Monthly Archives: Oktober 2011

santun berjilbab

Standar

´☆¸.•*“☆`•.,,.•´☆ ´¨`*•.¸☼♥•.¸♥¸.•*´¨`*• ☼.[~101 ALASAN MENGAPA SAYA PAKAI JILBAB~] ☆¸.•*“☆`•.,,.•´☆ ´¨`*•.¸☼♥•.¸♥¸.•*`*• ☼.¸♥.☆`•.,,.• ´☆¸.•*“☆`•.,,.•´☆ ´¨`*•.¸☼.

☆ 1. Menjalankan syi’ar Islam.
☆ 2. Berniat untuk ibadah.
☆ 3. Menutup aurat terhadap yang bukan muhrim.
☆ 4. Karena saya ingin ta’at kepada Allah yang telah menciptakan saya, menyempurnakan kejadian, memberi rizki, melindungi, dan menolong saya.
☆ 5. Karena saya ingin ta’at kepada Rasul-Nya, pembimbing ummat dengan risalah beliau.
☆ 6. Untuk memperoleh Ridho Allah (InsyaAllah).
☆ 7. Merupakan wujud tanda bersyukur atas nikmat-Nya yang tiada putus.
☆ 8. Seluruh ulama sepakat bahwa hukum mengenakan jilbab itu wajib.
☆ 9. Agar kaum wanita menutup auratnya.
☆ 10. Bukan karena gaya-gayaan.
☆ 11. Bukan karena mengikut trend.
☆ 12. Bukan karena berlagak sok suci.
☆ 13. Lebih baik sok suci dari pada sok zholim ^_^ .
☆ 14. Tidak sekadar bermaksud agar berbeda dari yang lain.
☆ 15. Meninggikan derajat wanita dari belenggu kehinaan yang hanya menjadi objek nafsu semata.
☆ 16. Jilbab cocok untuk semua wanita yang mau menjaga dirinya dari objek nafsu semata.
☆ 17. Saya ingin menjadi wanita solihah.
☆ 18. Saya tengah berusaha mencapai derajat teqwa.
☆ 19. Jilbab adalah pakaian taqwa.
☆ 20. Jilbab adalah identitas wanita muslimah.
☆ 21. Diawali dengan mengenakan jilbab, saya ingin menapak jalan ke surga.
☆ 22. Menjauhkan diri dari azab panasnya api neraka di hari kemudian.
☆ 23. Istri-istri Rasulullah berbusana muslimah.
☆ 24. Para sahabiah (sahabat Rasulullah yang wanita) juga berbusana muslimah.
☆ 25. Mereka merupakan panutan seluruh muslimah, begitu juga saya.
☆ 26. Semoga Allah memberikan kepada kita balasan jannah yang sama seperti mereka.
☆ 27. Untuk meninggikan izzah Islam.
☆ 28. Untuk meninggikan izzah (kemuliaan) diri sebagai wanita (muslimah).
☆ 29. Jilbab lebih melindungi diri.
☆ 30. Membuat saya lebih merasa aman.
☆ 31. Menjaga diri dari gangguan lelaki usil.
☆ 32. Menjaga diri dari obyek pandangan lelaki yang hanya ingin ‘cuci mata’.
☆ 33. Menjaga diri dari objek syahwat lelaki.
☆ 34. Menjaga diri dari mata lelaki yang jelalatan.
☆ 35. Menjaga diri dari tangan-tangan usil yang ingin menjamah.
☆ 36. Menghin dari zina mata dan zina hati.
☆ 37. Merupakan pencegahan dari perbuatan zina itu sendiri.
☆ 38. Jilbab dapat menghindari saya dari sikap-sikap yang negatif.
☆ 39. Jilbab dapat menghapus keinginan-keinginan yang menyimpang.
☆ 40. Membuat saya lebih bersahaja.
☆ 41. Membuat saya lebih khusyu’.
☆ 42. Mejauhkan saya dari perbuatan dosa (insyaAllah).
☆ 43. Membuat saya malu bila berbuat dosa.
☆ 44. Mendekatkan saya pada Allah.
☆ 45. Mendekatkan saya pada Rasulullah.
☆ 46. Mendekatkan saya pada nabi-nabi-Nya.
☆ 47. Mendekatkan saya pada sesama muslim.
☆ 48. Mendekatkan saya pada ajaran Islam. 49. Membuat saya tetap ingin belajar tentang Islam.
☆ 50. Membuat saya selalu merasa haus akan ajaran Islam.
☆ 51. Membuat saya tetap ingin menjalankan ajaran Islam.
☆ 52. Ajaran Islam berlaku sepanjang masa, tidak ada yang kuno.
☆ 53. Berjilbab bukan sesuatu yang kuno.
☆ 54. Mengatakan berjilbab itu kuno berarti telah menggugat otoritas Allah.
☆ 55. Allah Yang Maha Mengetahui lebih tahu apa yang terbaik bagi ummat-Nya. ☆ 56. Berjilbab, berarti menandakan kemajuan penerapan ajaran Islam di masa kini.
☆ 57. Merupakan satu barometer telah terbentuknya suatu lingkungan yang Islami.
☆ 58. Membedakan diri dari penganut agama lain.
☆ 59. Memudahkan dalam pengidentifikasian sesama saudari seiman.
☆ 60. Memperkuat tali silaturahmi dan ukuwah sesama muslimah.
☆ 61. Menghilangkan keraguan saya bila ingin menyapa saudari muslimah.
☆ 62. Memudahkan menanamkan rasa sayang-menyayangi sesama saudara/saudari seiman.
☆ 63. Membuat saya lebih terlihat anggun.
☆ 64. Membuat saya terlihat menyenangkan.
☆ 65. Membuat saya lebih terlihat wanita.
☆ 66. Tidak terlihat seperti laki-laki.
☆ 67. Membuat saya selalu berada dalam lingkungan yang Islami.
☆ 68. Jilbab menjaga saya dari pergaulan yang salah.
☆ 69. Memudahkan saya, dengan ijin Allah, mengenal lelaki yang salih.
☆ 70. Wanita yang baik (salihah) dengan lelaki yang baik (salih) pula.
☆ 71. Mudah-mudahan saya diberi jodoh lelaki yang salih.
☆ 72. Jodoh merupakan urusan Allah.
☆ 73. Dengan keta’atan pada Allah, Allah akan memberikan kemudahan-Nya.
☆ 74. Memudahkan saya dalam beraktifitas..
☆ 75. Membuat lebih mudah bergerak.
☆ 76. Jilbab menjagaku sehingga tidak terlihat lekuk-lekuk tubuh.
☆ 77. Sangat repot bila memakai pakaian wanita seperti trend saat ini (yang ketat).
☆ 78. Saya tidak suka memakai celana jeans.
☆ 79. Celana jeans yang ketat dapat menyebabkan kanker rahim karena suhu di sekitar rahim tidak beraturan.
☆ 80. Menghemat waktu dalam berpakaian.
☆ 81. Menghemat waktu dalam berhias.
☆ 82. Tidak perlu repot-repot selalu berusaha mengikuti trend mode yang berkembang.
☆ 83. Menghemat biaya untuk membeli pakaian yang sedang trend.
☆ 84. Menghemat biaya untuk membeli make up.
☆ 85. Melindungi kulit wajah dari make up yang dapat merusak kulit.
☆ 86. Melindungi kulit dari sengatan sinar matahari.
☆ 87. Meminimalkan penyakit kanker kulit.
☆ 88. Sengatan matahari dapat mengurangi kelembaban kulit sehingga kulit jadi kering.
☆ 89. Meminimalkan munculnya bintik-bintik hitam pada permukaan kulit akibat perubahan pigmen di usia tertenu.
☆ 90. Melindungi rambut dari debu-debu yang berterbangan.
☆ 91. Debu-debu itu dapat mengotori rambut dan menyebabkan rambut mudah rontok yang berakibat kebotakan.
☆ 92. Menuntun saya untuk hidup lebih sederhana.
☆ 93. Menghindari hidup yang konsumtif.
☆ 94. Membuat diri tidak silau dengan kemegahan dunia dan segala perhiasannya.
☆ 95. Membuat saya lebih memikirkan hal lain selain mode dan perhiasan.
☆ 96. Menempatkan wanita menjadi subjek dalam proses pembangunan ummat. 97. Lebih mudah dalam menabung.
☆ 98. Memiliki kesempatan untuk melakukan ibadah haji.
☆ 99. Memiliki kesempatan lebih banyak untuk berinfaq dan sedekah.
☆ 100. Itu berarti lebih banyak beramal untuk bekal di hari kemudian.
☆ 101. Membuat saya merasa menjadi wanita seutuhnya.

Iklan

piton2,telon2 kurang kerjaan

Standar

*1. KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA (NU) KE-5 Di Pekalongan, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1349 H / 7 September 1930 M. Lihat halaman : 58.

Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya melempar kendi yang penuh air hingga pecah pada waktu orang-orang yang menghadiri UPACARA PERINGATAN BULAN KE TUJUH dari umur kandungan pulang dengan membaca shalawat bersama-sama, dan dengan harapan supaya mudah kelahiran anak kelak. Apakah hal tersebut hukumnya haram karena termasuk membuang-buang uang (tabzir) ?

Jawab :
Ya, perbuatan tersebut hukumnya H A R A M karena termasuk tabdzir.

*2. KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA (NU) KE-7 Di Bandung, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1351 H / 9 Agustus 1932 M. Lihat halaman : 71.

Menanam ari-ari (masyimah/tembuni) hukumnya sunnah. Adapun menyalakan lilin (lampu) dan menaburkan bunga-bunga di atasnya itu hukumnya H A R A M, karena membuang-buang harta (tabzir) yang tidak ada manfa’atnya.

Maka dari Itu kami nasihatkan pada para Nahdiyin agar meninggalkan acara peringatan 7 bulanan sebab semuanya bid’ah dan termasuk prilaku orang kafir!
______________________
*Dikutip dari buku : “Masalah Keagamaan” hasil Muktamar/Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang, Kata Pengantar Menteri Agama Maftuh Basuni.

Wallahu ‘alam.

izinkan hatimu merenung

Standar

Renungkanlah….

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan, tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!

Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.

Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.

Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur’an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di shaf paling belakang ketika berada di Masjid

Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.

Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu, namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.

Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam al qur’an, namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci Al-Qur’an.

Betapa takutnya kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat menghadapnya namun betapa kita berani dan enggan untuk menghadapNya saat kumandang azan menggema.

Betapa setiap orang akan masuk surga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir atau mengatakan apa-apa atau berbuat apa-apa.

Betapa banyaknya dosa yang telah diperbuat, namun tak pernah terdetik dalam hati tuk bertaubat…

Nabi Adam ’alaihis salam mempunyai 1 dosa, yaitu melanggar larangan Allah…Ia diperintahkan untuk tidak mendekati sebuah pohon, tapi jusru memakan buahnya…Satu dosa yang ia lakukan menyebabkannya di turunkan dari bumi dan berpisah dengan istrinya…Kemudian Allah memberikan kalimat pertaubatan, dan Allah mengampuni dosanya dan bertemu kembali dengan istrinya setelah 100 tahun bertaubat…

Iblis juga mempunyai 1 dosa…yaitu melanggar perintah Allah. Ia diperintahkan untuk sujud menghormat pada Adam, tapi ia enggan bersujud karena merasa lebih baik dari Adam…Akhirnya Iblis di kutuk dan kekal dalam neraka… Na’udzubillah…

Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam terbebas dari perbuatan dosa ( ma’sum ), akan tetapi dalam sehari beliau bertaubat sedikitnya 70x…

Berapa banyak perintah Allah dan Rasul-Nya yang telah kita abaikan..dan berapa banyak larangan Allah dan Rasul-Nya yang kita langgar…lalu berapa kali kita bertaubat dalam sehari….

Pantaskah kiranya kita mendambakan surga-Nya..?
Smoga saja masih ada waktu tuk bertaubat dan memperbaiki diri…Amin ya Rabb

motivasi nikah dari pembawa risalah

Standar

Dari Kitab Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam Oleh Ibnu Hajar Al ‘Ashqalani

Hadits ke-1

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai pemuda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu. ” (Muttafaq Alaihi).

Hadits ke-2

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم حَمِدَ اَللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ لَكِنِّي أَنَا أُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ اَلنِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya bersabda: “Tetapi aku sholat dan juga tidur, aku berpuasa tetapi juga berbuka, dan aku mennikahi perempuan. Barangsiapa membenci sunnahku, ia tidak termasuk ummatku.” (Muttafaq Alaihi).

[Keterangan: ungkapan ini dilatarbelakangi adanya tiga orang yang dating kepada salah seorang isteri nabi, lalu bertanya tentang ibadah beliau. Setelah mereka mendapatkan penjelasan lalu mereka bediskusi, “bagaimana kondisi kita dibandingkan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal beliau telah diampuni seluruh dosanya yang lalu maupun yang akan datang”. Lalu salah seorang di antara mereka mengatakan, “Aku akan selalu shalat malam selamanya”. Orang kedua mengatakan, “Saya akan berpuasa selamanya dan tidak akan pernah berbuka”. Orang ketiga berkata “saya akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah”. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar, beliau marah dan menjelaskan, “Aku adalah orang yang paling takut dan paling bertaqwa di antara kalian, tetapi aku shalat dan aku tidur…. ]

Hadits ke-3

وَعَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا وَيَقُولُ تَزَوَّجُوا اَلْوَدُودَ اَلْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اَلْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ)

Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda: “Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.)

Hadits itu mempunyai syahid dalam riwayat Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Hibban dari hadits Ma’qil Ibnu Yasar.

Hadits ke-4

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ تُنْكَحُ اَلْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ اَلدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ مَعَ بَقِيَّةِ اَلسَّبْعَةِ)

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” (Muttafaq Alaihi dan Lima ahli hadis lainnya).

Hadits ke-5

وَعَنْهُ أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا رَفَّأَ إِنْسَانًا إِذَا تَزَوَّجَ قَالَ بَارَكَ اَللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ )رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ(

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila mendoakan seseorang yang nikah, beliau bersabda: “Semoga Allah memberkahimu dan menetapkan berkah atasmu, serta mengumpulkan engkau berdua dalam kebaikan.” Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits shahih menurut Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.

Hadits ke-6

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ عَلَّمَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلتَّشَهُّدَ فِي اَلْحَاجَةِ إِنَّ اَلْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا مَنْ يَهْدِهِ اَللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَيَقْرَأُ ثَلَاثَ آيَاتٍ )رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ وَحَسَّنَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ(

Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajari kami khutbah pada suatu hajat: (artinya = Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, kami meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami. Barangsiapa mendapat hidayah Allah tak ada orang yang dapat menyesatkannya. Barangsiapa disesatkan Allah, tak ada yang kuasa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya) dan membaca tiga ayat. (diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam Empat. Hadits hasan menurut Tirmidzi dan Hakim).

