), dan lain-lain dari Salmah bin Al ‘Akwa
[3] HR al-Bakhari (1/434 no. 1229), Muslim (1/10 no.4), dan lain-lain, dari al-Mughiirah bin Syu’bah
[4] Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya (1/8), dari al-Mughirah bin Syu’bah
[5] HR al-Bukhari (1/171 no. 434), Muslim (1/459 no. 649), dan lain-lain, dari Abu Hurairah. Dan lafazh hadits Nabi di atas dalam shahih al-Bakhari
[6] Apa hubungan antara penyakitnya dengan kesalahan dalam membaca harakat pada hadits Nabi di atas? Sungguh sebuah alasan yang secara zhahirnya mengada-ada dan tidak tepat pula. Wallahul-Musta’an
[7] Orang mungkin memahami; bukanlah ini hanya aturan untuk ketertiban seperti jam dan jadwal sekolaj? Jawabannya: Tidak demikian, sebab aturan yang mereka buat sebagai disiplin beragama, sedangkan jam dan jadwal hanya aturan administrasi dan tidak terkait dengan disiplin beragama.
[8] Lihat pula ayat-ayat serupa dalam Surat al-Ankabut/29 ayat 61, az-Zumar/39 ayat 38, dan az-Zukhruf/43 ayat 9. (pent)
[9] HR. al-Bukhari (6/2655 no.6852) dari hadits Jabir bin Abdillah
[10] Lihat Syarhu Usull I’tiqadi Ahlis-Sunnati wal-Jama’ah (1/200), karya al-Imam Abul-Qasim Hibatullah bin al-Hasan bin Manshur ath-Thabari al-Lalika’I (418 H)
[11] Lihat Szammul-Kalami wa ahlihi (2/72 no.229), karya Abu Ismail Abdullah bin Muhammad al-Anshari al-Harawi (396-481 H)
[12] HR al-Bukhari (1/39 no.71), Muslim (2/718 no. 1073), dan lain-lain, dari hadits Mu’awiyyah bin Abi Sufyan
[13] Lihat Dzammul-Kalami wa Ahlihi (5/80-81 no. 872).
[14] HR at-Tirmidzi (4/558 no. 2317), Ibnu Majah (2/1315 no. 376), dan lain-lain, dari Abu Hurairah. Dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dan Shahih Sunan at-Tarmidzi (2/530-531 no. 2317), Shahih Sunan Ibnu Majah (3/302 no.3226), dan kitab-kitab beliau lainnya.
[15] Dialihbahasakan oleh Abdurrahman Hadi Lc. Dari kitab “Kaifa Ihtadaitu ila at-Tauhid wa ash-Shiratil Mustaqim” Oleh : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Vol.6 No.6 Edisi 38 – 1429H]

Sumber Artikel:
mantanjt.blogspot.com
ibnuramadan.wordpress.com