Hadits ke-7

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ , فَإِنْ اِسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ )رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ(

Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu melamar perempuan, jika ia bisa memandang bagian tubuhnya yang menarik untuk dinikahi, hendaknya ia lakukan.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya. Hadits shahih menurut Hakim).

Hadits itu mempunyai syahid dari hadits riwayat Tirmidzi dan Nasa’i dari al-Mughirah.

Begitu pula (ada syahid) di dalam riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari hadits Muhammad Ibnu Maslamah.

Sedangkan di dalam riwayat Muslim disebutkan
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِرَجُلٍ تَزَوَّجَ اِمْرَأَةً ، أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا ? قَالَ لَا . قَالَ اِذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bertanya kepada seseorang yang akan menikahi seorang wanita: “Apakah engkau telah melihatnya?” Ia menjawab: Belum. Beliau bersabda: “Pergi dan lihatlah dia.”

Hadits ke-8

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا يَخْطُبْ بَعْضُكُمْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ , حَتَّى يَتْرُكَ اَلْخَاطِبُ قَبْلَهُ , أَوْ يَأْذَنَ لَهُ اَلْخَاطِبُ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ , وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ)

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah seseorang di antara kamu melamar seseorang yang sedang dilamar saudaranya, hingga pelamar pertama meninggalkan atau mengizinkannya. ” (Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari).

Hadits ke-9

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ اَلسَّاعِدِيِّ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! جِئْتُ أَهَبُ لَكَ نَفْسِي , فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَصَعَّدَ اَلنَّظَرَ فِيهَا , وَصَوَّبَهُ , ثُمَّ طَأْطَأَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَأْسَهُ , فَلَمَّا رَأَتْ اَلْمَرْأَةُ أَنَّهُ لَمْ يَقْضِ فِيهَا شَيْئًا جَلَسَتْ , فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ . فَقَالَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ بِهَا حَاجَةٌ فَزَوِّجْنِيهَا . قَالَ ” فَهَلْ عِنْدكَ مِنْ شَيْءٍ ؟ ” . فَقَالَ لَا ، وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اَللَّهِ . فَقَالَ ” اِذْهَبْ إِلَى أَهْلِكَ , فَانْظُرْ هَلْ تَجِدُ شَيْئًا ؟ ” فَذَهَبَ , ثُمَّ رَجَعَ ؟ فَقَالَ : لَا , وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اَللَّهِ، مَا وَجَدْتُ شَيْئًا. فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” انْظُرْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ “، فَذَهَبَ، ثُمَّ رَجَعَ. فَقَالَ : لَا وَاَللَّهِ , يَا رَسُولَ اَللَّهِ , وَلَا خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ , وَلَكِنْ هَذَا إِزَارِي قَالَ سَهْلٌ : مَالُهُ رِدَاءٌ فَلَهَا نِصْفُهُ . فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” مَا تَصْنَعُ بِإِزَارِكَ ؟ إِنْ لَبِسْتَهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا مِنْهُ شَيْءٌ، وَإِنْ لَبِسَتْهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْكَ شَيْءٌ ” فَجَلَسَ اَلرَّجُلُ , وَحَتَّى إِذَا طَالَ مَجْلِسُهُ قَامَ ; فَرَآهُ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُوَلِّيًا فَأَمَرَ بِهِ , فَدُعِيَ لَهُ ، فَلَمَّا جَاءَ . قَالَ : ” مَاذَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ? ” . قَالَ : مَعِي سُورَةُ كَذَا , وَسُورَةُ كَذَا , عَدَّدَهَا . فَقَالَ : ” تَقْرَؤُهُنَّ عَنْ ظَهْرِ قَلْبِكَ ? ” . قَالَ : نَعَمْ , قَالَ : “اِذْهَبْ , فَقَدَ مَلَّكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ , وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ) .

Sahal Ibnu Sa’ad al-Sa’idy Radliyallaahu ‘anhu berkata: Ada seorang wanita menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata: Wahai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, aku datang untuk menghibahkan diriku pada baginda. Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memandangnya dengan penuh perhatian, kemudian beliau menganggukkan kepalanya. Ketika perempuan itu mengerti bahwa beliau tidak menghendakinya sama sekali, ia duduk. Berdirilah seorang shahabat dan berkata: “Wahai Rasulullah, jika baginda tidak menginginkannya, nikahkanlah aku dengannya. Beliau bersabda: “Apakah engkau mempunyai sesuatu?” Dia menjawab: Demi Allah tidak, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Pergilah ke keluargamu, lalu lihatlah, apakah engkau mempunyai sesuatu.” Ia pergi, kemudian kembali dam berkata: Demi Allah, tidak, aku tidak mempunyai sesuatu. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Carilah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi.” Ia pergi, kemudian kembali lagi dan berkata: Demi Allah tidak ada, wahai Rasulullah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi, tetapi ini kainku -Sahal berkata: Ia mempunyai selendang -yang setengah untuknya (perempuan itu). Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apa yang engkau akan lakukan dengan kainmu? Jika engkau memakainya, Ia tidak kebagian apa-apa dari kain itu dan jika ia memakainya, engkau tidak kebagian apa-apa.” Lalu orang itu duduk. Setelah duduk lama, ia berdiri. Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melihatnya berpaling, beliau memerintah untuk memanggilnya. Setelah ia datang, beliau bertanya: “Apakah engkau mempunyai hafalan Qur’an?” Ia menjawab: Aku hafal surat ini dan itu. Beliau bertanya: “Apakah engkau menghafalnya di luar kepala?” Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Pergilah, aku telah berikan wanita itu padamu dengan hafalan Qur’an yang engkau miliki.” (Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim).

Di dalam riwayat muslim yang lain disebutkan dengan lafadz;

اِنْطَلِقْ فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا فَعَلِّمْهَا مِنَ الْقُرْآنِ.

“berangkatlah, aku telah nikahkan ia denganmu dan ajarilah ia al-Qur’an.”

Sedangkan di dalam riwayat Imam al-bukhari disebutkan dengan lafadz;

أَمْكَنَّاكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ.

“Aku serahkan ia kepadamu dengan (maskawin) al-Qur’an yang telah engkau hafal.”

Menurut riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu beliau bersabda:

مَا تَحْفَظُ ؟ . قَالَ سُورَةَ اَلْبَقَرَةِ وَاَلَّتِي تَلِيهَا . قَالَ قُمْ . فَعَلِّمْهَا عِشْرِينَ آيَةً

“Surat apa yang engkau hafal?”. Ia menjawab: Surat al-Baqarah dan sesudahnya. Beliau bersabda: “Berdirilah dan ajarkanlah ia dua puluh ayat.”

Hadits ke-10

وَعَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ اَلزُّبَيْرِ , عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ أَعْلِنُوا اَلنِّكَاحَ (رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ)

Dari Amir Ibnu Abdullah Ibnu al-Zubair, dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sebarkanlah berita pernikahan.” (Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Hakim).

Hadits ke-11
وَعَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى , عَنْ أَبِيهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ اَلْمَدِينِيِّ , وَاَلتِّرْمِذِيُّ , وَابْنُ حِبَّانَ , وَأُعِلَّ بِالْإِرْسَالِ)

Dari Abu Burdah Ibnu Abu Musa, dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak sah nikah kecuali dengan wali.” (HR Ahmad dan Imam Empat. Hadits shahih menurut Ibnu al-Madiny, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban. Sebagian menilainya hadits mursal.)

Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu’ dari Hasan, dari Imran Ibnu al-Hushoin:
“Tidak sah nikah kecuali dengan seorang wali dan dua orang saksi.”

Hadits ke-12

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَيُّمَا اِمْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا, فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ, فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا اَلْمَهْرُ بِمَا اِسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا, فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ )أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ, وَصَحَّحَهُ أَبُو عَوَانَةَ , وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ(

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perempuan yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil. Jika sang laki-laki telah mencampurinya, maka ia wajib membayar maskawin untuk kehormatan yang telah dihalalkan darinya, dan jika mereka bertengkar maka penguasa dapat menjadi wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali.” (Dikeluarkan oleh Imam Empat kecuali Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Uwanah, Ibnu Hibban, dan Hakim.)

Hadits ke-13

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَا تُنْكَحُ اَلْأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ, وَلَا تُنْكَحُ اَلْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ” قَالُوا : يَا رَسُولَ اَللَّهِ , وَكَيْفَ إِذْنُهَا ؟ قَالَ : ” أَنْ تَسْكُتَ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diajak berembuk dan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta izinnya.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya? Beliau bersabda: “Ia diam.” Muttafaq Alaihi.

Hadits ke-14

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ اَلثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا , وَالْبِكْرُ تُسْتَأْمَرُ , وَإِذْنُهَا سُكُوتُهَا (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Seorang janda lebih berhak menentukan (pilihan) dirinya daripada walinya dan seorang gadis diajak berembuk, dan tanda izinnya adalah diamnya.” (Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban)

istiqoomah jalan hikmah

Standar

Dari Sufyan bin Abdillah ra, aku berkata: wahai Rasulullah saw ajarkanlah kepadaku dalam (agama) Islam ini suatu ucapan yang aku tidak akan bertanya tentang hal itu kepada orang lain selain engkau, (maka) Rasulullah saw bersabda: “Ucapkanlah: ‘aku beriman kepada Allah’, kemudian beristiqomahlah” (HR. Muslim)
Sahabat yang bertanya kepada rasulllah ini adalah Sufyan bin ‘Abdillah Ats Tsaqafi ra. Kunyah beliau adalah Abu ‘Amr, tetapi ada juga yang mengatakan: Abu ‘Amrah. Beliau pernah menjabat sebagai gubernur wilayah Ath Thaif pada jaman kekhalifahan ‘Umar bin Al Khaththab ra. Shahabat ini ingin agar Rasulullah saw menjelaskan persoalan syariat secara gemblang tetapi dalam ungkapan yang singkat saja.

Pertanyaan Sufyan ini menyiratkan besarnya semangat para Sahabat ra dalam menanyakan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka. Tujuan mereka menanyakan hal-hal tersebut adalah benar-benar untuk mengilmui (mengetahui) dan mengamalkannya, bukan hanya semata-mata untuk pengetahuan. Karena ilmu yang tidak dibarengi amal adalah seperti pohon yang tidak memiliki buah, Allah berfirman tentang hamba-hambaNya yang bertakwa:

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambahkan petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan kepada mereka ketakwaannya” (QS Muhammad:17)

Maka Rasul saw pun dalam menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang praktis, sekaligus mendasar. Beliau menjawab dengan dua buah kalimat, tetapi mencakup seluruh prinsip nilai agama Islam, yaitu “Katakanlah, aku telah beriman kepada Allah lalu beristiqamahlah”

Ya, kalau kita mempelajari pesan-pesan yang dibawa oleh ajaran Islam, baik di dalam al-Qur’an maupun di dalam sunnah RasulNya saw, untuk menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh shahabat tersebut, pasti tidak akan menemukan kalimat yang lebih mendasar daripada pesan rasulullah ini. Agama islam mengajarkan ilmu dan amal. Dasar untuk itu adalah mengenal Allah, tunduk dan patuh kepadaNya, dan buahnya adalah sikap taat kepadaNya. Pengetahuan tentang Allah yang sempurna akan mendorong seorang hamba untuk patuh dan tidak akan melanggar batas-batas yang telah ditentukan Allah.

Prinsip seperti ini pulalah yang telah dikemukkan oleh Allah di dalam al-Qur’an,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang telah mengatakan Rabb kami adalah Allah, lalu mereka istiqamah, maka para malaikat akan turun kepada mereka, dengan mengatakan, “Janganlah kalian takut dan bersedih hati, bergembiralah dengan sorga yang telah dijanjikan untuk kalian (Fushilat:30)

Ayat ini pun menyebutkan dua unsur utama agar seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan dan menyingkirkan segala duka, pertama adalah iman kepada Allah, dan kedua adalah istiqamah.

Iman

Kebanyakan orang mengalami kekeliruan dalam menjelaskan hakekat iman. Sebagai ilustrasi, kadang-kadang kita mendengar orang mengatakan, “Iman itu yang penting di dalam hati.” Atau orang mengatakan, “Yang penting hatinya masih percaya”

Kajian tentang hakekat iman adalah sangat penting, sebab iman menjadi satu istilah yang syar’i dan agung di dalam syariat. Secara bahasa iman berarti pembenaran (tashdiq) yang pasti dan tidak terkandung keraguan di dalamnya. Pembenaran yang dimaksud dari iman ini meliputi dua perkara, yaitu membenarkan segala berita, perintah, dan larangan, serta melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan- larangan-Nya.

Adapun secara istilah, Ahlus Sunnah wal Jamaah mendefinisikan iman dengan ungkapan, “Keyakinan di dalam hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan, bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan”. Definisi ini penting untuk digaris bawahi agar kita bisa membedakan antara pemahaman yang benar dengan pemahaman yang menyimpang. Salah satu penekanan di dalam definisi ini, bahwa amal adalah bagian dari iman. Maka bila seseorang melakukan berbagai amal ketaatan, imannya akan meningkat. Sebaliknya bila melakukan kemaksiatan maka imannya akan turun.

Banyak ayat al-Qur’an maupun hadis yang menunjukkan bahwa iman bisa meningkat dan bisa berkurang. Di antaranya adalah

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

“Dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, niscaya iman mereka bertambah” (Al-Anfal:2)

Secara jelas Allah menyebutkan adanya pertambahan iman pada diri seorang mukmin manakala dibacakan ayat-ayatNya. Ini menunjukkan bahwa iman bukan entitas statis, tetapi dinamis. Bisa bertambah, bisa berkurang, dan bisa hilang sama sekali.

Sedangkan di antara hadis yang menunjukkan iman bisa meningkat dan berkurang adalah;

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Iman terdiri dari tujuh puluh sekian cabang, yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah, dan terendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman. (Muslim, Abu dawud dan lain-lainnya)

Hadis ini berbicara tentang tingkatan-tingkatan iman. Jika semakin banyak cabang dilakukan, maka kualtas imannya tentu akan meningkat. Dan semakin sedikit cabang iman diamalkan, maka keimanannya akan semakin gersang. Dan jika tidak ada amal sama sekali, maka tidak ada iman.

Keimanan kepada Allah merupakan tingkat iman tertinggi. Keimanan ini mencakup percaya pada wujudNya, keyakinan pada keesaanNya dalam rububiyyahNya, uluhiyyahNya dan asma’ wa sifatNya. Sekali lagi, iman bukan sekedar percaya, tetapi harus ada aksi nyata. Maka keimanan kepada Allah secara mutlak mengharuskan kepercayaan kepada semua ajaran yang diturunkan Allah. Dan juga mengharuskan adanya ketaatan terhadap perintah dan larangannya.

Dari sini pula bisa difahami bahwa kalimat iman kepada Allah di dalam hadis di atas bukan berarti beriman cukup iman kepada Allah tanpa yang lain. Meskipun disebut hanya iman kepada Allah sesungguhnya mencakup keimanan kepada semua hal yang harus diyakini. Di dalam Al-Qur’an maupun hadis sering kali disebut beberapa acam rukun saja, seperti iman kepada Allah dan RasulNya, Iman kepada Allah dan hari kahir. Tetapi itu tetap menuntut keimanan kepada cabang-cabang yang lain, baik yang ushul maupun yang furu’. Adapun ushul iman sebagaimana disebutkan di dalam hadis Jibril, Rasulullah menyebutkan ada enam pokok, yaitu iman kepada Allah, malaikatNya, kitabNya, para rasulNya, hari akhir, dan tadirNya.

Untuk sampai kepada derajat keimanan ini, seseorang harus yakin secara mutlak, sehingga menyingkirkan segala bentuk keraguan. Keyakinan seperti ini akan sanggup menumbuhkan semangat jihad, semangat pengorbanan. Mengorbankan apa saja yang ada pada dirinya untuk tegaknya keimanannya. Firman Allah;

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya, kemudian tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar (al-Hujurat;15)

Demikian juga iman yang benar harus disertai dengan loyalitas kepada Allah, dan sebaliknya ingkar kepada tuhan-tuhan selain Allah. Keimanan kepada Allah yang tidak diikurti dengan pengingkaran terhadap tuhan-tuhan selain Allah adalah sia-sia belaka.

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا

“Maka, barang siapa kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang pada tali ikatan yang kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah :256)

Iman dan Ujian

Pengakuan iman seseorang tidak secara otomatis membuat Allah puas kepadanya. Allah telah menetapkan sebuah ketentuan bahwa setiap pengakuan iman akan melalui tahap ujian. Firman Allah

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ () وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia mengira mbahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan “Kami telah beriman” lalu mereka tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang benar (dengan pengakuan imannya) dan benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta (al-Ankabut:2-3)

Dalam kehidupan manusia ujian keimanan selalu datang silih berganti. Kadang-kadang ujian itu dating melalui syetan, menggoda orang beriman agar ingkar kepada llah. Kadang-kadang Allah menurunkan ujian melalui bala’, apakah ketika ditimpa ujian ini mereka bisa selalu teguh dengan keimanannya? Kadang-kadang pula ujian itu berupa hal-hal yang menyenangkannya, apakah ia lupa atau tidak?

Istiqamah

Kata istiqamah berakar dari kata “qaama” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqamah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Sedangkan secara terminologi, para ulama berpendapat bahwa makna istiqomah adalah berikut ini;

Abu Bakar As-Shiddiq ra ketika ditanya tentang Istiqâmah ia menjawab bahwa Istiqâmah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapa pun).

Umar bin Khattab ra berkata, “Istiqâmah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu”.

Utsman bin Affan ra berkata, “Istiqâmah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah Taala”.

Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Istiqâmah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”.

Mujahid berkata, “Istiqâmah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah Taala”.

Ibnu Taimiyah berkata, “Mereka berIstiqâmah dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri kanan”.

Dari berbagai definisi di atas, seorang mukmin yang istiqamah adalah mukmin yang selalu mempertahankan keimanan dan akidahnya dalam situasi dan kondisi apapun. Ia tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Ia selalu menjaga ketaatan kepada Allah lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Ia senantiasa sabar dalam menghadapi seluruh godaan, dan syukur dengan segala nikmat. Itulah manusia mukmin yang sesungguhnya.

Pendek kata, istiqamah itu maknanya adalah teguh mengikuti manhaj (system) Islam (shiratal mustaqim). Allah berfirman;

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

Dan bahwasanya ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah mengikuti jalan-jalan yang lain, yang menyebabkan kalian menyipang dari jalanNya (Al-An’am:153)

Dengan memperhatikan ayat tersebut tampaklah bahwa hakekat istiqamah adalah teguh dan mantap di atas jalan Islam. Dan tidak istiqamah maka berarti menyeleweng dan menyimpang dari ajaran Islam.

Istiqamah bisa dilakukan dalam hal aqidah, ibadah, akhlak, sikap. Istiqamah dalam aqidah, maka ia senantiasa menjaga keyakinannya tentang keesaan Allah. Kemudian ia mengikuti aqidah yang shahihah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw, dan diteladankan para shahabat ra. Istiqamah dalam akhlak, ia senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah tidak berlebih-lebihan dan tidak kurang. Tidak terburu-buru dan tidak malas. Istiqamah di dalam amal yaitu beramal sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw, tidak membuat bid’ah dan juga tidak meninggalkannya. Orang yang membebani diri dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan, seperti mengharamkan sesuatu yang mubah untuk mendekatkan diri kepada Allah, hakekatnya ia bukanlah orang yang istiqamah dalam amalnya.

Akan tetapi, bagaimana pun juga seorang hamba tidak mungkin dapat terus-menerus sempurna dalam beristiqamah. Karena bagaimana pun manusia tidak akan luput dari kesalahan dan kelalaian yang menyebabkan berkurangnya nilai keistiqamahannya. Oleh karena itu Allah memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertakwa untuk mengatasi keadaan ini dan memperbaiki kekurangan tersebut, yaitu dengan beristigfar (meminta ampun kepada Allah) dari semua dosa dan kesalahan, Allah berfirman:

فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

“Maka beristiqomahlah (tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada Allah) dan mohonlah ampun kepada-Nya” (QS. Fushshilat: 6),

Istigfar di sini mengandung pengertian bertaubat dan kembali kepada keistiqamahan. Dan ayat ini semakna dengan sabda Rasulullah saw: kepada Abu Dzar al-Ghifari ra :

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu akan menghapuskan (dosa) perbuatan buruk tersebut, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

Agar Bisa Istiqamah

Meskipun Allah memberikan jalan kembali pada kita ketika keistiqamahan kita merosot, tentu kita tidak menginginkan terjadi kemerosotan ini. Apalagi tidak adanya jaminan kemerosotan istiqamah akan berakhir dengan istighfar. Sebab bisa jadi keistiqamahan itu merosot, merosot dan merosot hingga akhirnya iman habis sama sekali. Karena itu penting sekali kita mengetahui hal-hal yang bisa menjaga keimanan kita, sehingga kita tetap dalam keistiqamahan.

Untuk menutup kajian ini, berikut ini kami kutipkan beberapa hal yang bisa menjadikan keimanan kita mantap dan Istiqamah.

1. Memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar, Allah swt berfirman:

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاء

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat,dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki” (QS. Ibrahim: 27)

Makna ‘ucapan yang teguh’ dalam ayat ini adalah dua kalimat syahadat yang dipahami dan diamalkan dengan benar, sebagaimana yang ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أُقْعِدَ الْمُؤْمِنُ فِي قَبْرِهِ أُتِيَ ثُمَّ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَذَلِكَ قَوْلُهُ { يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ }

Dari Baro’ bin ‘Azib ra dari Rasulullah saw, beliau bersabda: “Apabila seorang muslim didudukan di dalam kuburnya lalu dia ditanya (oleh malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi bahwa ‘tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah’ (لا إله إلا الله) dan ‘Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah’ (محمد رسول الله), itulah makna Firman-Nya: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”. (HR al-Bukhari)

2. Membaca Al Quran dengan menghayati dan merenungkannya. Al Quran adalah sumber peneguh iman yang paling utama bagi orang-orang yang beriman, ebagaimana firman Alloh:

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Robb-mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS. An Nahl: 102)

3. Berkumpul dan bergaul bersama orang-orang yang bisa membantu meneguhkan iman. Allah menyatakan dalam Al Quran bahwa salah satu di antara sebab utama yang membantu menguatkan iman para sahabat Rasulullah saw adalah keberadaan Rasulullah saw di tengah-tengah mereka. Allah berfirman:

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rosul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS. Ali ‘Imran: 101)

4. Berdoa kepada Alloh. Di dalam Al-Quran Allah swt memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdoa kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman ketika menghadapi ujian. Firman Allah:

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (146) وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآَتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148)

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan: ‘Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Ali ‘Imran: 146-148)

5. Membaca kisah-kisah para Nabi dan Rasul saw serta orang-orang shalih yang terdahulu untuk mengambil suri teladan. Dalam Al Quran banyak diceritakan kisah-kisah para Nabi, rasul, dan orang-orang yang beriman yang terdahulu, yang Allah jadikan untuk meneguhkan hati Rasulullah saw dengan mengambil teladan dari kisah-kisah tersebut ketika menghadapi permusuhan orang-orang kafir. Allah berfirman:

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud:120)

Allahu a’lam bish-shawab

Hadits-hadits yang Masyhur tetapi Sanadnya Dla’if

Standar

Muqaddimah

Segala puji bagi Allah, semoga selawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah, Wa Ba’d

Inilah 100 buah hadis dla’if (lemah) maudlu’ (palsu) yang tersebar luas di kalangan khatib dan muballigh. Sedangkan di dalam hadis yang shahih telah cukup bagi seorang muslim sehingga tidak perlu mengambil hadis dla’if. Saya memohon kepada Allah kiranya usaha ini bermanfaat.

Kami (Penerjemah) tambahkan bahwa ke 100 hadis yang dituliskan oleh al-Ustadz Ihsan al-Utaibi ini semula tidak urut abjad, lalu kami urutkan sesuai dengan urutan abjad hadis, agar memudahkan pembaca untuk mencari. Selain itu ternyata ada beberapa pengulangan hadis, sehingga jumlahnya tidak mencapai 100 buah. Untuk itulah kami berusaha menambahkannya sehingga lengkap 100 buah. Tetapi setelah itu kami merasa masih ada beberapa hadis masyhur tetapi sanadnya dla’if yang perlu ditambahkan lagi, sehingga akhirnya jumlahnya lebih dari 100 buah hadis.

Adapun cara kami menambahkan adalah dengan mengambil dari kitab silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah karya Syaikh al-Albani. Alasan kami mengambil dari sana, sebab ketika kami teliti satu per satu hadis yang dikemukakan oleh Ihsan al-Utaibi, ternyata semuanya sudah ada di dalam kitab adl-Dla’ifah tersebut. Maka untuk melengkapi bilangan itu kami pilihkan hadis yang menurut kami populer di antara sekian banyak hadis dla’if di dalam kitab tersebut.

Kemudian buku kecil ini juga merupakan revisi dari tulisan ini yang telah dipublikasikan oleh beberapa kawan melalui web site masing-masing. Dalam penerjemahan terdahulu ada beberapa kesalahan ringan, yang menurut kami cukup mengganggu. Sebagai misal dalam hadis yang ketiga, di tulisan terdahulu tertulis sya’ru yang berarti rambut. Setelah kami renungkan ulang makna hadis tu jadi tidak masuk akal, maka kami menggantinya dengan syi’ru yang berarti sya’ir. Dan ada lagi beberapa hadis yang harakatnya kurang sempurna, dan penerjemahannya masih kurang. Maka edisi ini kami anggap sebagai perbaikan, dan kami mohon maaf atas segala kekurangan.

Semoga Allah berkenan menjadikan amal ini sebagai bagian dari perjuangan membela Islam, dalam membersihkan sunnah dari kotoran-kotoran dan pemalsuan. Dan semoga Allah memasukkan amal ini sebagai amal shalih kami, yang memerberat timbangan amal shalih di akhirat kelak. Amin

Abah Zacky

آخِرُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ رَجُلٌ مِنْ جُهَيْنَةٍ، يُقَالُ لَهُ: جُهَيْنَةٌ، فَيَسْأَلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ : هَلْ بَقِيَ أَحَدٌ يُعَذَّبُ ؟ فَيَقُوْلُ : لاَ، فَيَقُوْلُوْنَ عِنْدَ جُهَيْنَةٍ الْخَبَرُ الْيَقِيْنُ

1- Orang yang paling akhir masuk sorga adalah laki-laki dari suku Juhainah yang bernama Juhainah. Kemudian ia ditanya oleh penghuni sorga; Masih adakah orang yang disiksa? Dia menjawab; Tidak. Maka mereka berkata; Pada Juhainah ada berita yang meyakinkan

Hadis ini maudlu’ (palsu), Kasyf al-Ilahi, ath-Tharablusi, 1:161; Tanzih asy-Syari’ah, 2:391; al-Fawaid al-Majmu’ah, 1429

آفَةُ الدِّيْنِ ثَلاَثَةٌ فَقِيْهٌ فَاجِرٌ وَ إِمَامٌ جَائِرٌ وَ مُجْتَهِدٌ جَاهِلٌ

2- Penyakit agama ada tiga macam, yaitu ahli fikih yang keji, pemimpin yang kejam dan mujtahid yang bodoh.

Hadis maudlu’. al-Maudlu’ah, 819

آمَنَ شِعْرُ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِي الصَّلَتِ وَكَفَرَ قَلْبُهُ

3- Telah beriman Sya’ir Umayyah bin Abi ash-Shalt tetapi hatinya masih kafir

Hadis ini dla’if (lemah). Kasyf al-Khafa’, 1:19; adl-Dla’ifah 1546.

أَبْرِدُوْا بِالطَّعَامِ فَإِنَّ الطَّعَامَ الْحَارَّ غَيْرُ ذِي الْبَرَكَةِ

4- Dinginkanlah makanan itu, sebab makanan yang panas itu tidak mengandung berkah

Hadis dla’if

اْلأَبْدَالُ فِي هَذِهِ اْلأُمَّةِ ثَلاَثُوْنَ، مِثْلُ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلِ الرَّحْمَنِ عَزِّ وَجَلَّ، كُلَّمَا مَاتَ رَجُلٌ أَبْدَلَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَكَانَهً رَجُلاً

5- Pengganti pada ummat ini ada tiga puluh, seperti Ibrahim Khalilurrahman (kekasih Allah Yang Maha pengasih) azza wa jalla, setiap kali ada yang mati di antara mereka maka Allah akan menempatkan seseorang pada posisinya sebaga pengganti

Hadis ini palsu, asl-Asrar al-Marfu’ah, Ali al-Qari, 470; Tamyiz at-Thayyib min al-Khabits, Ibnu ad-Diba’, 7; al-Manar al-Munif, Ibnu al-Qayyim, 308.

أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللهِ الطَّلاَقِ

6- Barang halal yang peling dibenci Allah adalah talaq (perceraian)

Hadis ini dla’if (lemah), al-Ilal al-Mutanahiyah. Ibnu al-Jauzi, 2:1056; adz-Dzakhirah,1:23

اتَّقُوْا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُوْرِ اللهِ

7- Berhati-hatilah terhadap firasat orang mukmin, karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah

Hadis ini dla’if. Tanzih asy-Syari’ah, al-Kanani, 2:305; al-Maudlu’at, ash-Shaghani, 74.

أَجْرَؤُكُمْ عَلَ الْفُتْيَا أَجْرَئُكُمْ عَلَى النَّارِ

8- Yang paling berani berfatwa di antara kalian adalah orang yang paling berani ke neraka

Hadis ini dla’if, adl-Dla’ifah, 1814

اخْتِلاَفُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ

9- Perbedaan pendapat di kalangan ummatku adalah rahmat

Hadis ini Maudlu’. Al-Asrar al-Marfu’ah, 506; Tanzih asy-Syari’ah, 2:402. Al-Albani mengatakan; hadis ini tidak ada asalnya, adl-Dla’ifah, 57.

أَدَّبَنِيْ رَبِّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ

10- Rabb (Tuhan)ku telah mendidikku dan membaguskan pendidikanku

Ibnu Taimiyah mengatakan; Tidak diketahui adanya sanad yang teguh pada hadis ini. Ahadits al-Qashash, 78; Asy-Syaukani menyebutkan di dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah, 1020; dan Al-Futni menyebutkan dalam Tadzkiratu al-Maudlu’at, 87

إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الصَّفِّ وَقَدْ تَمَّ فَلْيَجْبِذْ إِلَيْهِ رَجُلاً يُقِيْمُهُ إِلَى جَنْبِهِ

11- Apabila salah seorang di antara kalian sampai ke suatu shaff yang telah penuh maka hendaklah menarik seorang dari shaf itu untuk berdiri di sampingnya

Hadis ini dla’if, at-Talkhish al-Khabir, Ibnu hajar, 2:37; adl-Dla’ifah, 921

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ أَرْبَعِيْنَ قُلَّةً لَمْ يَحْمِلِ الْخُبُثُ

12. Apabila air telah mencapai empat puluh kulah, maka kotoran (najis) tidak akan mempengaruhinya

Hadis ini tidak sah dari Rasulullah saw

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السَّوْدَ خَرَجَتْ مِنْ قِبَلِ خُرَاسَانَ، فَأَتَوْهَا وَلَوْ حَبْواً فَإِنَّ فِيْهَا خَلِيْفَةُ اللهِ الْمَهْدِيّ

13- Apabila kalian melihat bendera hitam keluar dari arah Khurasan, maka datangilah ia meskipun dengan merangkak, karena padanya ada khalifatullah al-Mahdi

Hadis ini Dla’if, al-Manar al-Munif, Ibnu al-Qayyim, 340; al-Maudlu’at, Ibnu al-Jauzi, 2:39; Tadzkiratu al-Maudlu’at, 233

إِذَا فُعِلَتْ أُمَّتِي خَمْسَ عَشْرَةَ خَصْلَةً حَلَّ بِهَا الْبَلاَءُ : إِذَا كَانَ الْمَغْنَمُ دُوْلاً ، وَاْلأَمَانَةُ مَغْنَماً ، وَالزَّكَاةُ مَغْرَماً ، وَاَطَاعَ الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ، وَعَقَّ اُمَّهُ، وَبَرَّ صَدِيْقَهُ، وَجَفَا اَبَاهُ وَارْتَفَعَتِ اْلاَصْوَاتِ فِي الْمَسْاجِدِ، وَكَانَ زَعِيْمُ الْقَوْمِ اَرْذَلُهُمْ ، وَاَكْرَمُ الرَّجُلِ مُخَالَفَةَ شَرِّهِ ، وَشُرِبَ الْخَمْرُ ، وَلُبِسَ الْحَرِيْرُ، وَاتُّخِذَتِ الْقَيْنَاتُ وَالْمَعَازِفُ، وَلَعَنَ آخِرُ هَذِهِ اْلاُمَّةِ اَوَّلَهَا ، فَلْتَرْتَقِبُوْا عِنْدَ ذَلِكَ رِيْحًا حَمْرَاءَ، وَخَسَفًا وَمَسْخًا

14. Apabila umatku melakukan lima nelas perkara, maka halal untuk ditimpa bencana. Apabila hasil rampasam prang hanya untuk mereka saja, amanat dianggap sebagai miliknya, zakat dijadikan sebagai pembayaran hutang, suami mentaati isteri, mendurhakai ibunya tetapi berbuat baik kepada kawannya dan memutuskan hubungan dengan ayahnya, munculnya suara-suara keras dan teriakan di dalam masjid, pemimpin suatu kaum adalah yang paling keji di antara mereka, dimuliakannya seseorang karena ditakuti kejahatannya, khamar telah menjadi minuman biasa, sutera telah biasa dipakai, biduanita dan musik digunakan, generasi terakhir ummat ini mengutuk generasi pertamanya. Oleh karena itu apabila telah nyata tanda-tandanya hendkalah kalan waspada akan datangnya badai dahsyat atau terbenam-nya tanah dan musnahnya apa yang ada di muka bumi.

Hadis ini dla’if, Sunan at-Tirmidzi, 2:33; al-Ilal al-Mutanahiah, 2:1421, al-Kasyf al-Ilahi, 1:33.

إِذَا مَاتَ الرَّجُلُ مِنْكُمْ فَدَفَنْتُمُوْهُ فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عِنْدَ رَأْسِهِ فَلْيَقُلْ : يَا فُلاَنُ بْنُ فُلاَنَةٍ فَإِنَّهُ سَيَسْمَعُ، فَلْيَقُلْ: يَا فُلاَنُ بْنُ فُلاَنَةٍ فَإِنَّهُ سَيَسْتَوِي قَاعِداً، فَلْيَقُلْ: يَا فُلاَنُ بْنُ فُلاَنَةٍ فَإِنَّهُ سَيَقُوْلُ: أَرْشِدْنِيْ أَرْشِدْنِيْ رَحِمَكَ اللهُ، فَلْيَقُلْ مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنْ دَارِ الدُّنْيَا: شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لاَ رَيْبَ فِيْهَا وَأَنَّ اللهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُوْرِ، فَإِنَّ مُنْكَرًا وَنَكِيْرًا يَأْخُذُ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِيَدِ صَاحِبِهِ وَيَقُوْلُ لُهُ: مَا نَصْنَعُ عِنْدَ رَجُلٍ قَدْ لَقِنَ حُجَّتَهُ؟ فَيَكُوْنُ اللهُ حَجِيْجَهُمَا دُوْنَهُ

15- Bila salah seorang di antara kalian meninggal dunia dan telah kaliankebumikan maka hendaklah salah seorang di antara kalian berdiri di bagian kepalanya lalu berkata, wahai fulan bin fulanah, sesungguhnya ia akan mendengarkan. Lalu hendaklah mengatakan lagi wahai fulan bin fulan ia akan duduk dengan tegak. Kemudian mengatakan lagi, wahai fulan bin fulan maka ia akan menjawab, tuntunlah aku, tuntunlah aku semoga Allah merahmati kalian. Kemudian katakanlah; Ingatlah apa yang telah mengeluarkanmu dari alam dunia, persaksian bahwasannya tidak ada tuhan melainkan Allah semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Dan bahwasannya kiamat pasti datang, tanpa ada keraguan, dan Allah membangkitkan orang yang di dalam kubur, dan bahwa Munkar dan Nakir masing-masing memegang tangan penghuni kubur seraya berkata kepadanya; Apa yang harus kita perbuat kepada mayat yang telah dituntun hujjahnya?. Maka telah cukuplah Allah sebagai hujjah bagi kedua malaikat tanpa menanyainya.

Hadis ini dla’if. Takhrij al-Ihya’, 4:420; Zad al-Ma’ad, Ibnu al-Qayyim, 1:206; adl-Dla’ifah, 599

اْلأَذَانُ وَاْلإِقَامَةُ فِي أُذُنِ الْمَوْلُوْدِ

16- Adzan dan iqamah di telinga anak yang baru lahir

Hadis ini dla’if sekali. Bayan al-Wahm, Ibnu al-Qaththan, 4:594; al-Majruhin, Ibnu Hibban, 2:128; adl-Dla’ifah, 1:494

أَصْحَابِيْ كَالنُّجُوْمِ بِأَيِّهِمْ اقْتَدَيْتُمُ اهْتَدَيْتُمْ (وَفِي لَفْظٍ:) إِنَّمَا أَصْحَابِيْ مِثْلُ النُّجُوْمِ فَأَيُّهُمْ أَخَذْتُمْ بِقَوْلِهِ اهْتَدَيْتُمْ

17- Sahabat-sahabatku bagaikan bintang-bintang, kepada siapa saja kalian mencontoh maka kalian akan mendapat petunjuk. Dalam riwayat lain dengan teks, Sasungguhnya sahabat-sahabatku seperti bintang-bintang, maka dari siapa saja kalian ambil kata-katanya maka kalian akan mendapat petunjuk

Ibnu Hazm berkata; Ini adalah khabar yang dusta, palsu, bathil dan sama sekali tidak benar. Al-Ihkam fi Ushuli al-Ahkam, 5:64; dan 6:82; Al-Albani mengatakan; Hadis ini maudlu’ (palsu), adl-Dla’ifah, 66; Lihat juga Jami’ Bayan al-Ulum wa Fadl-luhu, Ibnu Abdul Barr, 2:91

اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

18- Carilah ilmu meskipun sampai di negeri Cina, karena sesungguhnya mencari ilmu adalah kewajiban atas setiap orang muslim

Hadis ini palsu. Al-Maudlu’at, Ibnu al-Jauzi, 1:215; Tartib al-Maudlu’at, adz-Dzahabi, 111; al-Fawaid al-Majmu’ah, 852; Kasyful Khafa’, al-Ajluni, 1:139.

اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَداً، وَاعْمَلْ لآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَداً

19- Beramallah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati besok

al-Albani mengatakan; Tidak benar kalau hadis ini marfu’, maksudnya tidak benar kalau hadis ini berasa dari Nabi saw. adl-Dla’ifah:8

اْلأَقْرَبُوْنَ أَوْلَى بِالْمَعْرُوْفِ

20- Kerabat dekat itu lebih berhak mendapatkan santunan dengan baik

Hadis ini tidak ada asalnya (palsu). al-Asrar al-Marfu’ah, 51; al-Lu’lu’ al-Marshu’, 55; al-Maqashid al-Hasanah, as-Sakhawi, 141.

أَمَّا إِنِّي لاَ أَنْسَى، وَلَكِنْ أُنَسَّى لأُشَرِّعَ

21- Aku tidaklah lupa, tetapi dilupakan untuk aku membuat syari’at (aturan)

Hadis yang tidak ada asalnya, al-Ahadits allati laa ashla laha fi al-Ihya’, as-Subki, 357; adl-Dla’ifah, 101

إِنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ حَبْواً

22- Sesungguhnya Abdurrahman bin Auf masuk sorga dengan merangkak

Hadis ini palsu, al-manar al-Munif, Ibnu al-Qayyim, 306; al-Fawaid al-Majmu’ah, asy-Syaukani, 1184;

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ بَيْنَ عَيْنَيْ الرَّحْمَنِ فَإِذَا الْتَفَتَ قَالَ لَهُ الرَّبُّ يَا ابْنَ آدَمَ إَلَى مَنْ تَلْتَفِتُ؟ إِلَى مَنْ هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنِّي؟ ابْنَ آدَمَ أَقْبِلْ عَلَى صَلاَتِكَ فَأَنَا خَيْرٌ لَكَ مِمَّنْ تَلْتَفِتُ إِلَيْهِ

23- Apabila seorang hamba mendirikan shalat maka ia berada di antara dua mata ar-Rahman (Allah), apabila ia berpaling maka Tuhan berfirman; Wahai anak Adam, kepada siapakah kau berpaling? (Menghadap) kepada siapakah yang lebih baik bagimu dari pada-Ku? Hai anak Adam, menghadaplah kepada-Ku pada shalatmu, Aku lebih baik bagimu daripada apa pun tempat kau berpaling.

Hadis ini dla’if sekali. Al-Ahadits al-Qudsiyyah adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah, al-‘Isawi, 46; adl-Dla’ifah, 1024.

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْباً، وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ

24- Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, dan sesung-guhnya hatinya Al-Qur’an adalah surat Yasin, barang siapa membaca surat Yasin, maka seolah-olah ia telah membaca Alqur’an 10 kali.

Hadis ini maudlu’. Al-Ilal Ibnu Abi Hatim, 2:55; adl-Dla’ifah, 169.

إِنَّ لِلْقُلُوْبِ صَدْأٌ كَصَدْأِ الْحَدِيْدِ وَجَلاَؤُهَا اْلاِسْتِغْفَارُ

25- Sesungguhnya pada hati terdapat karat seperti karat pada besi, dan yang mengkilapkannya adalah istighfar

Hadis Maudlu’. Dzakhirat al-Huffadz, 2:1978; adl-Dla’ifah, 2242.

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُوْلُ أَنَا اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا مَالِكُ الْمُلُوْكِ وَمَلِكُ الْمُلُوْكِ قُلُوْبُ الْمُلُوْكِ فِيْ يَدَيَّ وَإِنَ الْعِبَادَ إِذَا أَطَاعُوْنِي حَوَّلْتُ قُلُوْبَهُمْ عَلَيْهِمْ بِالرَّأْفَةِ وَ الرَّحْمَةِ وَإِنَّ الْعِبَادَ إَذَا عَصَوْنِي حَوَّلْتُ قُلُوْبَهُمْ بِالسُّخْطِ وَالنِّقْمَةِ فَسَامُوْهُمْ سُوْءَ الْعَذَابِ، فَلاَ تُشْغِلُوْا أَنْفُسَكُمْ بِالدُّعَاءِ عَلَى الْمُلُوْكِ، وَلَكِنْ أَشْغِلُوْا أَنْفُسَكُمْ بِالذِّكْرِ وَالتَّضَرُّعِ أَكْفِكُمْ مُلُوْكَكُمْ

26- Sesungguhnya Allah swt berfirman, Aku adalah Allah, tidak ada tuhan melainkan aku, penguasa segala kerajaan, dan pemilik semua raja, hati para raja itu ada ditangan-Ku dan sesungguhnya para hamba apabila mentaati-Ku aku palingkan hati mereka (para penguasa) menjadi penuh kasih sayang dan rahmat kepada mereka (hamba) dan apabila hambaku mendurhakaiku maka aku palingkan hati mereka (penguasa) menjadi bengis dan kejam lalu mereka menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, maka janganlah dirimu sibuk melaknat para penguasa, tetapi sibukkanlah diri kalian untuk berdzikir dan merendahkan diri (kepada Allah), niscaya Aku lindungi kalian dari (kebengisan) penguasa kalian.

Hadis ini dla’if jiddan. Al-Ahadis al-Qudsiyah, al-‘Aisawi, 43; adl-Dla’ifah, 602

أَنَا ابْنُ الذَّبِيْحَيْنِ

27- Aku keturunan dari dua orang yang hendak disembelih (Isma’il bin Ibrahim as, dan Abdullah bin Abdul Muthallib)

Hadis ini tidak ada asalnya. Risalah Lathifah, Ibnu Qudamah, 23; al-Lu’lu’ al-Marshu’, 81; an-Nakhbah al-Bahiyyah, as-Sinbawi, 43

أَنَا جَدُّ كُلُّ تَقِيٍّ

28- Saya adalah kakek setiap orang yang bertaqwa

as-Suyuthi mengatakan; Aku tidak mengenal hadis seperti ini. Al-Albani menyatakan; Hadis ini tidak ada asalnya. Al-Hawi, as-Suyuthi (2:89), adl-Dla’ifah (9)

أَحِبُّوْا الْعَرَبَ لِثَلاَثٍ لأَنِّيْ عَرَبِيٌّ وَالْقُرْآنُ عَرَبِيٌّ وَكَلاَمُ أَهْلِ الْجَنَّةِ عَرَبِيٌّ

29- Cintailah Arab karena tiga hal, karena saya orang Arab, al-Qur’an berbahasa Arab, dan bahasa penduduk sorga (di sorga) adalah bahasa Arab

Hadis ini Maudlu’ (palsu). Tadzkiratu al-Maudlu’at, 112; al-Maqashid al-Hasanah, 31; Tanzih asy-Syari’ah, 2:30; Kasyf al-Khafa’, 1:54

انْطَلَقَ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ إِلَى الْغَارِ، فَدَخَلاَ فِيْهِ فَجَاءَتِ الْعَنْكَبُوْتُ فَنَسَجَتْ عَلَى بَابِ الْغَارِ وَجَاءَتْ قُرَيْشٌ يَطْلُبُوْنَ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ كَانُوْا إِذَا رَأَوْا عَلَى بَابِ الْغَارِ نَسْجُ الْعَنْكَبُوْتِ قَالُوا لَمْ يَدْخُلْهُ أَحَدٌ وَكَانَ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا يُصَلِّى وَأَبُوْ بَكْرٍ يَرْتَقِبُ فَقَالَ اَبُوْ بَكْرٍ لِلنَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي هَؤُلاَءِ قَوْمُكَ يَطْلُبُوْنَكَ أَمَّا وَاللهِ مَا عَلَى نَفْسِي أَبْكِي وَلَكِنْ مُخَافَةً أَنِ أَرَى فِيْكَ مَا أَكْرَهُ فَقَالَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا

30- Nabi bersama Abu Bakar berangkat ke gua, lalu mereka memasukinya. Datanglah laba-laba membuat sarang di mulut gua. Kemudian datanglah serombongan kaum Quraisy yang mencari jejak Nabi saw. Ketika mereka dapati ada sarang laba-laba di mulut gua mereka berkata; Pasti tidak ada seorang pun yang memasuki gua ini. Padahal ketika itu Nabi saw salat, sedang Abu Bakar menungguinya. Abu Bakar berkata; Kukorbankan ayah dan ibuku untukmu, mereka itu kaummu yang hendak membunuhmu. Demi Allah tidaklah aku ini menangis karna diriku, akan tetapi karena takut akan menimpamu apa yang tidak aku sukai. Rasulullah saw menjawab; Jangan engkau takut, sesungguhnya Allah bersama kita.

Hadis ini dla’if. adl-Dla’ifah, 1129; at-Tahdits bima Qila laa Yashihhu fih al-Hadits, Bakr Abu Zaid, 214

إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّماً

31- Aku diutus untuk menjadi pengajar

al-Iraqi mengatakan; Sanad hadis ini dla’if. Al-Albani mengatakan; Hadis ini dla’if. Takhrij al-Ihya’, 1:11; adl-Dla’ifah:11

أَوْحَى اللهُ إِلَى الدُّنْيَا أَنِ اخْدَمِيْ مَنْ خَدَمَنِيْ وَأَتْعِبِيْ مَنْ خَدَمَكِ

32- Allah mewahyukan kepada dunia: “Berkhidmat (layani) lah orang yang melayani (berkhidmat kepada)-Ku, dan sengsarakanlah orang yang melayani (berkhidmat kepada)mu”

al-Albani mengatakan; Hadis ini maudlu’ (palsu). Tanzih asy-Syari’ah, al-Kannani (2:303). Al-Fawaid al-Majmu’ah, asy-Syaukani; 712, adl-Dla’ifah;12

أَوْصَانِي جِبْرَائِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِالْجَارِ إِلَى أَرْبَعِيْنَ دَارًا عَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا، وَعَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا ، وَعَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا ، وَعَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا

33- Jibril mewasiatkan kepadaku bahwa tetangga itu sampai 40 rumah, 10 dari arah sana, 10 dari arah sana, 10 dari arah sana, dan 10 dari arah sana

Hadis ini dla’if. Kasyful Khafa’, 1:1054; Takhrij al-Ihya’, 2:232; al-Maqashid al-Hasanah, as-Sakhawi, 170.

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدِ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

34- Hati-hatilah kalian terhadap iri (hasad), karena iri itu akan dapat memakan kebaikan seperti api memakan (membakar) kayu

Hadis dla’if. At-Tarikh al-Kabir, 1:272; Mukhtashar Sunan Abi Dawud, al-Mundziri,7:226

إِيَّاكُمْ وَخَضْرَاءُ الدِّمَنِ فَقِيْلَ مَا خَضْرَاءُ الدِّمَنِ؟ قَالَ الْمَرْأَةُ الْحُسَنَاءُ فِي الْمَنْبَتِ السُّوْءِ

35- Berhati-hatilah kalian terhadap Khadra’ ad-Diman (hijaunya kotoran ternak), Rasulullah ditanya, apakah khadra’ ad-diman itu? Beliau bersabda; Perempuan yang baik di lingkungan yang buruk.

Al-Iraqi berkata; Hadis ini dla’if, dan juga didla’ifkan oleh Ibnu al-Mulqin. Al-Albani berkata; Hadis ini dla’if jiddan (lemah sekali). Takhrij al-Ihya’ (2:42), adl-Dla’ifah:14

اْلاِيْمَانُ عُرْيَانٌ فَلِبَاسُهُ التَقْوَى وَزِيْنَتُهُ الْحَيَاءُ وَثَمْرَتُهُ الْعِلْمُ

36- Iman itu telanjang, pakaiannya adalah taqwa, perhiasan-nya adalah malu dan buahnya adalah ilmu.

Hadis ini palsu, Kasyf al-Khafa’, 27.

اْلإِيْمَانُ عَقْدٌ بِالْقَلْبِ وَإِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِاْلأَرْكَانِ

37- Iman adalah keyakinan di dalam hati, pernyataan dengan lisan dan perbuatan dengan anggota badan

Hadis ini palsu. Al-Mashnu’, Ali al-Qari, 72; Kasyf al-Khafa’, 1:22

اْلإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ

38- Iman itu bisa bertambah dan berkurang

Bukan hadis Rasululah, tetapi kata-kata yang disepakati (ijma’) oleh ulama’ salaf. al-Manar al-Munif, 119; Kasyf al-Khafa’, 25; Mizan al-I’tidal, 6:304.

بَادِرُوْا بِالأَعْمَالِ سَبْعاً، هَلْ تَنْتَظِرُوْنَ إِلاََّ مَرَضاً مُفْسِداً وَهَرَماً مُفَنَّداً أَوْ غِنًى مُطْغِيّاً أَوْ فَقْراً مُنْسِيّاً أًوْ مَوْتاً مُجَهَّزاً أَوْ الدَّجَّالَ فشر غائب يُنْتَظَرُ أَوِ السَّاعَةَ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمُرُّ

39- Bersegeralah melakukan amal shalih sebelum datangnya 7 hal, apakah kalian menanti penyakit yang merusak, ketuaan yang renta, kaya yang menyebabkan berlebih-lebihan, kefakiran yang membuat lupa, kematian yang terasa cepat datangnya, dajjal yang merupakan kejaha-tan yang dinantikan, atau kiamat. Padahal kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.

Hadis ini dla’if. Dzakhiratu al-Huffadh, Ibnu Thahir, 2:2313; adl-Dla’ifah, 1666

الْبِرُّ لاَ يْبْلَى وَاْلإِثْمُ لاَ يُنْسَى وَالدَيَّانُ لاَ يَنَامُ فَكُنْ كَمَا شِئْتَ كَمَا تَدِيْنُ تُدَانُ

40- Kebajikan itu tak akan musnah, dosa itu tak akan terlupakan, dan yang membuat perhitungan tak akan tidur. Maka jadilah kamu seperti yang kau inginkan, karena seperti apa yang kau perbuat demikianlah kau akan diberi balasan

Hadis ini dla’if. Al-Kasyf al-Ilahi, ath-Tharablusi, 681; al-Lu’lu’ al-Marshu’, 414.

التَّائِبُ حَبِيْبُ اللهِ

41- Orang yang bertaubat adalah kekasih Allah

Hadis ni tidak ada asalnya, al-Ahadits allati laa ashla laha fi al-Ihya’, as-Subki, 356; adl-Dla’ifah, 95

تَحِيَّةُ الْبَيْتِ الطَّوَافُ

42- Penghormatan kepada Baitullah (ka’bah) adalah thawaf

Hadis ini tidak ada asalnya. Al-Asrar al-Marfu’ah, 130; al-Lu’lu’ al-Marshu’, 143; al-Maudlu’at ash-Shughra, al-Qari, 88.

تَخْرُجُ الدَّابَةُ مَعَهَا عَصَا مُوْسَى وَخَاتَمُ سُلَيْمَانَ فَتَجَلُّوا وَجْهَ الْمُؤْمِنِ بِالْعَصَا وَتَخْتَمُّ أَنْفَ الْكَافِرِ بِالْخَاتَمِ حَتَّى اَنَّ أَهْلَ الْخَوَانِ لَيَجْتَمِعُوْنَ فَيَقُوْلُ هَذَا يَا مُؤْمِن وَيَقُوْلُ هَذَا يَا كَافِر

43- ad-Dabbah (hewan melata sebagai tanda datangnya kiamat) akan keluar dengan membawa tongkatnya nabi Musa as. Dan cincin Nabi Sulaiman, lalu mereka menghilangkan kesedihan dari wajah orang mukmin dengan tongkat Nabi Musa, dan membinasakan orang kafir dengan cincin Nabi Sulaiman sehingga tukang makan pun berkumpul di depan hidangan dan berkata satu golongan; Wahai mu’min, dan ia berkata golongan lainnya; Wahai kafir

Hadis ini munkar. Adl-Dla’ifah, 1108

تَوَسَّلُوْا بِجَاهِيْ ، فَإِنَّ جَاهِي عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ

44- Berperantara (bertawassul)lah kalian dengan kedudukanku, karena sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah sangat agung

Ibnu Taimiyah dan al-Albani mengatakan, hadis ini tidak ada asalnya. Iqtidla’ ash-Shirat al-Mustaqim, Ibnu Taimiyah, 2:415; adl-Dla’ifah, 22

تَزَوَّجُوْا وَلاَ تُطَلِّقُوْا، فَإِنَّ الطَّلاَقَ يَهْتَزُّ لَهُ الْعَرْش

45- Menikahlah kalian dan jangan kalian bercerai, karena perceraian itu akan menggoncangkan arsy

Hadis ini maudlu’. Tartib al-Maudlu’at, 694; al-Maudlu’at, ash-Shaghani, 97; Tanzih asy-Syari’ah, 2:202.

تُعَادُ الصَّلاَةُ مِنْ قَدْرِ الدِّرْهَمِ مِنَ الدَّمِ

46- Shalat harus diulang karena adanya darah seukuran satu dirham (menempel pada anggota badan/pakaian)

Hadis ini maudlu’. Dli’af ad-Daruquthni, al-Ghassani, 353; al-Asrar al-Marfu’ah, 138; al-Maudlu’at, Ibnu al-Jauzi, 2:76.

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ

47- Cinta dunia adalah pokok segala kesalahan

Hadis maudlu’ (palsu). Ahadits al-Qashash, Ibnu Taimiyah, 7; al-Asrar al-Marfuah, 1:163; Tadzkiratu al-Maudlu’at, 173, Kasf al-Khafa’, 1099.

حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ اْلإِيْمَانِ

48- Cinta tanah air sebagian dari iman

Hadis ini tidak ada asalnya, adl-Dla’ifah, 36; Kasyf al-Khafa’, 1102; al-Mashnu’, Ali al-Qari, 1:91.

الْحَجَرُ اْلأَسْوَدُ يَمِيْنُ اللهِ فِي اْلأَرْضِ يُصَافِحُ بِهَا عِبَادَهُ

49- Hajar aswad adalah tangan kanan Allah di muka bumi, dengannya Allah menjabat tangan hamba-hamba-Nya

Hadis ini maudlu’. Tarikh al-Baghdad, al-Khathib, 6:328; al-Ilal al-Mutanahiyah, 2:944; adl-Dla’ifah, 223.

الْحَدِيْثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ الْبَهَائِمِ الْحَشِيْشَ (وفي لفظ( الْحَدِيْثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

50- Bercakap-cakap di masjid itu akan memakan kebaikan seperti binatang ternak memakan rumput, dalam riwayat lain dikatakan, Bercakap-cakap di masjid itu akan memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar,

Al-Hafidz al-Iraqi berkata; Aku belum menemukan sumbernya. Abdul Wahab bin Taqiyuddin as-Subki mengatakan; Aku tidak mendapatkan sanadnya. Al-Albani mengatakan; Hadis ini tidak ada asalnya. Takhrij al-Ihya’ (1:136), Thabaqat asy-Syafi’iyah oleh as-Subki (4:145), adl-Dla’ifah (4).

الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ كُلِّ حَكِيْمٍ ، فَإِذَا وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا

51- Hikmah (ilmu pengetahuan) itu adalah barang hilang dari seorang yang hakim (bijaksana), maka apabila ia mendapatkannya maka ia adalah orang yang lebih berhak terhadapnya.

Hadis ini Dla’if. al-’Ilal al-Mutanahiyah, Ibnu al-Jauzi, 1:96; Sunan at-Tirmidzi, 5:51

خَيْرُ اْلأَسْمَاءِ مَا عُبِّدَ وَمَا حُـمِّدَ

52- Sebaik-baik nama adalah yang menghamba (mengguna-kan kata ‘Abdu) dan yang memuji (menggunakan kata Ahmad)

Maudlu’. Al-Asrar al-Marfu’ah, 192; al-Lu’lu’ al-Marshu’, 189; an-Nakhbah, 117

الْخَيْرُ فِيَّ وَفِي أُمَّتِي إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

53- Kebaikan yang ada padaku dan pada ummatku (terung berlangsung) hingga hari kiamat kelak.

Ibnu Hajar mengatakan; Aku tidak mengetahui hadis seperti ini, al-Maqashid al-hasanah, as-Sakhawi, h. 208; Tadzkiratu al-Mudlu’at, al-Futni, 68; al-Asrar al-Marfu’ah fi al-Akhbar al-Maudlu’ah, al-Qari, h. 195.

الدُّنْيَا دَارُ مَنْ لاَ دَارَ لَهُ وَمَالُ مَنْ لاَ مَالَ لَهُ وَلَهَا يُجْمَعُ مَنْ لاَ عَقْلَ لَهُ

54- Dunia itu adalah rumah bagi orang yang tidak punya rumah, dan harta bagi orang yang tidak mempunyai harta, untuknya lah orang yang tidak berakal itu dikumpulkan

Hadis dla’if jiddan. Al-Ahadits allati laa Ashla laha fi al-Ihya’, as-Subki, 344; Tadzkirat al-Mudlu’at, al-Futni, 174.

رَجَعْناَ مِنَ الْجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ اْلأَكْبَرِ قَالُوْا وَمَا الْجِهَادُ اْلأَكْبَرُ قَالَ جِهَادُ الْقَلْبِ

55- Kami pulang dari jihad ashghar (jihad kecil) menuju jihad akbar (jihad besar). Para sahabat bertanya, apakah jihad akbar itu. Rasul saw bersabda; Jihad hati

Hadis ini tidak ada asalnya, al-Asrar al-Marfu’ah, 211; Tadzkiratu al-Maudlu’at, al-Futni, 191, Kasyf al-Khafa’, 1:511

سُؤْرُ الْمُؤْمِنِ شِفَاءٌ

56- Bekas minuman orang mu’min adalah obat

Hadis ini tidak ada asalnya. Al-Asrar al-Marfu’ah, 217. Kasyf al-Khafa’, 1:500; adl-Dla’ifah, 78;

السَّخِيُّ قَرِيْبٌ مِنَ اللهِ، قَرِيْبٌ مِنَ الْجَنَّةِ قَرِيْبٌ مِنَ النَّاسِ، بَعِيْدٌ مِنَ النَّارِ، وَالْبَخِيْلُ بَعِيْدٌ مِنَ اللهِ، بَعِيْدٌ مِنَ الْجَنَّةِ، بَعِيْدٌ مِنَ النَّاسِ، قَرِيْبٌ مِنَ النَّارِ وَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ عَابِدٍ بَخِيْلٍ

57- Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan sorga, dekat dengan manusia dan jauh dari neraka. Orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari sorga, jauh dari manusia, dan dekat kepada neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih disukai oleh Allah dari pada ahli ibadah yang kikir

Hadis ini Dla’if sekali, al-Manar al-Munif, 284; Tartib al-Maudlu’at, 564; al-La-ali’ al-Mashnu’ah, 2:91.

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي أَرْضِهِ ، مَنْ نَصَحَهُ هُدِيَ ، وَمَنْ غَشَّهُ ضَلَّ

58- Penguasa adalah bayang-bayang Allah di bumi-Nya, barangsiapa yang setia kepada penguasa maka ia telah mendapatkan petunjuk dan barangsiapa mengkhianati-nya maka ia telah sesat.

Maudlu’ (palsu). Tadzkiratu al-Maudlu’at, al-Futni, 182; al-Fawaid al-Majmu’ah, asy-Syaukani, 623; adl-Dla’ifah, 475

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

59- Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka

Hadis ini dla’if. Al-Maqashid al-Hasanah, as-Sakhawi, 579; adl-Dla’ifah,1502

شَاوِرُوْهُنَّ – يَعْنِي النِّسَاءَ – وَخَالِفُوْهُنَّ

60- Bermusyawarahlah dengan mereka – isteri-isterimu – tetapi berselisihlah dengan pendapat mereka.

Hadis ini la ashla lahu (tidak ada asalnya). Al-Lu’lu’ al-Marshu’, 264; Tadzkiratu al-Maudlu’at, 128; al-Asrar al-Marfu’ah, 240.

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي إِذَا صَلُحَا صَلُحَ النَّاسُ اْلأُمَرَاءُ وَالْفُقَهَاءُ (وفي لفظ) صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي إِذَا صَلُحَا، صَلُحَ النَّاسُ: اْلأُمَرَاءُ وَالْعَلَمَاءُ

61- Ada dua golongan di antara ummatku, apabila keduanya baik maka semua manusia akan baik; yaitu pemerintah dan ahli fiqh, dalam riwayat yang lain diungkapkan dengan teks, Ada dua golongan di antara ummatku, apabila keduanya baik maka semua manusia akan baik; yaitu pemerintah dan ulama’

Imam Ahmad mengatakan, salah seorang rawi hadis ini pendusta dan tukang memalsukan hadis. Ibnu Ma’in dan ad-Daruquthni mengatakan serupa dengan Imam Ahmad. Al-Albani mengatakan, hadis ini palsu. Takhrij al-Ihya’, 1:6; adl-Dlu’afa’, 16

صُوْمُوْا تَصِحُّوْا

62- Berpuasalah niscaya kau akan sehat

Hadis ini dla’if. Takhrij al-Ihya’, 3:87; Tadzkirah al-Maudlu’at, 70; al-Maudlu’at, ash-Shaghani, 72.

طَلَبُ الْحَلاَلِ جِهَادٌ، وَإِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنِ الْمُحْتَرِفِ

63- Mencari rizki yang halal adalah jihad, dan Allah mencintai orang mukmin yang profesional
Hadis dl’aif. An-Nakhbat al-Bahiyah, as-Sanbawi, 57; al-Kasyf al-Ilahi, 1:518; adl-Dla’ifah, 1301

عَلَيْكُمْ بِالشِّفَائَيْ: العَسَلُ وَالْقُرْآنُ

63- Hendaklah kalian menggunakan dua macam obat, madu dan Alqur’an

Hadis ini dla’if. Ahadits Mu’allah Dhahiruha ash-Shihhah, al-Wadi’i, 247; adl-Dla’ifah 1514

فِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادِةِ سِتِّيْنَ سَنَةً

64- Berpikir sesaat lebih baik daripada beribadah enam puluh tahun

Hadis ini maudlu’. Tanzih asy-Syari’ah, 2:305; al-Fawa’id al-Majmu’ah, 723; Tartib al-Maudlu’at, 964.

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِيْ وَيُصْبِرْ عَلَى بَلاَئِيْ، فَلْيَلْتَمْسْ رَبّاً سِوَائِيْ

65- Allah tabaraka wa ta’ala berfirman; Barangsiapa yang tidak ridla dengan keputusan-Ku, dan tidak sabar terhadap ujian (bala’)-Ku maka hendaklah mencari tuhan selain-Ku.

Hadis ini dla’if. karena di dalam sanadnya ada Sa’id bin Ziyad bin Hind, dia matruk. Majma’ az-Zawa’id, 7:207; Al-Kasyf al-Ilahi, ath-Tharablusi, 1:625; Tadzkiratu al-Maudlu’at, 189. Al-Fawaid al-Majmu’ah, 746.

كَانَ إِذَا أَخَذَ مِنْ شَعْرِهِ أَوْ قَلَمَ أَظْفَارِهِ ، أَوِ احْتَجَمَ بَعَثَ بِهِ إِلَى الْبَقِيْعِ فَدَفَنَ

66- Rasulullah saw apabila memotong rambutnya atau memotong ujung kukunya, atau berbekam (mengeluarkan darah kotor) maka beliau membawanya ke Baqi’ untuk menguburnya

Hadis ini Maudlu’. Al-‘Ilal, Ibnu Abi Hatim, 2:337; adl-Dla’ifah, 713

كَمَا تَكُوْنُوْا يُوَلَّي عَلَيْكُمْ

67- Sebagaimana keadaan kalian, maka seperti kalianlah yang dikuasakan untuk memimpin

Hadis ini dla’if. Kasyful Khafa’, 2:1997; al-Fawa’id al-Majmu’ah, 624; Tadzkiratu al-Maudlu’at, 182.

لاَ تَجْعَلُوْا آخِرَ طَعَامِكُمْ مَاءً

68- Janganlah kau jadikan akhir dari makan kalian berupa air.

Hadis ini tak ada asalnya. Adl-Dla’ifah, 2096

لاَ تُكْثِرُوا الْكَلاَمَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ، فَإِنَّ كَثْرَةُ الْكَلاَمِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ، وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي

69- Janganlah banyak bicara yang tidak mengandung dzikir kepada Allah, karena kebanyakan bicara tanpa ingat (dzikir) kepada Allah itu menjadikan keras hati, dan sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah adalah yang hatinya keras.

Hadis dla’if, adl-Dla’ifah, 920.

لاَ صَلاَةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ إِلاَّ فِي الْمَسْجِدِ

70- Bagi tetangga masjid, tidak sah shalatnya kecuali dilakukan di masjid

Hadis ini dla’if. Dli’af ad-Daruquthni, 362; al-La-ali’ al-Mashnu’ah, 2:16; al-‘Ilal al-Mutanahiyah, 1:693.

لِكُلِّ شَيْءٍ عُرُوْسٌ وَعُرُوْسُ الْقُرْآنِ الرَّحْمَنُ

71- Segala sesuatu memiliki pengantin, dan pengantinnya Alqur’an adalah surat ar-Rahman

Hadis ini munkar. Adl-Dla’ifah, 1350

لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ جَعَلَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ وَالْوَلاَئِدُ يَقُوْلُوْنَ :
طَـلَعَ الْبَـدْرُ عَلَيْنـَا مِنْ ثَنِيـَّاتِ الْوَدَاعْ
وَجَبَ الشُّـكْرُ عَلَيْنَا مَـا دَعَـا للهِ دَاعْ
أَيـُّهَا الْمَبْـعُوْثُ فِيْنَا جِئْتَ بِاْلأَمْرِ الْمُطَاعْ
فَقَالَ لَهُنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هَزُّوْا غَرَابِيْلَكُمْ بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

72- Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah para perempuan dan anak-anak mengalunkan syair;
Telah terbit rembulan bagi kami,
dari bukit al-Wada’
Kita semua harus bersyukur,
atas seruan kepada Allah oleh sang penyeru
Wahai Nabi yang diutus kepada kita,
Engkau datang membawa perintah untuk ditaati
Lalu Rasulullah saw bersabda kepada mereka, “Goyang-goyangkanlah rebana kalian, semoga Allah memberkahi kalian

Hadis ini dla’if. Ibnu Taymiyah berkata tntang hal ini;Hadis perempuan dan menabuh rebana di saat bergembira adalah sahih. Memang di masa Rasulullah hal itu terjadi. Tetapi tentang sabda beliau, “goyang-goyangkanlah rebana kalian” tidak dikenal adanya riwayat dari beliau. Ahadits al-Qashash, Ibnu Taimiyah, 17. Tadzkiratu al-Maudlu’at, 196.

لَمُعَالَجَةُ مَلَكِ الْمَوْتِ أَشَدُّ مِنْ أَلْفِ ضَرْبَةٍ بِالسَّيْفِ

73- Pemrosesan Malaikat al-Maut (sakaratul maut) benar-benar lebih pedih dari pada 1000 pukulan dengan pedang

Hadis dla’if jiddan. Tartib al-Maudlu’at, adz-Dzahabi, 1071; al-Maudlu’at, Ibnu al-Jauzi, 3:220

لَوْلاَكَ مَا خَلَقْتُ الدُّنْيَا

74- Kalau bukan karena kamu (Nabi Muhammad saw) niscaya idak aku ciptakan dunia

Hadis maudlu’. Al-Lu’lu’ al-Marshu’, al-Musyaisyi, 454; Tartib al-Maudlu’at, 196; adl-Dla’ifah, 282.

لَيْسَ اْلإِيْمَانِ بِالتَّمَنِّي وَلاَ بِالتَّحَلِّيْ، وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَقَهُ الْفِعْلُ

75- Iman itu bukan dengan angan-angan, juga bukan dengan berhias tetapi sesuatu yang mantap di dalam hati dan dibuktikan dengan pekerjaan.

Hadis ini palsu. Dzakhiratu al-Hufadz, Ibnu Thahir, 4:4656; adl-Dla’ifah, 1098; Tabyidl ash-Shahifah, Muhammad ‘Amr, 33.

لَيْسَ لِفَاسِقٍ غِيْبَةٌ

76- Terhadap orang fasik tidak ada ghibah.

Hadis ini maudlu’ (palsu). Al-Asrar al-Marfu’ah, al-Harawi, 390; al-Manar al-Munif, Ibnu al-Qayyim, 301; al-Kasyfu al-Ilahi, 1:764.

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ ، وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ وَلاَ عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ

77- Tidak akan sia-sia orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah, dan tidak akan sengsara orang yang berhemat

Hadis ini maudlu’ (palsu). Al-Kasyf al-Ilahi, 1:775; adl-Dla’ifah, 611

مَا فَضَّلَكُمْ أَبُوْ بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلاَ صَلاَةٍ ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي صَدْرِهِ

78- Keutamaan Abu Bakar atas kalian bulan karena banyaknya berpuasa atau shalat, tetapi karena adanya seuatu yang mantap dalam dadanya

Hadis ini tidak ada asalnya. Al-Asrar al-Marfu’ah, Ali al-Qari, 452; al-Ahadits Allati laa Ashla laha fi al-Ihya,as-Subki, 288; al-Manar al-Munif, 246.

الْمُؤْمِنُ كَيِّسٌ فَطِنٌ حَذَرٌ

79- Orang mukmin itu cerdik, pandai dan hati-hati

Hadis Maudlu’. Kasyf al-Khafa’, al-Ajluni, 2:2684, al-Kasyf al-Ilahi, ath-Tharablusi, 1:859; adl-Dla’ifah, 760.

الْمُتَمَسِّكُ بِسُنَّتِيْ عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِي لَهُ أَجْرُ شَهِيْدٍ

80- Orang yang memegang teguh sunnahku ketika terjadi kerusakan di antara ummatku maka ia berhak mendapatkan pahala seorang yang mati syahid.

Hadis dla’if, adl-Dla’ifah, 326

مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِي عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِي، فَلَهُ أَجْرُ مِئَةِ شَهِيْدٍ

81- Barangsiapa yang berpegang teguh pada sunnahku di saat terjadinya kerusakan pada ummatku, maka ia berhak atas pahala 100 orang yang mati syahid.

Hadis yang sangat dla’if. Dzakhiratu al-Huffadz, 4:5174, adl-Dla’ifah, 326

مَنْ أَحْدَثَ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ فَقَدْ جَفَانِي ، وَمَنْ تَوَضَّأَ وَ لَمْ يُصَلِّ فَقَدْ جَفَانِي ، وَمَنْ صَلَّى وَلَم يَدْعُنِي فَقَدْ جَفَانِي، وَ مَنْ دَعَانِيْ فَلَمْ أَجِبْهُ فَقَدْ جَفَيْتُهُ، وَلَسْتُ بِرَبٍّ جَفٍ

82- Barangsiapa yang berhadas dan tidak berwudlu maka ia telah menjauh dariku dan barangsiapa berwudlu tetapi tidak salat maka ia telah menjauhiku. Barangsiapa yang shalat tetapi (sesudahnya) tidak berdo’a untukku maka ia telah menjauhiku, dan barangsiapa yang mendoakanku tetapi tidak aku jawab berarti aku telah menjauhinya, dan aku bukan pengatur yang suka mengatur

Ash-Shaghani mengatakan; Hadis ini Maudlu’, al-Maudlu’at, 53; dan Al-Albani mengatakan; Maudlu’. Adl-Dala’ifah, 44.

مَنْ أَصْبَحَ وَهَمُّهُ غَيْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ وَمَنْ لَمْ يَهْتَمَّ لِلْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ

83- Barangsiapa yang bangun pagi dan perhatiannya tertuju kepada selain Allah azza wa jalla, maka ia tidak akan mendapat apa-apa dari Allah. Dan barangsiapa yang tidak memperhatikan kaum muslimin maka ia bukan golongan mereka

Maudlu’. Al-Fawaid Majmu’ah, 233; Tadzkiratu al-Maudlu’at, 69; adl-Dla’ifah, 309-312.

مَنْ أَفْطَرَ يَوْماً مِنْ رَمَضَانَ فِي غَيْرِ رُخْصَةٍ رَخَّصَهَا اللهُ لَهُ، لَمْ يَقْضِ عَنْهُ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلُّهُ، وَإِنْ صَامَهُ

84- Barangsiapa yang berbuka sehari pada bulan ramadhan tanpa adanya rukhshah yang telah diberikan oleh Allah, maka puasanya setahun penuh yang dia lakukan tidak akan memenuhinya

Hadis ini dla’if, Tanzih asy-Syari’ah, 2:148; at-Targhib wa at-Tarhib, 2:74.

مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ وَلَمْ يَزُرْنِي فَقَدْ جَفَانِي

85- Barangsiapa berhaji di Baitullah ttapi tidak menziarahi makamku maka ia telah menjauh dariku

Hadis ini Maudlu’ sebagaimana disebutkan oleh adz-Dzahabi di dalam kitab Tartib al-Maudlu’at, 600; ash-Shaghani menyebutkan di dalam al-Maudlu’at, 52; asy-Syaukani menyebutkan di dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah, 326

مَنْ حَجَّ، فَزَارَ قَبْرِيْ بَعْدَ مَوْتِي، كَانَ كَمَنْ زَارَنِي فِي حَيَاتِي

86- Barangsiapa yang berhaji lalu menziarahi kuburku setelah kematianku maka ia seperti orang yang mengunjungiku di masa hidupku

Ibnu Taimiyah mengatakan, hadis ini dla’if, Qa’idah Jalilah, 57; Al-Albani menyatakan Maudlu’, adl-Dla’ifah, 47. Lihat pula Dzakhirat al-Huffadz, Ibnu Al-Qaisrani, 4:5250

مَنْ حَدَّثَ حَدِيْثاً، فَعَطِسَ عِنْدَهُ، فَهُوَ حَقٌّ

87- Barangsiapa yan mengatakan suatu perkataan, kemudian ia merasa haus, maka ia (yang dikatakan itu) benar.

Hadis maudlu’. Tanzih asy-Syari’ah, 483; al-La-ali’ al-Mashnu’ah, 2:286; al-Fawa-id al-Majmu’ah, 669.

مَنْ خَافَ اللهَ خَوَّفَ اللهُ مِنْهُ كُلَّ شَيْءٍ ، وَمَنْ لَمْ يَخْفَ اللهَ خَوَّفَهُ اللهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

88- Barangsiapa yang takut kepada Allah maka Allah akan menjadikan segala sesuatu takut kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka Allah akan menjadikannya takut kepada segala sesuatu

Hadis ini dla’if. Takhrij al-Ihya’, al-‘Iraqi, 2:145; Tadzkiratu al-Maudlu’at, 20; adl-Dla’ifah, 485.

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ إِلَى الصَّلاَةِ فَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِيْنَ عَلَيْكَ وَأَسْأَلُكَ بِحَقِّ مَمْشَايَ هَذَا فَإِنِّي لَمْ أَخْرُجْ أَشْرًا وَلاَ بَطَرًا وَلاَ رِيَاءً وَلاَ سُمْعَةً وَخَرَجْتُ اتِّقَاءً سَخَطِكَ وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِكَ فَأَسَالُكَ أَنْ تَعِيْذَنِي مِنَ النَّارِ وَأَنْ تَغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ أَقْبَلَ اللهُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ وَاسْتَغْفَرَ لَهُ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ

89- Barangsiapa yang keluar dari rumahnya menuju (masjid untuk) shalat seraya berdo’a; Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan haqnya orang-orang yang memohon kepada-Mu, dan aku memohon kepada-Mu dengan haknya perjalanan ini karena sesungguhnya aku tidak keluar untuk melakukan sesuatu yang keji, bukan karena sombong, riya’, dan sum’ah. Aku keluar hanya karena takut akan muka-Mu dan mengharap ridla-Mu. Maka aku memohon agar Engkau melindungi-ku dari api neraka dan mengampuni dosa-dosaku karena sesungguh-nya tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa melain-kan Engkau. Allah akan menerimanya dengan wajah-Nya dan seribu malaikat akan memohonkan ampunan untuknya

Hadis ini didla’ifkan oleh al-Mundziri, al-Buwaishiri mengatakan, sanadnya musalsal (berurutan) dengan orang-orang yang lemah. Al-Albani mengatakan; Hadis ini Dla’if. At-Targhib wa at-Tarhib, al-Mundziri,3:272; Sunan Ibnu Majah, 1:256.

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ اُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

90- Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu pengetahuan, lalu ia menyembunyikannya maka pada hari kiamat ia akan dicambuk dengan cambuk dari api neraka.

Hadis ini tidak sah dari Rasulullah saw, al-Ilal al-Mutanahiyah, 1:105

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِيْ أَرْبَعِيْنَ صَلاَةً لاَ يَفُوْتُهُ صَلاَةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئٌ مِنَ النِّفَاقِ

91- Barangsiapa shalat di masjidku empat puluh waktu shalat tanpa ketinggalan satu waktu shalat pun maka ditetapkan baginya terbebas dari neraka dan selamat dari adzab, dan trlepas dari kemunafikan

Hadis dla’if, adl-Da’ifah, 364

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

92- Barangsiapa yang mengenal dirinya maka ia telah mengenal tuhannya

Hadis ini maudlu’, al-Asrar al-Marfu’ah, 506. Tanzih asy-Syari’ah, 2:402; Tadzkirat al-Maudlu’at,11

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةً أَبَداً

93- Barangsiapa yang membaca surat al-Waqi’ah setiap malam, ia tidak akan tertimpa kefakiran selama-lamanya

Hadis dla’if. Al-‘Ilal al-Mutanahiyah, 1:151; Tanzih asy-Syari’ah, 1:301; al-Fawaid al-Majmu’ah, 972;

مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاَتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْداً (وفي لفظ) مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاَتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ، فَلاَ صَلاَةَ لَهُ

94- Barangsiapa yang shalatnya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan fakhsya’ dan munkar maka ia tidak akan mendapatkan tambahan dari Allah melainkan kejauh (dari Allah). Dalam riwayat lain dinyatakan, barangsiapa ang shalatnya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan fakhsya’ dan mungkar maka tidak ada salat baginya (belum melaksanakan salat)

Adz-Dzahabi berkata Ibnu Junaid adalah pendusta dan pembohong. Al-Hafidz al-Iraqi berkata; Sanad hadis ini lemah. Al-Albani mengatakan; Hadis ini bathil, tidak dapat diterima dari segi sanadnya dan juga dari matannya. Mizan al-I’idal (3:293), Takhrij al-Ihya’ (1:143), as-Silsilah adl-Dla’ifah (2,985)

مَنْ نَامَ بَعْدَ الْعَصْرِ، فَاخْتُلِسَ عَقْلُهُ، فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ

95- Barangsiapa tidur setelah shalat ashar maka akalnya akan terampas, maka janganlah mencaci kecuali kepada dirinya sendiri

Hadis ini disebutkan oleh Ibnu al-Jauzi di dalam maudlu’at, 3:69, as-Suyuthi menyebutkan di dalam al-La’ali’ al-Mashnu’ah, adz-Dzahabi menyebutkan di dalam Tartib al-Maudlu’at, 839.

مَنْ وَلَدَ لَهُ مَوْلُوْدٌ فَأَذِنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرُّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ

96- Barangsiapa yang mendapatkan seorang anak, kemudian ia adzankan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, maka kelak anak itu tidak akan diganggu oleh jin

Hadis Maudlu’. Al-Mizan, adz-Dzahabi, 4:397; Majma’ az-Zawa’id, al-Haitsami. Takhrij al-Ihya’, 2:61.

النَّاسُ كُلُّهُمْ مَوْتَى إِلاَّ الْعَالِمُوْنَ، وَالْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلَكَى إِلاَّ الْعَامِلُوْنَ، وَالْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ غَرَقَى إِلاَّ الْمُخْلِصُوْنَ، وَالْمُخْلِصُوْنَ عَلَى خَطْرٍ عَظِيْمٍ

97- Manusia semuanya adalah mayat, kecuali orang yang berilmu, dan orang-orang yang berilmu semuanya binasa kecuali orang yang beramal, orang-orang yang beramal semuanya tenggelam kecuali orang yang ikhlas. Dan orang yang ikhlas berada di atas kedudukan yang agung

Ash-Shaghani berkata, ini adalah hadis yang diada-adakan lagi pula tidak sesuai dengan aturan kebahasaan. Yang benar secara bahasa adalah dengan menggunakan kata al-‘Alimina, al-‘Amilina dan Mukhlishin. Al-Maudlu’at, 200; Asy-Syaukani menyebutkan di dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah, 771; al-Futni menyebutkan dalam Tadzkirat al-Maudlu’at, 200.

النَّاسُ نِيَامٌ فَإِذَا مَاتُوْا انْتَبَهُوا

98- Manusia itu ibarat tidur (bermimpi), apabila mereka telah mati maka mereka sadar

Hadis ini tidak ada sumbernya, al-Asrar al-Marfu’ah, 555; al-Fawa’id al-Majmu’ah, 766; Tadzkiratu al-Maudlu’at, 200

النَّظْرُ فِي الْمُصْحَفِ عِبَادَةٌ، وَنَظْرُ الْوَلَدِ إِلَى الْوَالِدَيْنِ عِبَادَةٌ، وَالنَّظْرُ إِلَى عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ عِبَادَةٌ

99- Memandang mushaf adalah ibadah, pandangan anak kepada orang tuanya adalah ibadah, dan memandang Ali bin Abi Thalib adalah ibadah

Hadis ini palsu. Adl-Dla’ifah, 356.

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ مَنْ تَرَكَهَا خَوْفاً مِنَ اللهِ آتَاهُ اللهُ إِيْمَاناً يَجِدُ حَلاَوَتَهُ فِي قَلْبِهِ

100- Pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) itu adalah salah satu anak panah iblis, barangsiapa yang meninggakan pandangan karena takut kepada Allah maka Alah akan mendatangkan kepadanya iman yang ia rasakan manisnya di dalam hatinya

Hadis ini dla’if sekali. At-Tarhib wa at-Targhib, al-Mundziri, 4:106; Majma’ az-Zawa’id, al-Haitsami, 8:63; Talkhish al-Mustadrak, adz-Dzahabi, 4;314.

وَجَدَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِيْحاً فَقَالَ لِيَقُمْ صَاحِبَ هَذَا الرِّيْحِ فَلْيَتَوَضَّأْ فَاسْتَحْيَا الرَّجُلُ أَنْ يَقُوْمَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَقُمْ صَاحِبَ هَذَا الرِّيْحَ فَلْيَتَوَضَّأْ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِ مِنَ الْحَقِّ، فَقَالَ الْعَبَّاسُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلاَ نَقُوْمُ كُلُّنَا نَتَوَضَّأُ؟ فَقَالَ قُوْمُوْا كُلُّكُمْ فَتَوَضَّؤُوْا

101- Suatu hari Rasulullah mendapatkan bau kentut, kemudian bersabda; Yang kentut hendaklah berdiri untuk berwudlu. Tetapi yang kentut itu malu untuk berdiri, lalu Rasululllah saw bersabda lagi; Yang kentut berdiri untuk wudlu, sesungguhnya Allah tidak malu dlah kebenaran. Al-Abbas berkata; Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kita semua berdiri dan berwudlu? Rasulullah saw bersabda; Siakan semua berdiri dan berwudlu.

Hadis Bathil, adl-Dla’ifah, 1132

وَقَعَ فِي نَفْسِ مُوْسَى هَلْ يَنَامُ اللهُ تَعَالَى ذِكْرُهُ؟ فَأَرْسَلَ اللهُ إِلَيْهِ مَلَكاً فَأَرَقَّهُ ثَلاَثاً، ثُمَّ أَعْطَاهُ قَارُوْرَتَيْنِ فِي كُلِّ يَدٍ قَارُوْرَةٌ وَ أَمَرَهُ أَنْ يَحْتَفِظَ بِهَا، قَالَ فعجل النَّوْمُ وَتَكَادُ يَدَاهُ تَلْتَقِيَانِ ثُمَّ يَسْتَيْقِظُ فَيَحْبِسُ إِحْدَاهُمَا عَنِ اْلأُخْرَى ثُمَّ نَامَ نَوْمَةً فَاصْطَفَقَتْ يَدَاهُ وَانْكَسَرَتِ الْقَارُوْرَتَانِ قَالَ ضَرَبَ اللهُ لَهُ مَثَلاً أَنَّ اللهَ لَوْ كَانَ يَناَمُ لَمْ تَسْتَمْسِكِ السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ

102- Muncul di benak Nabi Musa as.; Apakah Allah swt tertidur? Lalu Allah mengirim seorang malaikat kepadanya lalu membuatnya tidak tidur selama tiga hari kemudian memberikan dua buah botol kepadanya, di setiap tangan ada satu botol dan diperintahkan kepadanya untuk mengawasinya. Kemudian ia tertidur sehingga kedua tangannya hampir berbenturan, lalu ia terbangun dan menjauhkan kembali jarak kedua tangannya. Kamudian ia tertidur kambali sehingga kedua botol itu pecah. Beliau bersabda; Allah memberikan perumpamaan kepadanya, bahwa kalau Allah tertidur pastiah langit dan bumi tidak akan terkendali

Hadis ini dla’if. Al-‘Ilal al-Mutanahiyah, Ibnu al-Jauzi; adl-Dla’ifah, 1034.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً، وَقِيَامَ لَيْلَةٍ تَطَوُّعاً ..الخ

103- Wahai manusia, suatu bulan yang agung telah menaungi kalian, bulan yang mengandung malam yang lebih baik dari seriu bulan, Allah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai kewajiban, dan qiyam (berdiri untuk shalat) pada malam harinya sebagai tathawwu’ (sunnah)…

Hadis dla’if, al-‘Ilal, Ibnu Abi Hatim, 1:249; adl-Dla’ifah, 871

يَا جِبْرِيْلُ صِفْ لِي النَّارَ، وَانْعَتْ لِي جَهَنَّم فَقَالَ جِبرِيْلُ إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ أَمَرَ بِجَهَنَّمَ فَأُوْقَدَ عَلَيْهَا أَلْفَ عَامٍ حَتَّى ابْيَضَّتْ، ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَأُوْقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ عَامٍ حَتَّى احْمَرَّتْ، ثُمَّ أََمَر فَأُوْقِدَ عَلَيْهَا أَلْفِ عِامٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاْءُ مُظْلِمَة . . . . . . الخ

104- Wahai Jibril, sebutkanlah untukku sifat neraka dan sebutkan pula tentang Jahanam. Jibril menjawab; Sesungguhnya Allah swt telah memerintahkan kepada neraka jahannam untuk dinyalakan apinya selama seribu tahun hingga warnanya menjadi putih, kemudian memerintahkan kepada neraka untuk dinyalakan apinya selama seribu tahun hingga warnanya menjadi merah, lalu memerintahkan untuk dinyalakan hingga warna apinya menjadi hitam, hitam yang sangat pekat…. dst

Hadis ini palsu, al-Haithami, 10:387. Adl-Dla’ifah, 910

يُدَّعَى النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأُمَّهَاتِهِمْ سَتْراً مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِمْ

105- Di hari kiamat nanti manusia dipanggil beserta nama ibu mereka sebagai rahasia Allah terhadap mereka (merahasiakan anak zina)

Hadis ini maudlu’ (palsu). Al-La-ali’ al-Mashnu’ah, as-Suyuthi, 2:449; al-Maudlu’at, Ibnu al-Jauzi, 3:248; Tartib al-Maudlu’at, 1123

يُعَادُ الْوُضُوْءُ مِنَ الرُّعَافِ السَّائِلِ

106- Wudlu itu harus diulang karena mimisan yang mengalir

Hadis ini palsu. Dzakhiratu al-Hufadz, Ibnu Thahir, 5:6526; adl-Dla’ifah, 1071.

Hadis-hadis dla’if tentang keutamaan Kurban

Standar

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد المرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين .

Saudara-saudaraku yang tercinta didasari oleh keinginanku untuk menyebarluaskan manfaat, dan membela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka aku kemukakan persoalan ini. Dan menimbang telah tersebar luasnya hadis-hadis dla’if khususnya tentang korban. Lebih khusus lagi Ibnu al-‘Arabi al-Maliki di dalam kitabnya ‘Aridlatu al-Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi VI:288 mengatakan, “dalam soal keutaman korban, tidak ada hadis yang shahih, tetapi manusia telah meriwayatkan berbagai hadis yang mengagumkan, tetapi tidak shahih”

Maka dengan mengharap pertolongan Allah, aku tuliskan sejumlah hadis berikut ini, semoga tidak lagi dikatakan sebagai sunnah bila memang bukan sunnah. Berikut ini adalah hads-hadis dla’if tersebut

Hadis Pertama;

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada amal yang dilakukan oleh anak Adam lebih disukai oleh Allah di hari korban selain dari mengalirkan darah (menyembelih qurban). Sesungguhnya korbannya itu di hari kiamat akan datang menyertai bani adam dengan tanduk-tanduknya, bulunya dan kuku-kukunya. Dan darah qurban tersebut akan menetes di suatu tempat (yang diridlai) Allah sebelum menetes ke bumi, maka relakanlah korban itu ” (HR at-Tirmidzi).

Hadis ini Dla’if,
Hadis ini diriwayatkan oleh at-tirmidzi di dalam kitab Sunannya, al-hakim di dalam kitab al-Mustadrak, dan al-baghawi di dalam syarh as-Sunnah. At-Tirmidzi menyatakan hasan, al-Hakim menyatakan shahih, tetapi al-baghawi menyatakan dla’if. Sebab di dalam snaad tersebut ada Abu Mutsanna Sulaiman bin Yazid, dan dia dipertanyakan ketsiqahannya

Lihat dalam kitab al-‘Ilal al-Mutanahiyah karangan Ibnu al-Jauzi (II:569, hadis no 936), ‘Ilal at-Tirmidzi al-Kabir, karangan at-Tirmidzi (II:638), al-Majruhin, Ibnu Hibban (III:851), lihat lihat catatan adz-Dzahabi di dalam al-Mustadrak karangan al-Hakim (IV:221), dan juga lihat silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah, karya al-Albani, hadis nomor 526

Hadis kedua

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ قَالَ سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ قَالُوا فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ قَالُوا فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنْ الصُّوفِ حَسَنَةٌ

Wahai Rasulullah, apakah kurban ini? Beliau menjawab, “Sunnah nenek moyangmu Nabi Ibrahim as”. Mereka bertanya lagi, “Lalu apa yang kami dapatkan dari korban itu?” Beliau menjawab, “Pada setiap bulu ada satu kebaikan” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana dengan suf, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “setiap rambut di dalam suf ada satu kebaikan”

Hadis ini Maudlu’
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-hakim. Di dalam sanad hadis tersebut ada Aidzillah bin Abdullah bin Mujassi’, dia tergolongsalah seorang pemalsu hadis.

Lihat dalam kitab Dzakhiratu al-Huffadz karya al-Qaisarani, hadis nomor 3835. Kitab adl-Dlu’afa’ karya Ibnu Hibban, (III:55), kitab Misbah az-Zujajah, karangan al-Bushairi (III:223), dan Silsilah al-Ahadits adl-Dla’fah wal-Maudlu’ah, karya al-Albani, nomor 527

Hadis ketiga

يَا فَاطِمَةُ قُوْمِيْ إِلَى أُضْحِيَّتِكِ فَاشْهِدِيْهَا فَإِنَّهُ يَغْفِرُ لَكِ عِنْدَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْ دَمِهَا كُلَّ ذَنْبٍ عَمِلْتِيْهِ وَقُوْلِي : إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ » قَالَ عِمْرَانُ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، هَذَا لَكَ وَلِأَهْلِ بَيْتِكَ خَاصَّةً فَأَهْلِ ذَاكَ أَنْتُمْ أَمْ لِلْمسْلِمِيْنَ عَامَّةً ؟ قَالَ : « لاَ بَلْ لِلْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً »

Wahai Fathimah, bangkitlah dan saksikanlah hewan korbanmu karena sesungguhnya Dia mengampuni selluruh dosamu ketika tetesan korban yang darah pertama dan bacalah, inna shalati wa nusuki wa mahyaya lillahi rabbil ‘alamin, laa syarika lah wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin. Amran berkata, aku bertanya, wahai rasulullah, “Ini khusus untukmu dan keluargamu, sehingga yang berhak mendapatkan itu Antum atau untuk seluruh kaum muslimin?” beliau menjawab, “Tidak, tetapi untuk seluruh kaum muslimin secara umum”

Hadis ini Munkar
Telah disebutkan oleh al-Hakim, dan di dalam sanadnya terdapat Abu Hamzah ats-Tsamali, dia seorang rawi yang sangat dla’if.

Hadis keempat

يَا فَاطِمَةُ قُوْمِيْ إِلَى أُضْحِيَّتِكِ فَاشْهِدِيْهَا فَإِنَّ لَكِ بِكُلِّ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْ دَمِهَا أَنْ يَغْفِرَ لَكِ مَا سَلَفَ مِنْ ذُنُوْبِكِ قَالَتْ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَلَنَا خَاصَّةً آلُ الْبَيْتِ أَوْ لَنَا وَ لِلْمُسْلِمِيْنَ قَالَ بَلْ لَنَا وَ لِلْمُسْلِمِيْنَ

Wahai fathimah, bangkitlah dan saksikanlah bnatang korbanmu, maka sesungguhnya bagimu, setiap teteran darah yang menetes Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu. Dia berkata, “untuk kami, khusus keluarga atau untuk kami dan kaum muslimin? Beliau menjawab, tetapi untuk kita dan kaum muslimin

Dla’if
Hadis tersebut di sebutkan oleh al-Bazzar di dalam musnadnya. Di dalam sanad hadis tersebut ada ‘Athiyyah bin Qais, oleh adz-Dzahabi dia dinilai meragukan.

Lihat kitab al-‘Ilal, Ibnu Abi Hatim (II:38-39), Majma’ az-Zawaid, al-Haitsami (IV:17), at-targhib wa at-Tarhib, al-Mundziri (II:99), adl-Dliu’afa’ al-Kabir, al-‘Uqaili (II:38), Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah, al-Albani, no 528

Hadis kelima

عَظِّمُوْا ضَحَايَاكمْ فَإِنَّهَا عَلَى الصِّرَاطِ مَطَايَاكُمْ
Agungkanlah korban kalian, karena sesungguhnya binatang korban itu tunggangan di atas titian shirat

Hadis Dla’if
Disebutkan di dalam Musnad al-Firdaus, dari Ibnu Mubarak dari Yahya bin Ubaidillah bin Mauhab sampai kepada Abu Hurairah. Yahya bin Ubaidillah ini dla’if.

Lihat kitab asy-Syadzrah fi al-Ahadits al-Masyhurah, Ibnu Thulun (I:96), al-Musytahir min al-hadis al-Maudlu’ wa adl-Dla’if, al-Jabari (I:197), Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah, al-Albani (I:173), Kasyf al-Khafa’, al-Ajluni, no 1794

Hadis keenam

مَنْ ضَحَّى طَيِّبَةً بِهَا نَفْسَهُ مُحْتَسِبًا لِإُضْحِيَّتِهِ كَانَتْ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ

Barangsiapa yang berkorban dengan penuh kerelaan hati dan dengan mengharapkan ridlaNya melalui korbannya itu, maka binatang korbannya itu akan menjadi hijab dari api neraka

Hadil palsu (maudlu’)

Lihat Majma’ az-Zawaid, al-Haitsami (4:17), Khulashah al-badr al-Mizan, Ibnu al-Mulqin (II:386), Nail al-Awthar, asy-Syaukani (V:196) silsilah al-Ahadits adl-dla’ifah, al-Albani, nomor: 529.

Hadis ketujuh

إِنَّ اللَّهَ يُعْتِقُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْ الضَّحِيَّةِ عُضْوًا مِنْ الْمُضَحِّي

Sesungguhnya Allah membebaskan setiap anggota badan binatang korban dari orang yang berkorban

Hadis yang tidak ada asalnya (Palsu)
Lihat kitab talkhish al-Habir, al-Hafidz Ibnu hajar (IV:252), Khulashat al-badr al-Munir, Ibnu Mulqin (II:386)

Hadis Kedelapan

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضَحُّوْا وَ احْتَسِبُوْا بِدِمَائِهَا فَإِنَّ الدَّمَ وَ إِنْ وَقَعَ فِي اْلأَرْضِ فَإِنَّهُ يَقَعُ فِي حِرْزِ اللهِ

Wahai manusia, berkorbanlah dan carilah pahala dengan darah korban, karena sesungguhnya darahnya meskipun tertumpah di tanah, sesungguhnya ia tertumpah di penjagaan Allah

Hadis Maudlu’
Hadis ini disebutkan di dalam kitab al-Mu’jam al-Ausath ole hath-Thabrani, dan di dalam sanadnya terdapat Amr bin Hushain al-‘Uqaili. Rawi tersebut tidak diterima periwayatannya oleh jumhur ulama’

Lihat al-Mu’jam al-Ausath, Thabrani (VIII:176), Mizan al-I’tidal, adz-Dzahabi (IV:205) dan Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah, al-Albani hadis nomor 530

Hadis kesembilan

مَا أُنْفِقَتِ الْوَرِقُ فِيْ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ نَحِيْرَةٍ فِيْ يَوْمِ الْعِيْدِ

Tidaklah perak itu dinahkahkan untuk sesuatu yang lebih utama daripada menyembelih binatang pada hari Id Adha

Hadis Dla’if jiddan (Sangat Dla’if)
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam al-Majruhin, dan ath-Thabrani, Di dalam sanadnya ada Ibrahim bin Yazid, yang dinilai dla’if oleh para ulama’ hadis.

Lihat kitab al-Kamil fi ad-Dlu’afa’ min ar-Rijal, Ibnu Adi (I:228), al-Majruhin, Ibnu Hibban (I:101) Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah, al-Albani nomor 524.

Hadis kesepuluh

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ فِي هَذَا الْيَوْمِ أَفْضَلُ مِنْ دَمٍ يُهْرَاقُ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ رَحْمًا مَقْطُوْعَةً تُوْصَلُ

Tidaklah seorang anak adam melakukan suatu amal pada hari ini yang lebih utama dari darah yang ditumpahkan, melainkan menyambung kasih saying yang terputus

Hadis Dla’if

Hadis ini disebutkan ole hath-Thabrani di dalam kitab Mu’jam al-Kabir. Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Yahya bin al-Hasan al-Khasyni. Rawi ini termasuk lemah (dla’if)

Lihat Kitab Mu’jam al-Kabir, ath-Thabrani (XI:32), Bisa juga ditemukan di dalam Musalsal bidl-Dlu’afa’, dan juga at-tamhid, Ibnu Abdul barr (XXIII:192), dan juga Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah, Al-Albani, nomor 525

PENUTUP
Inilah hadis-hadits tentang keutamaan qurban yang tidak shahih. Kami ungkapkan sebagai nasihat kepada sesame kaum muslimin.

Dengan adanya hadis dla’if ini, bukan berarti kita boleh lemah dan tidak bersemangat dalam menghidupkan syi’ar islam. Cukup bagi kita meyakini bahwa Qurban adalah syi’ar Islam yang telah disyari’atkan Allah, sehingga layak untuk diagungkan. Orang yang mengagungkan syi’ar Allah, termasuk qurban, merupakan cerminan orang yang memiliki ketaqwaan di dalam hati. Maka dalam mengagungkan harus senantiasa menjaga dan meneladani sunnah Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam. Disebutkan di dalam riwayat bahwa beliau berkorban dengan domba yang bertanduk bagus (Muttafaq ‘alaih)